Langkah Pertama Najmi

img1456281767897.jpg

Hari ini, tepat Najmi berusia 20 bulan 3 hari. Hal yang tak terduga dan ditunggu-tunggu selama ini terjadi begitu saja. Ya… Najmi berjalan –sendiri dan lama– untuk pertamakalinya… Ya Allah… semua rasa bercampur aduk menjadi satu. Ada bahagia… ada haru… ada syukur…
Bagi sebagian orang, mungkin ini milestones yang telat… tapi bagi kami ini adalah pencapaian yang LUAR BIASA!! Sebagai bayi yang memiliki riwayat hiperbiliribun tinggi… apa yang dicapai Najmi saat ini adalah keajaiban bagi kami… Setiap hari adalah hari yang mendebarkan, menanti perkembangannya dan prestasinya mencapai satu demi satu milestone yang harus sudah dicapai bayi seusianya… Bagi mommies di luar sana, yang memiliki bayi dengan riwayat hiperbilirubin… jangan patah semangat ya… Terus berdoa… terus berusaha… Berikut sekelumit riwayat perjuangan saya bersama Najmi.

1 Bulan
Usia 7 hari (3 hari setelah pulang ke rumah), Najmi cek kesehatan. Awalnya saya sempat untuk tidak cek-up ke RS karena pada hari itu kami harus pindahan dari Slipi ke Depok. Namun Allah melangkahkan kaki saya untuk cek-up ke RS. Saat itu Najmi memang sudah tampak kuning, namun kami (saya dan ibu) mikirnya itu kuning biasa, karena wajar bagi bayi baru lahir kuning. Tapi setelah di cek ke lab… subhanallah…. Bilirubin Najmi berada di angka 31, angka yang sangat membahayakan sekali. (normalnya 9-12). Najmi harus di rawat di RS saat itu juga. Tubuh mungil itu disinari 4 lampu, jumlah terbanyak yang pernah ditangani di RS tempat Najmi di rawat.

Biasanya hanya memakai 1 atau 2 lampu saja.
Apa yang terjadi dengan Najmi? ABO incompatibility, golongan darah yang berbeda antara anak dengan ibu. (ibu bergolongan darah O dan anak bergolongan darah A atau B). Yang terjadi di sini, darah ibu lebih kuat daripada anak, yang menyebabkan sel darah merah anak pecah terus menerus . Ditambah fungsi hati yang belum maksimal, menjadikan imunitas anak menurun dan akhir kadar bilirubinnya meningkat dengan cepat. Bagi mommies bergolongan darah O dan suami A atau B, ada baiknya sejak hamil dikomunikasikan dengan dokternya. Setelah melahirkan juga jangan buru-buru langsung pulang, extend saja 2-3 hari untuk memantau kondisi bayi.
Semalaman Najmi di sinar, memasuki hari ke dua pihak RS menginformasikan Najmi harus tukar darah (di tranfusikan darah O agar sesuai dengan darah ibunya), karena bilirubinnya tidak turun-turun. Malam itu juga kami bersegera ke PMI, dari 2 kantong darah O titer rendah yang kami butuhkan, cuma ada 1 stok nya di RS. Itu pun sudah berusia 2 hari, dimana untuk bayi disarankan yang masih segar. Kami disarankan untuk mendatangkan donor sebanyak-banyaknya, karena golongan darah O titer rendah sangatlah langka. Dari 10 donor, belum tentu ada 1 orang yang bergolongan darah O titer rendah. Dan pertolongan dari Allah itu ada saja… satu per satu kenalan bahkan orang-orang yang tidak dikenal datang mendonorkan darahnya. Ada satu keluarga yang datang dengan membopong keluarganya sebanyak satu mobil untuk mendonorkan darah. Teman-teman yang bela-bela-in ke PMI pusat untuk mendonorkan darah. Teman-teman yang punya relasi menghubungi rekannya yang ketua PMI… ada banyak pertolongan… tak terhitung. Setelah melewati drama panjang (ceritanya saya keukeuh mau tidur di PMI aja, kekekeke), Alhamdulillah… keesokan paginya kami dapat membopong 2 kantong darah yang dibutuhkan Najmi… Ya Allah…. Dan Alhamdulillah, setelah tukar darah, birirubin Najmi turun drastic menjadi 17 dan kemudian 13 lalu 10… Setelah dirawat selama 1 minggu, Najmi akhirnya boleh pulang.

Namun… semua belum berakhir di sana. 3 hari setelah keluar dari RS, Najmi harus cek-up kebagian neurologi. Di sini dokter menyampaikan kemungkinan buruk apa saja yang mungkin terjadi pada bayi dengan riwayat sakit seperti Najmi. Tuli, Buta dan cacat otak, itu adalah kemungkinan terburuk yang dapat menimpa bayi beriwayat hiperbilirubin. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan seorang ibu mendengar semua kemungkinan buruk itu? Ya… walau itu belum tentu terjadi, tapi membayangkannya saja… bisa membuat para ibu malas makan dan pengen nangis-nangis mulu. Cek hari itu menunjukkan Najmi baik-baik saja, namun ada sedikit masalah dengan pendengarannya. Tapi bisa saja itu karena akurasi alat yang tidak maksimal. Perlu cek ulang saat Najmi berusia 6 bulan. Sejak saat itu, setiap hari… kami bacakan Al-Quran di telinga Najmi yang “refer” tersebut, dengan harapan keajaibannya mampu menggugah sel-sel pendengaran Najmi.

3 Bulan
Milestone penting bagi bayi usia ini adalah kemampuan untuk tengkurap. Najmi sama sekali belum bisa. Kalau ditengkurapkan, Najmi masih kesulitan mengangkat kepalanya. Namun kami tidak mau menyerah. Hampir setiap malam saya mencari referensi di artikel dan video youtube untuk mengasah kemampuan tengkurap Najmi dan Alhamdulillah… saat menjelang usia 4 bulan Najmi sudah bisa tengkurap sendiri! Dan tulang lehernya juga semakin kuat. Setiap hari Najmi berenang dan dipijat oleh Bunda 

Di usia ini Najmi juga sudah bisa bubling, jadi kami harap, masalah dengan tes pendengaran dulu hanya masalah alat saja. Najmi juga bisa mengikuti arah benda dengan bola matanya, kami berpositif thinking bahwa matanya baik-baik saja.

6 Bulan
Pada usia ini, bayi-bayi biasanya sudah bisa duduk sendiri, namun Najmi belum bisa. Tapi dia sudah bisa didudukkan dengan cara bersender. Beberapa bayi juga biasanya sudah mulai merangkak, Najmi bisa ngesot, hehehe…
Pada usia ini kami konsultasi ke dokter tumbuh kembang, dokter bilang Najmi baik-baik saja. Badannya lentur, ototnya tidak lunak juga tidak kaku. Haah… leganyaaa… rasanya senang sekali sekembalinya dari konsultasi tumbuh kembang, sejak itu rasa khawatir yang memuncak mulai berkurang. Kami yakin… Najmi akan baik-baik saja.

8 bulan
Alhamdulillah… Najmi sudah bisa duduk sendiri  Sudah mulai belajar makan sendiri juga. Kecerdasan sosial dan kemampuan motorik halusnya tidak ada masalah, hanya motorik kasarnya saja agak telat, namun masih dalam batas wajar.

10 bulan
Najmi belum ada kecendrungan untuk merambat, dia malah asik merangkak (sebelumnya hanya bisa ngesot😀 ) . Banyak yang bilang, tidak semua bayi harus melewati fase merangkak atau kalau sudah ngesot biasanya langsung berdiri dan jalan. Kami tidak ambil pusing, selama Najmi menunjukkan progress dalam tumbuh kembangnya.

12 bulan
Kebanyakan bayi sudah memulai langkah pertamanya di usia ini. Najmi belum… dia masih berlatih untuk berdiri dan baru akan memulai untuk merambat. Lagi-lagi kami tidak khawatir, karena batas normal/aman usia bisa berjalan adalah usia 18 bulan. Masih ada waktu… kami terus membersamai dan melatih Najmi.

15 bulan
Usia standard bagi bayi-bayi untuk berjalan, kami kira Najmi akan berjalan di usia ini. Kenyataannya? Tidak… dia masih merangkak dan manjat kesana-kemari. Memanjat hobi barunya. Suka di titah kesana-kemari, bahkan sambil main bola.

16 bulan
Mulai belajar berdiri dan melepaskan sendiri, sudah bisa berjalan 1-2 langkah. Alhamdulillah… kami yakin Najmi PASTI bisa berjalan. Hanya saja, Najmi belum bisa untuk bangkit sendiri dari posisi jongkok ke berdiri. Secara tahapannya, jika Najmi bisa melalui fase ini maka dia akan bisa berjalan sendiri. Hopefully…

17 bulan
Tidak ada perkembangan berarti, Najmi malah tampak takut untuk berjalan sendiri. Saya bahkan sampai curiga, apa Najmi flatfeet? Tapi setelah saya uji coba dengan finger painting dan mencetak jejak telapak kakinya, its okay, normal, tidak flat sama sekali. Apakah ini hanya masalah waktu? Honestly, saya mulai tidak sabar  Saking nggak sabarnya, saya tidak lagi mengizinkan Najmi merangkak. Setiap dia hendak berpindah, selalu saya ulurkan tangan, mengajaknya berjalan bersama.

18 bulan
Tadinya saya beranggapan, tepat 16 Desember 2015 (tepat saat Najmi berusia 18 bulan), dia akan tiba-tiba bangun dan berjalan sendiri. Realitanya? TIDAK T,T Dia masih saja merangkak. Hiks… Saya pun tetap melarangnya merangkak. Setiap dia mau merangkak, saya suruh jalan. Kali ini, dengan di pegang oleh satu tangan saja. Well… she is improved! Dia bisa berjalan dengan cepat walau hanya dipegangi satu tangan. Dan mulai sejak itu saya yakin, dia akan berjalan pada waktunya. She just need a little more time 

19 Bulan
Najmi sudah bisa berdiri sendiri dari posisi jongkok, tapi masih belum jalan  Entahlah… takut sepertinya. Teman saya yang anaknya baru bisa berjalan di usia 2 tahun menyarankan saya untuk membawa Najmi berjalan di atas rumput (I did actually, since she was 1 year old  ). Semua saran-saran yang logis telah saya lakukan. Hingga suatu hari, saat mengikuti pengajian di mana banyak anak seusianya bermain dan berjalan sendiri, Najmi tampak ingin bergabung dengan mereka. Dia bangkit dari pangkuan saya dan berjalan ke arah teman-temannya. See… she could walk!!! Se sampainya di rumah, saya memotivasi Najmi untuk kembali berjalan and she did! Tapi… kebahagiaan saya berakhir sampai di situ saja, keesokan harinya dia masih merangkak. Setiap saya motivasi untuk berjalan, dia hanya diam di tempat saja, hiikkksssss….

20 Bulan
Saya sudah habis kesabaran… suami juga. Hingga kami memutuskan untuk mencarikan day care bagi Najmi. Dengan harapan, melihat teman-temannya sebayanya berjalan dia akan termotivasi untuk berjalan, seperti kejadian di pengajian. Setiap malam juga kami stelkan video bayi latihan berjalan, dengan harapan masuk ke alam bawah sadarnya dan untung-untung dicoba keesokan harinya😀 Hingga tepat di usianya 20 bulan, 3 hari, pagi itu kami sarapan bubur di depan komplek. Ada bapak-bapak penjual mainan miniature andong yang di dorong dengan tongkat kayu. Saya ingat, Najmi waktu itu mampu berjalan sendiri saat memainkan mainan tersebut saat ada di rumah sepupunya (mungkin dia mengira tongkat tersebut menahan dirinya agar tidak jatuh, padahal tidak ). Langsung saya suruh suami belikan dan memainkannya sesampainya kami di rumah. Daaan… benar saja… dia berjalan dengan sendirinya! Saat mainan di ambil, dia bisa keliling rumah tanpa bantuan apapun. Dan semenjak itu…. Najmi resmi meninggalkan dunia merangkaknya. Dia sudah berjalan! Cepat… dan lama…. Tidak pakai adegan jatuh-jatuh seperti bayi pada umumnya yang belajar jalan. Haaah… ternyata dia kurang PD saja selama ini. Maaf ya nak, Bunda kurang sensitif orangnya 
***
So… buat mommies yang bayinya belum bisa berjalan… jangan panik! Selama anak menunjukkan progress, terus semangati dan di stimulasi. Harus sabaaaar dan jangan terlalu menunjukan obsesi kita kepada anak, karena bisa-bisa mereka jadi stress. Karena di salah satu artikel yang saya baca, kemampuan berjalan juga erat kaitannya dengan kematangan saraf si anak. Jadi jika sudah masanya, dia akan berjalan dengan sendirinya kok🙂 Hanya saja, kita saja yang suka gatel dengar komen orang-orang sekitar, jadi ada kekhawatiran berlebihan saat anak belum bisa jalan🙂
Catatan lainnya, bagi bayinya yang milestone awalnya telat, biasanya milestone berikutnya (termasuk jalan) juga telat. Jadi, jangan berpikiran macam-macam dulu. Tetap konsultasikan dengan dokter dan pantau terus perkembangan anak ^_^

Jodoh Tak Akan Kemana

o-heart-facebook

Pagi tadi seorang teman menghubungi saya bahwa dia akan mengakhiri masa lajangnya dalam waktu dekat. HAH? Saya kaget donk, secara hanya dalam hitungan beberapa hari ke depan.

“Kok baru kasih tau???”, tanya saya rada-rada gemes gimana gitu… Karena walau belum tentu bisa hadir, saya pasti akan prioritaskan untuk hadir ke acara pernikahannya.

“Iya… ini juga mendadak.” Phew… betul-betul mendadak… persiapannya nggak lebih dari 2 minggu. Wuih… keren ya… saya yang persiapannya cuma 2 bulan saja sudah kotar-katir, apalagi ini, 2 minggu🙂

Otomatis pikiran saya melayang, kemasa-masa kami masih single. Ajieh… Teman saya ini, tipe orang yang akan sangat mudah sekali menemukan pasangan hidup. Sambil tutup mata saja, dia bisa nunjuk orang untuk dijadikan pasangan hidupnya, wekekeke. Dijaminlah, nggak ada yang nolak. Tampang oke, pendidikan oke, pekerjaan mapan, ibadah juga bagus. Kenyataannya? Saya yang jauhlah dibanding dia lebih dahulu menikah.

Selalu aja ada jawabannya ketika saya tanyakan,”What are you waiting for?”. Mau ngumpulin duit dulu lah, mau cari yang sesuai permintaan ibunyalah, mau fokus kerja dululah, inilah,itulah, banyak lah-lah-lah lainnya. Sangking banyaknya, seseorang  yang dekat kala itu dengannya memutuskan untuk menikah dengan orang lain, karena tidak tahu sampai kapan akan mendapat kepastian🙂

Time flies, dia masih menikmati status jomblo galaunya. Hingga berita itu datang… I am so happy… akhirnya, masa itu datang juga. Padahal baru beberapa waktu yang lalu kepikiran mau minta tolong teman untuk mencarikan jodoh untuknya😛 Ketika jodoh itu sudah di depan mata, benar saja, semua Allah mudahkan ya… Buktinya semua penghalang dan alasan seolah-olah menguap dan keputusan di buat sedemikian cepat.Aah…. bahagianya🙂 MasyaAllah… MasyaAllah…. ingin rasanya menguraikan komplit ceritanya di sini. Tapi nanti saja, kalau mereka sudah resmi menjadi suami istri, biar bisa sekalian majang foto kerennya😀

Walau, di sisi lain ada satu hati yang terluka. Hiks… dan diapun saya sahabat baik saya… weleh, jadi kayak novel gini ceritanya🙂

Melejitkan Kemampuan Berbahasa Bayi 18-24 Bulan

Alhamdulillah, 16 Desember 2015 yang lalu Najmi tepat berusia 18 bulan. Usia yang saya tunggu-tunggu, karena pada usia ini anak mulai cerewet, mulai muncul kemampuan berbahasanya.

Sejak usia 3 bulan bayi biasanya sudah mulai ber-bubling ria dan terus berkembang hingga puncaknya usia 18-24 bulan bayi sudah bisa berkomunikasi dengan bahasa yang sederhana (2 kata).

Najmi sejauh ini sudah bisa mengekspresikan perasaan dan keinginannya, walau mayoritas masih menggunakan bahasa isyarat. Tunjuk sana tunjuk sini dengan sedikit bantuan kata. Misalkan tunjuk piring kosong dengan kata “gi..gi…”, artinya lagi. Sedikit histeris dan berkata “gi..gi…”, maksudnya mengusir kucing pergi, hehehe. Kalau ditanya mau ini atau tidak dia akan angguk-angguk kepala sambil bilang “mau.. mau.. ” atau “ya..ya…”. Kalau nggak mau akan teriak kenceng bilang “ngaaak”, aiishh… biasa aja napa dek😛 Sudah mengerti perintah-perintah sederhana.

Najmi sepertinya tipe anak yang yang suka menginternalisasi kata-kata yang dia pelajari. Jadi… setiap kata yang kita ucapkan, dia akan mendengarkan baik-baik dan mencoba menangkap makna nya. Dia tidak terlalu lihai untuk mengulang, namun dia paham. Kayaknya dia ala-ala mesin diesel seperti saya😀 Panasnya agak lama, giliran udah panas, wuuuiiiihhh…. lihat aja😛

Nah… apa saja yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa bayi seusia Najmi? Berikut hasil contekan saya dari http://www.parents.com

a. Bacakan buku untuk anak

Baca..baca… dan baca terus… semakin banyak orang tua membaca untuk anak, semakin banyak kata yang dipelajarinya. Najmi rutin saya bacakan buku sejak dia baru lahir. Maklum, Najmi punya riwayat jaudience tinggi, yang salah satu akibatnya bisa kehilangan pendengaran. Sebagai emak-emak parno, saya selalu membcakan buku or al quran untuk Najmi setiap harinya. Alhamdulillah.. she is fine🙂 Dan sekarang suka banget sama buku🙂

b. Semangati anak untuk menceritakan sebuah cerita

Biarkan anak membalik buku yang sedang dibaca, dan mereka akan menceritakan cerita yang sederhana. Mungkin saja hanya dengan berkata “moo…” saat melihat sapi, “kkrr….krrr….” saat melihat ayam (ini Najmi banget :p). Hal sederhana ini akan menjadi langkah awal untuk berkembang pesatnya kemampuan berbahasa anak

c. Kembangkan percakapan cerdas!

Berbicara dengan anak-anak seolah-olah mereka orang yang paham dan cerdas (indeed they are). Tanya pendapatnya apakah suka atau tidak, dan ulangi apa responnya. Jika anak menjawab dengan gestur, coba bahasakan gestur tersebut.

d. Gunakan bahasa yang lengkap, baik dan benar

Banyak orang tua yang ikut-ikutan bahasa anak-anak yang terkadang cadel. Iya sih terdengar lucu dan menggemaskan, namun jika ortu ikut-ikutan seperti anak-anak maka bahasa anak tidak akan berkembang dengan baik.

e. Latihan menggunakan telpon

Bayi akan meniru apa yang orang tua lakukan. Biasanya bayi sering melihat orang tua bercakap-cakap di telpon. Lakukan role play yang sama, ini akan memacu bayi untuk berbicara. Bayi bisa menirukan ,”halo..”, “bye-bye…”.

f. Bernyanyi bersama anak

Anak akan sangat excited begitu menyadari mereka bisa beberapa kata. Ini akan memacu mereka untuk berkata-kata lebih banyak lagi.

g. Banyak bermain bersama anak

Bermain bersama anak otomatis akan memacu kemampuan berbahasa anak, karena akan ada interaksi dan komunikasi ortu dan anak, perintah kerja dan sebagainya.

Hm… demikian yah ringkasannya. Semogra bermanfaat bagi saya dan yang terjebak ditulisan ini🙂

Menghadapi GTM (Part 2)

Menyambung tulisan sebelumnya di sini, tentang bagaimana mengadapi anak tutup mulut alias GTM alias kaga mau makan. Bulan ini Najmi memasuki usianya yang ke 17 bulan (oh.. that fast…), alhamdulillah saya belum pernah menghadapi GTM yang berarti. Paling dia nolak makan siang, lalu malamnya makan dengan kalap. Atau makan malam rada malas-malasa, giliran bangun tidur yang dicari langsung makanan. So… I am not so worry about her. Dan terus terang, saya sangat bahagia dengan pencapaian ini. Karena katanya, memasuki usia 1 tahun itu usia kritis yang membuat banyak Emak di dunia ini frustasi karena GTM si baby imut. Dan… teman-teman saya banyak yang mengalami ini. Bahkan, seorang kerabat dekat, anaknya sudah berbulan-bulan GTM. OMG…. kebayang stresnya. Saya kalau Najmi lagi males-malesan makan aja sudah stres, bagaimana dia yang anaknya berbulan-bulan malas makan? Sampai anaknya menderita muntaber, kekurangan zat besi (hingga harus di terapi beberapa bulan) dan pada akhirnya nyerah ke minyak ikan (oh no mommies… ). Ya… di Indonesia bayi klo nggak ndut kan nggak lucu. Jadi emak nyekokin minyak ikan tiap hari agar si baby tetap terlihat chubby. Poor baby….

Dari pengalaman curhatan teman-teman dan membandingkan dengan apa yang saya (dan emak2 anak mau makan) lainnya, berikut poin berharga yang harus benar-benar dipahami dalam memberikan investasi.

a. Mulai MPASI tepat waktu, saat anak berusia 180 hari (atau 6 bulan). Nggak kurang… nggak lebih. Rekan2 saya yang memberikan MPASI dini pada anaknya, cenderung memiliki anak yang bermaslah makannya.

b. NO GULGAR penting banget ini moms… Karena gula dan garam akan merusak citarasa/sensor di lidah anak. Mereka anya mengenal dua rasa, kalau nggak manis ya asin dan cenderung akan menyukai salah satunya saja (biasanya sih manis ya). Apalagi kalau pakai MSG.. NOOO…. BIG NOOO….

Ortu saya termasuk yang keukeuh untuk kasi sedikit gula dan garam ke masakan Najmi, saat dia berusia dibawah 1 tahun. Saya dengan keukeuh menolak. Melihat bagaimana Najmi makan saat ini, mereka takjub… karena anak seusia Najmi biasanya susah makannya. begitu saya jelaskan hal tsb karena dengan menunda pemberian gula dan garam, mereka jadi manggut-manggut. Sepertinya adik Najmi nanti tidak akan mengalami perjuangan sengit terhadap gulgar ini, hehehe.

3. Disiplin dalam pemberian makan. Ya, dsiplin ini perlu, mulai dari jadwal pemberian makan dan caranya. Banyak ibu-ibu muda yang menurutnya sayang anak, saat anak tidak mau makan mengajaknya makan sambil jalan-jalan keluar. NO! Ini akan jadi bumerang besar kedepannya bagi ibu dan anak. Anak akan terbiasa makan sambil bermain dan susah dikondisikan untuk makan. Banyak ibu memutuskan untuk “berkorban” asalkan anaknya mau makan. Padahal ini kesalahan dan merugikan ibu dan anak kedepannya.

Sediakan kursi khusus untuk anak (sy pakai toddler seat), ada yang bilang mahal. Padahal menurut saya tidak loh… harganya 400 rb an, bisa dipakai sampai usia 4 tahun (dalam artian perbulan cuma keluar 9 rbu kok) dan bisa diwariskan juga buat adik-adiknya. So.. sepertinya tidak mahal yaa… Dan dibandingkan manfaatnya… saya rasa ini investasi yang pantas. Jika memang benar-benar tidak bisa, at least kondisikan anak pada lokasi yang tetap sehingga mereka punya memori dan membangun kesadaran bahwa ini, waktunya makan.

4. Jangan paksa anak untuk makan. Banyak ortu yang memaksa anaknya untuk makan, saya pun pernah melakukan kesalahan itu. Habis bagaimana… gemes yaa liat anak nggak mau makan. Kita udah capek-capek masak eh… di lepeh-lepeh. Apalagi Najmi tipe anak berbadan kecil, orang yang belum pernah lihat dia makan mesti bilang dia malas makan dan emaknya nggak telaten kasih makan. fyyuuuh…. macam situ sudah bener saja ngurus anak T-T Jadi kalau ingat ini, emak jadi berambisi bikin gemuk Najmi, hehehe. Untungnya saya cepat sadar atas kekhilafan saya. Biarkan anjing menggonggong…. kafilah tetap berlalu. Jangan paksa anak… karena kalau sudah lapar dia akan makan sendiri. Dari pada kita paksa makan dan seterusnya anak trauma makan dan benar-benar tutup mulut? Saya melihat sendiri kejadian ini di depan mata saya, bagaimana peristiwa makan adalah sebuah drama bagi ibu dan anak. Sudah lebih dari tiga bulan berlangsung, dan entah kapan drama tersebut berakhir. Masalahnya sepele… si ibu memaksa anak makan dan suka membohongi anak saat memberi makan. Akibatnya? Anak 100% tutup mulut. Hingga sekarang si anak kalau makan di emut (silahkan search tentang anak yang makannya di emut, sebagian besar masalah ini di picu beban psikologis yang berawal dari pemaksaan makan) dan jarang habis makannya.

5. Berikan kepercayaan pada anak. Dengan alasan tidak mau rumah kotor dan berantakan, banyak ibu yang tidak mempercayakan proses makan kepada si anak. Padahal, anak memasuki usia 1 tahun sangat ingin mencoba dan melakukan banyak hal sendiri, termasuk makan. Kenapa tidak biarkan mereka mencobanya sendiri? Ini akan menjadi sensasi tersendiri bagi mereka dan disisi lain, mereka jadi semangat makan. Najmi mulai saya kasih kesempatan makan sendiri sejak usia 8 bulan, karena pada usia ini dia baru bisa duduk sendiri dengan kokoh. Tapi ini masih saya suapkan makan, Najmi hanya saya beri finger food buat latihan. Memasuki usia 10 bulan, Najmi saya beri kesempatan makan sendiri pakai tangan, nanti kalau tidak habis sisanya saya suapkan. Usia 12 bulan Najmi sudah bisa makan sendiri donk🙂 Tidak perlu lagi disuapi. Usia 15 bulan, mulai saya ajarkan pakai sendok dan sekarang… sudah mahir makan pakai sendok ^_^. Najmi sudah mandiri untuk urusan makan, tidak perlu ditunggui apalagi dipaksa-paksa untuk makan, juga tidak ada adegan kejar-kejaran.

Awalnya, kemadirian Najmi bisa makan sendiri di usia 1 tahun ini merupakan hal yang biasa bagi saya. Karena banyak teman-teman saya yang mandiri seperti itu anaknya. Hingga suatu hari, seorang teman dengan bahagia bercerita di FB tentang anaknya yang berusia 3 tahun akhirnya sudah bisa makan sendiri. Di Indonesia, disuapi sampai usia TK itu hal yang biasa. Jadi Najmi bisa makan mandiri di usia 1 tahun adalah sebuah prestasi! Najmi hebat!!🙂 Sekarang lagi latihan mandi sendiri ^_^

6. Be creative, Moms…  mau tidak mau… demi nutrisi anak, seorang ibu harus kreatif. Mulai dari mengolah menu hingga keurusan plating. Namanya anak-anak, benda-benda yang lucu dan warna-warni akan menarik perhatian mereka. Maka… tidak ada salahnya Ibu mencoba untuk berkreasi dalam penyajian makanannya. Yang sederhana saja, namun menarik. Apalagi fasilitas sudah banyak saat ini, media referensi juga berjibun dimana-mana. Jangan malas Mommies! Karena makanan adalah nutrisi penting bagi anak kita, investasi jangka panjang!

Kembali ke kisah teman yang anaknya GTM parah hingga berbulan-bulan tersebut, terus terang saya penasaran mengapa anaknya tidak mau makan? Selain karena makan sering di paksa, tidak disiplin… hal lainnya adala menu makannya monoton! Siang itu, saat kami bertemu, di piring si anak hanya ada nasi putih dan tau goreng. Apa? Saya yang dewasa saja tidak tertarik untuk memakannya, apalagi anak kecil. Nasi dan tahu tersebut hanya di kotek-kotek oleh ibunya, namun tidak ada yang berhasil masuk ke mulut si anak. Anehnya, saat Najmi sedang makan pakai ayam goreng, anaknya mau ikut makan. Padahal sebelumnya tidak pernah suka ayam (kata ibunya. masak sih? jangan2 itu hanya anggapan ibunya). Buktinya… anaknya lahap banget makan pakai ayam.

Setelah menganalisa si anak selama beberapa hari *hahaha macam detektif saja :P* , saya cobakan sebuah trik yang banyak saya baca di artikel-artikel keseatan tentang menangani anak GTM. Yakni… menyajikan makanan yang menarik. Saat itu saya sedang menyiapkan sarapan buat Najmi, saya buat dua satu untuk Najmi, satu untuk si anak. Menunya sederhana saja, oatmeal+pisang+keju+coklat. Namun saya sajikan dengan bentuk paman kribo (ada mata dan mulut dr keju, lalu parutan keju dijadikan rambut kribonya). Alhasil? Si anak makan dengan lahap!! Habis.. sarapannya. Siangnya, karena masih penasaran dan barangkali peristiwa sarapan tadi hanya faktor kebetulan, saya buatkan nasi goreng teddy berselimut. Apa yang terjadi? Si anak yang sedang menyusu meninggalkan susu nya dan beralih ke nasi goreng yang saya buat. Dia makan sendiri dan hebatnya… makanan itu habis dalam waktu cepat! Padahal biasanya kalau makan suka lama dan di emut, ini tidak sama sekali🙂 Senangnyaaa….

So Mommies, selain 6 poin di atas, hal utama yg harus dikuasai adalah pemahaman terhadap anak. Apa yang mereka sukai… cara pemberian makanan seperti apa yang menyenangkan bagi mereka… dan buatlah suasana makan yang menyenangkan.

Semoga membantu yaa🙂

Emak Galau

Hah, tidak disangka, saya akirnya sampai di titik ini juga, sebuah keadaan yang memaksa saya untuk mengambil keputusan besar, bekerja atau tidak. huhuhu…

Kalau suda keingat ini, malam-malam jadi tidak bisa tidur, seperti sekarang. Jadi aja ditulis di sini, barangkali bisa sedikit meredakan beban pikiran, hehehe.

Saya secara pribadi pengennya di rumah saja, walau saya akui kadang suka boseeen di rumah. Sudah buat jadwal aktivitas bersama Najmi tapi tetap saja mencuci-memasak-bersih2 adalah pekerjaan yang membosankan! Udah gitu bikin capek dan esmosi lagi. Esmosi? Iyaaa… karena tuh kerjaan nggak ada habis-habisnya. Aarrggghhh pusing pala berbii…. huhuhuhu

Kalau sedang di puncak kebosanan dan rasa letih, pikiran itu pasti menyulusup… kerja aja apa yah? Kalau kerja punya duit buat bayar orang untuk mengerjakan pekerjaan yang membosankan itu, nggak sutres lagi kalau Najmi berantakin rumah, nggak rush-in-hour di detik2 suami mau pulang karena harus membuat Najmi dan rumah kinclong. Punya duit sendiri buat nyalon, beli buku dan barang-barang yang diinginkan. Slurup… tampak menggiurkan. Tapi…. setiap melihat wajah imut Najmi… emang gw tega meninggalkannya seharian? Cuma bisa peluk-peluk and cium-cium pagi dan malam hari?

Kenapa tidak? Banyak ibu yang melakukannya.. dan semua baik-baik saja. Mereka tidak berubah menjadi ibu yang buruk dan tetap punya ending yang bagus dengan anaknya. Toh…. selama di rumah waktu saya juga banyak habis untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan Najmi sibuk main sendirian. Huhuhuhu…

Saya juga sebenarnya sudah mulai bisnis kecil-kecilan, but you know… terkadang saya orangnya tidak sabaran. Ngapain sih ngurus printilan kek gini kalau gw kerja gw bisa dapat penghasilan yang lebih besar? Yaa… terkadang pikiran itu muncul disaat dagangan nggak laku, hihihi. Kesannya eike matre banget ya😛

Di saat melihat teman-teman sudah sukses dengan karirnya, saya tiba-tiba merasa lost in translation gituu… I just been here, at home with belel daster dan bau keringat ketika sore karena habis olahraga masak and bersih2 rumah plus ngurusin tuh bocah. Sikuls yang yaaah as I mentioned earlier MEMBOSANKAN!

Ada surga balasannya Yuher… begitu malaikat baik membisikkan. Iya sih… taapiii…..  Saya juga udah banyak ikut kelas parenting ini, grup parenting itu, baca buku parenting ini yang rata2 isinya ibu RT seperti saya.. tapi ya gitu… It does not solve my problem yet.

Tapi… saya juga belum siap jika harus menitipkan Najmi ke daycare. Setiap saya sounding masalah ini, dia memilih untuk tidak mendengarkan, hiiks. Sempat beberapa hari tidurnya gelisah setelah saya sounding kalau habis lebaran saya akan kerja, dia akan sekolah di daycare, pagi di antar, sore di jemput…. Saya sampai ke bawa mimpi dan Najmi sepertinya juga, dan mimpi kita kayaknya conncect, gitu. Ketika saya meninggalkan Najmi di daycare (dalam mimpi ceritanya), dia nangis kejer gitu dan saya kebangun karena Najmi di sebelah saya nangis kejer seperti di mimpi itu… Nangisnya pilu banget… dan matanya masih terpejam waktu nangis itu. So I assumed, she had a nightmare. huhuhuhu….

Ah.. entahlah.. entah apa keputusan terbaik untuk ini semua. Biarlah Allah yang membantu memutuskan… Sejauh ini kehidupan perekonomian kami dengan gaji suami sudah cukup, tapi sekedar cukup saja. We need more than enough to prepare a better future for us and our children. Dan apakah… dengan saya harus turut menjadi the bread winner? Saya juga tidak mau menyesal di masa depan, untuk something so called money saya kehilangan banyak moment bersama Najmi dan adik-adiknya. Hiiikkkkssss…

Menghadapi GTM (Part 1)

GTM a.k.a  gerakan tutup mulut tampak sebagai momok yang ditakuti oleh ibu-ibu, terkhusus ibu baru seperti saya *hem*. Dan bisa dipastikan, hampir setiap bayi pasti akan melewati fase ini. Karena  ketakutan n kepastian peluang terjadi yang besar, jauh sebelum MP-ASI saya sudah mencoba membekali diri. Tanya sana-sini, baca sana-sini dan Alhamdulillah… hingga 11 bulan usia Najmi (yeay… hari ini 11 bulan euy), Najmi belum pernah mengalami GTM yang berarti. Pernah sih pernah… tapi nggak sampai bikin emak pusing tujuh keliling lah. Klo emosi mah iyaa #eh😛

Bagaimana saja trik yang saya lakukan dalam menghadapi GTM Najmi? Saya coba uraikan di sini yah, barangkali bisa jadi inspirasi bagi ibu baru lainnya😉

***

Najmi pada dasarnya anak yang doyan makan. Walau badannya kecil dan mungil, kalau makan mah, hap-hap-hap… lahaaap pisan. Apalagi kalau lihat gaya makannya sekarang, kaki di angkat satu dengan mulut penuh terisi makanan, duuuh… bikin gemeeezzzz J  Saya pun tidak pernah terobsesi dengan berat badan karena GEMUK BUKAN JAMINAN SEHAT, yang penting berat badannya berada dikurva yang seharusnya, tinggi badan dan lingkar kepala juga. Anaknya aktif dan kecerdasan verbalnya, MasyaAllah… bikin kami (dan tetangga) suka terkaget-kaget ^_^

img1429972557457

Nah… kembali ke laptop, dari bekal bertanya, membaca dan mempraktekkan, beberapa upaya berikut sukses dalam memerangi GTM. Yakni:

  1. Awali MP-ASI dengan benar

Ya, awal yang benar merupakan kunci sukses MP-ASi tanpa penderitaan karena anak GTM mulu.  Apa saja itu?

  1. Mulailah MP-ASI saat anak berusia 180 hari (atau 6 bulan), walau sudah melihat tanda-tanda kesiapan anak untuk MP-ASI seperti sudah bisa duduk sendiri, memasukkan benda ke-dalam mulut, JANGAN memulai MP-ASI jika usianya belum 6 bulan (kecuali ada indikasi medis terkait kebutuhan untuk booster BB anak. Ini pun harus dengan rekomendasi dokter). Karena organ bayi belum siap untuk mencerna makanan selain ASI. Hal ini bisa menyebabkan berbagai problema pencernaan yang berimbas pada GTM nantinya.
  2. Tentukan metode sesuai dengan kemampuan anak. Ada banyak metode MP-ASI, yang saya dalami hanya metode WHO dan BLW. Silahkan dipelajari lebih lanjut dan diterapkan sesuai dengan kemampuan bayi. Kenapa sesuai dengan kemampuan bayi? Karena memang terkadang ibu dan anak belum tentu selalu sinkron. Saya contohnya, saya pribadi ingin menerapkan metode BLW pada Najmi, namun usia 6 bulan, Najmi belum yahuud duduknya, sehingga hal ini tidak memungkinkan. Baru bisa saya terapkan saat Najmi usia 8 bulan dan benar-benar berjalan di usianya yang ke-10 bulan. Ada teman saya yang ingin menerapkan metode WHO dengan cara aktif-responsif, namun anaknya tidak suka bubur dan tidak suka disuapi. Kalau makan sendiri lahap dengan diberi finger food. Naah kalau sudah begini keadaannya, kenapa tidak BLW saja? Ya kan?
  3. Terapkan pemberian menu tunggal selama 2 minggu. Ini bagian yang sangat penting terkait dengan GTM bahkan kalau bisa buat diari makanan. Makanan apa yang disukai anak, mana yang kurang disukai, mana yang tidak disukai. Mana yang pencetus alergi dan mana yang bukan. Mana yang membuat sembelit, mana yang bukan. Semua ini akan jadi bekal penting bagi kita, saat anak GTM nantinya.
  4. NO gula dan garam sebelum usia 1 tahun

Lidah bayi tidak sama dengan lidah orang dewasa, lidahnya masih murni dan belum terkontaminasi oleh rasa. Jadi biarkan mereka meng-eksplor rasa asli makanan. Selain pemberian gula dan garam justru akan memperberat kerja ginjal dan pankreas bayi. Pemberian gula juga meningkatkan resiko diabetes di masa yang akan datang. Lagi pula kebutuhan bayi akan gula dan garam sudah tercukupi dari makanan yang mereka konsumsi.

Pengalaman rekan-rekan saya yang memberikan gula dan garam pada MP-ASI anaknya, pasti sering sekali mengalami GTM anaknya. Jika sudah telanjur, apa yang harus dilakukan? Secara perlahan kurangi komposisi-nya hingga tidak menggunakan gula dan garam sama sekali. Walau di lidah kita terasa hambar, di lidah bayi tidak kok moms… Rempah-rempah yang banyak di Indonesia juga bisa kita tambahkan untuk menambah cita rasa makanan.

  1. Homemade food

Mengapa homemade? Karena dengan homemade food terjaga kandungan gizinya, kebersihannya dan sesuai dengan citarasa anak. Saya pernah mencoba masakan bayi sehat yang di jual dekat rumah. Terus terang saya kecewa, kenapa?

  1. Tekstur nasi tim nya tidak sesuai dengan tekstur yang disukai Najmi, terlalu lembek dan lengket (nah… dengan memasak sendiri kita bisa menyesuaikan tekstur dengan usia anak dan yang disukai anak. Kalau membeli pilihannya kalau tidak bubur ya tim, dengan standar yang tidak bervariasi)
  2. ASIN… ya.. walau dibilang tidak pakai garam, tapi terasa asiinnn…
  3. . kebetulan saya membeli 2 puding dan rasanya SANGAT MANIS, alhasil saya dan bibi nya Najmi yang menghabiskan. *rejeki emak n bibi nya J

Apalagi jika sembarangan memberikan anak makanan dipinggir jalan yang sudah pasti bergaram, gula, dan MSG pula >_< Yuuk… katanya sayang anak. Membuat makanan bayi tidak rempong dan tidak wasting time kok😉 Banyak rekan saya yang working moms bisa menyediakan homemade food bagi anaknya. Dan juga, kalau bayi sudah terkena makanan luar ini, biasanya mereka jadi tidak suka makanan yang dibuat di rumah.

  1. Perkenalkan dengan berbagai macam rasa sejak dini. Jangan hanya diperkenalkan dengan yang manis-manis saja, hal ini membuat anak jadi picky-eaters. Kalau saya merujuk pada standar WHO, dimana sejak usia 6 bulan 2 minggu, Najmi sudah saya buatkan bubur dengan menu 4 bintang (ada karbohidrat, vitamin, mineral dan lemak).

Hm… lebih kurang itu ya, catatan penting saya untuk meminimalisir perang melawan GTM.

img1430978113272

Dan kalau sudah terjadi, apa saja solusinya? Berikut pengalaman saya dengan Najmi, yang sifatnya sangat subjektif sekali dan bisa saja berbeda penanganannya dengan bayi lain. But at least, mungkin bisa jadi bahan referensi ^_^. Apa saja itu?

  1. Kenali apa penyebab GTM pada bayi. Bisa jadi karena sakit, demam, sariawan, sedang tumbuh gigi, bosan dengan menu yang itu-itu saja, sedang ingin naik tekstur dan sebagainya.

       a. Sakit atau Demam

Jika sakit, bayi biasanya suka makanan yang lembut dan lunak, nah turunkan tekstur makanan agar anak mudah mencernanya. Najmi kalau lagi sakit atau demam suka makanan yang hangat dan mudah dicerna. Menu andalan saya adalah sop tomat. Cara membuatnya simple dan ini mampu menggugah selera makannya. Bagaimana cara membuatnya?

  • Rebus tomat,wortel dan jagung  bersama keprekan bawang putih dan setangkai seledri, merebusnya dengan air kaldu (sesuai stok yang ada di rumah. Oh iya, saya selalu membuat stok kaldu di rumah ada kaldu ayam, daging, ikan dan udang. Kaldu2 ini sangat membantu menaikkan cita rasa makanan). Blender halus, namun bawang putih dan seledrinya tidak ikut di blender. Sajikan hangat… biasnya habis nih sama si Najmi. Kalau sedang tidak sakit saya tambahkan kuning telur, tapi karena sakit pengennya yang light saja, jadi tanpa telur lebih nikmat

b. Sedang Tumbuh Gigi

Kalau sedang tumbuh gigi, anak biasanya males di kasih makan ini dan itu. Biasanya saya trik nya hampir sama dengan saat sakit, yakni dengan menurunkan tekstur. Namun makanan dingin biasanya lebih disukai saat sedang tumbuh gigi ini. Trik yang selalu berhasil yakni membuat pudding sayuran, posicle aneka buah (alpukat favoritnya) dan es krim sehat berbahan dasar pisang.  Kalau sudah dikasih menu dingin-dingin itu.. GTM lewat! Yang ada malah minta nambah ^_^ Berikut saya share resep es krim pisang sehat tanpa gula. Ini menjadi pilihan saya karena bisa divariasikan sehingga kebutuhan gizi anak tetap bisa dipenuhi dengan menu 4 bintang.

  • Potong kecil-kecil pisang ambon dan taruh di kulkas semalaman. Keesokan harinya, blender dengan tambahan buah yang disukai (Najmi sukanya anggur dan stroberi) dan plain yoghurt. Masukan ke dalam freezer selama 2 jam, lalu di blender lagi, jadi deh es krim sehat, penuh gizi, tanpa gula yang disukai anak-anak ^_^

c. Bosan dengan menu yang itu-itu saja

Sama dengan kita, anak juga pasti bosan kalau menu yang disajikan itu-itu saja. Saya, semaksimal mungkin menyajikan menu yang berbeda untuk Najmi setiap harinya. Bahkan kalau GTM nya lagi bangkit, Najmi harus makan dengan 3 menu yang berbeda setiap harinya.

Nah… disinilah food diary berperan, kita bisa menganalisa apa yang disukai dan tidak disukai oleh anak.  Kalau Najmi, yang disukainya:

  • Sweet for breakfast, yops karena awal MP-ASI di rumah (Bukittinggi), setiap sarapan Najmi mesti di kasih sarapan bubur pisang. Alhasil, ni bocah maniak gitu sama pisang J Kalau lagi GTM, cukup kasih sarapan pisang+oatmeal+keju, dijamin habis ^_^
  • Perkedel kentang dan nugget Tuna si penyelamat. Kalau lagi GTM, Najmi jadi saya banyakin ngemil, dan hidangan yang hampir tidak pernah ditolaknya adalah perkedel kentang dan nugget tuna (nugget tempe juga sih), dicemil gitu aja, sekali makan bisa 2-3 potong. Agar kaya nutrisi, perkedel dan nuggetnya saya tambahkan sayur-mayur, telur dan keju. Stok nugget selalu ada di kulkas (homemade ya moms), saat-saat genting seperti GTM or emak lagi malas masak tinggal di olahJ
  • Macaroni schotel, anak GTM bisa jadi karena bosan makan nasi, dan macaroni adalah pilihan pengganti bagi saya. Buatnya gampang, menu 4 bintang masuk dan anaknya suka. Sekali makan bisa langsung 2 cup, siapa yang enggak senang coba ^_^ Udah gitu rebutan lagi sama bapaknya (bapaknya juga doyan euy :P)
  • Menu pengganti lainnya yang disukai Najmi: Ubi rebus! J dan gluten free banana bread (tuh kan… pisang lagi😀 )

e. Ingin naik tekstur

Ingin naik tekstur juga bisa jadi pemicu anak GTM. Bagaimana cara mengetahui dan solusinya? Kalau pada Najmi, biasanya dia semangat makan, namun setelah 2-3 suap dilepeh-lepeh. Setelah saya coba naikkan tekstur, eh… malah lahap makannya. Tapi perhatikan juga ya kesiapan anak, kalau anak jadi sembelit, mungkin anak belum siap untuk naik tekstur.

  1. Kondisikan anak dan bangun awareness bahwa ia sedang makan.

Untuk hal ini saya rasa high chair penting untuk membantu proses makan dan menanamkan kesadaran anak bahwa ini waktunya makan. Kalau saya pilih booster seat, karena mejanya bisa di bongkar-pasang dan di cuci. Najmi doyan numpahin makanan soalnya dan suka makan makanan yang ada di atas meja, bukan yang di atas piring. High chair dan booster seat ini nggak mesti beli ya, bisa sewa saja. Kalau tidak ada? Ya tidak apa-apa, seadanya saja, yang penting anak dikondisikan, matikan TV dan hal lain yang mengganggu konsentrasi anak daaan JANGAN AJAK ANAK MAKAN SAMBIL JALAN-JALAN. Kesalahan fatal para orang tua, suka membawa anak makan sambil jalan-jalan. Iya makanan anak habis, tapi tidak tumbuh kesadaran bahwa ia sedang makan, yang ada dalam pikiran anak justru bahwa mereka sedang bermain.  Dan ini akan menyulitkan orang tua saat usia anak semakin besar.

  1. Buat suasana yang menyenangkan

Banyak cara yang bisa dilakukan, misalkan dengan membuat makanan yang unik, lucu dan colourfull (oke kita malas, tapi kalau anak lagi GTM bolehlah sekali-kali ngalah sama anak ^_^). Sediakan tempat makan yang menarik dan beraneka warna (tidak perlu yang mahal kok) dan buat anak paham bahwa itu adalah peralatan makannya, sehingga bisa memulai awal makan yang menyenangkan. Biasanya, saat saya sedang menyiapkan makanan, Najmi akan mengikuti saya ke dapur. Karena dia sudah hafal peralatan makannya, ketika saya memegangnya dan berjalan ke arah booster seatnya, dia sudah teriak-teriak kegirangan. Bantu anak meningkatkan mood-nya, dengan bersekspresi senang dan berlari-lari kecil menuju seat nya. Najmi biasanya akan mengikuti saya dengan kencang sembari teriak-teriak “mamam-mamam-mamam”.

  1.  Makan Bersama Anak

Kami sekeluarga sedapat mungkin selalu makan bersama, dan ini sangat membantu anak saat GTM. Apalagi Najmi sekarang menunya sudah sama dengan kami sekeluarga, jadi dia lebih bersemangat saat makan ditemani Ayah dan Bundanya. Ya… sejak usia 10 bulan Najmi sudah makan nasi lembek (serumah jadi makan nasi lembek deh :P). Masak sudah jauh lebih ringan kini, apa yang kami masak, itu pula yang disajikan untuk Najmi. Hanya saja, sebelum masakan diberi garam, kami pisahkan dulu untuk Najmi.

5. Berikan porsi kecil namun sering dan bervariasi.

Iya sih.. yang ini agak rempong, tapi anak GTM kan nggak tiap hari ^_^

Lebih kurang itu pengalaman kami dengan GTM, semoga bisa sedikit memberikan gambaran bagi para new moms. Mengapa part 1? Karena pengalaman saya baru sampai usia 11 bulan. Usia  1,5 – 3 tahun katanya lebih dahsyat lagi tantangannya. Nanti kalau sudah melewati fase itu saya tuliskan part 2 nya🙂

There is So-called a Working From Home Mom?

sssttt… do not be sarcastic, because I pointed that question for me! Yes… ME!

Sudah lama sekali yaah laman blog ini tidak tersentuh😀 Sibuk euy… sibuk sama si kecil *halah* But seriously, menghabiskan waktu bersama Najmi, 24 jam terasa kurang. Banyak pekerjaan yang terbengkalai, baanyaaaak banget, hihihi. So, boro-boro nulis blog, rumah rapi jali and makanan buat keluarga selalu tersedia 3 kali sehari saja rasanya sudah alhamdulillah banget😀 Apalagi sejak Najmi MP-ASI, nambah deh load kerjaan. Maklum, anak pertama , skills belum terasah dan emak masih excited sana sini utak-atik resep MP-ASI. Fotonya sih udah dikoleksi, rencananya mau di share ke blog ini, tapi… ya gitu deh😉

Kembali ke topik yang saya tuliskan di atas, beberapa waktu yang lalu kan lagi rame tuh diskusi tentang idelnya wanita itu 100% jadi ibu rumah tangga atau jadi ibu pekerja? Sampai pada sinis2-an dan dan nggak sampai cakar-cakaran sih. Hm… sebenarnya mana sih yang lebih baik? Everyone has their own choice and take the risks, ya kan?

Saya pribadi dari dulu sudah bertekad, ketika nanti berumah tangga saya akan jadi ibu rumah tangga, dalam artian career is not my priority and take the risk to leave it. Tapi bukan berarti saya tidak bekerja (lah piye?). Saya berusaha seminimal mungkin untuk produktif walau berada dirumah. Karena menurut saya, saya benar-benar akan membangun karir saya ketika anak saya yang bontot sudah SMP nantinya. Udah berapa tuh umur saya? Terlalu tuwir nggak ya? Ah enggak ^_^ Oleh karenanya juga, saya saat ini semaksimal mungkin membangun jaringan yang akan menopang karir masa tua saya nanti *halah* Apa saja itu? Jadi konsultan, freelance researcher, part-time lecturer, translator bahkan ghost writer. Eh… why not?🙂

Nah… lanjut ke tingkat berikutnya, “apakah bisa bekerja dari rumah?”. Dulu ketika masih single, saya jawab bisa. Setelah menikah? Yaa… bisa sih, tapi…. Mari sedikit saya berikan gambaran tentang apa yang terjadi dengan saya.

Sejak Najmi lahir hingga usianya 6 bulan, saya berhenti total bekerja. Fokus saya hanya rumah dan Najmi. Mengapa? Kebetulan -seperti pernah saya tulis sebelumnya- Najmi saat newborn pernah masuk RS karena jaudience. Tinggiiii…. tinggiii banget😦 over 25 lah.. Nah, bayi dengan riwayat sakit seperti Najmi riskan memiliki masalah dengan tumbuh kembangnya. Saya bahkan sampai jadi emak-emak parno, kok Najmi belum angkat kepala… kok Najmi belum tengkurep… kok dia..kok dia..kok dia… hah… banyaklah pokoknya.

Tapi saya nggak mau berputus asa tanpa ikhtiar, setiap hari saya pantau tumbuh kembangnya. Berbekal buku, artikel (bahkan jurnal) dan video-video di youtube saya amati perkembangan Najmi. Pagi sampai malam adalah jadwal saya menstimulasi Najmi dengan segala perkembangannya baik motorik kasar maupun halus sembari mengerjakan pekerjaan rumah tentunya, dini hari saat suami dan Najmi terlelap saya manfaatkan untuk baca bahan-bahan yang sudah saya kumpulkan dan menyusun rangkaian ‘belajar’ harian Najmi. Setiap milestones saya cari berbagai cara untuk menstimulasinya. Setiap bulan rutin berkonsultasi ke DSA (sekalian jadwal vaksin), walau ada yang berkomentar negatif karena Najmi mau vaksin aja mesti ke dokter. Hello… you are not in our shoes! Sudahlah.. manusia nggak mampu kek gitu bukan untuk digubris, hehehe. Kami juga rutin mengkonsultasikan keadaannya ke dokter THT dan Tumbang anak. Alhamdulillah…. semua menyatakan Najmi baik-baik saja, walau untuk motorik kasar milestonenya mesti diujung-ujung usia, hehehe. Seperti tengkurap baru bisa usia 4 bulan, guling-guling usia 5 bulan,  duduk usia 8 bulan, merayap usia 9 bulan, dan sekarang 10 bulan masih latihan berdiri, semua masih dikoridor usianya. Kalau masalah motorik halus dan kemampuan sosial bisa jauh di atas kemampuan motorik kasar. Dia sudah bisa panggil “Ndaa..” saat usia 3 bulan dan baru bisa panggil ayah usia 10 bulan. Agak nyesel juga kenapa nggak minta dipanggil mama-papa saja, karena sejak usia 4 bulan Najmi udah fasih berucap mama-papa, hehehe. Tapi kayaknya semua bayi emang jago berucap mama-papa.

Karena keadaan Najmi yang menggembirakan ini, memasuki usia 7 bulan saya berani mulai bekerja secara part-time. Lagi pula saat itu kondisi ekonomi memang sedang “diuji”. Hasilnya? hohohoho…

Really, working from home is out of my expectation. Secara fisik, iya… Ibu selalu berada di sisi anak, namun seutuhnya… bisa saya bilang tidak. Saya berasa dikejar-kejar oleh pekerjaan, pekerjaan rumah menanti untuk diselesaikan, anak yang butuh perhatian (belum lagi bapaknya), huh-hah-huh-hah…. Konsentrasi pecah kemana-mana, apalagi pada dasarnya saya bukan multi-tasking woman. Baru megang ini, anak nangis… baru megang itu, saatnya anak makan, mau menyelesaikan yang ini, saatnya anak tidur, mau menyelesaikan yang itu, hari udah malam saja. huhuhu…

Dari apa yang pernah saya jalani (bekerja di kantor dan di rumah), bekerja di kantor jauh lebih baik daripada di rumah (secara kualitas kerja yaa…). Karena ketika di kantor, kita dipaksa untuk fokus dengan pekerjaan, beda dengan di rumah. Walau di kantor bisa saja pikiran pecah kemana-mana, namun kita tidak di desak oleh keadaan untuk menghentikan pekerjaan yang sedang dilakukan untuk beralih kepekerjaan yang lebih penting dan mendesak sifatnya, ex: anak BAB😛 .

Seperti beberapa waktu yang lalu, saya diminta untuk menyelesaikan sebuah jurnal. Hari itu hari minggu, dan ketika saya tanya kapan dikumpulkan rekan saya menjawab, “selasa”. Artinya… saya hanya punya waktu dua hari. Akhirnya jurnal terkait bisa saya kirimkan pada hari selasa, namun hari selasa dua minggu kemudian, hehehe. I am no longer a under-pressure worker😛 Kalau posisi saya di kantor (atau single, hehehe), saya yakin bisa menuntaskannya selama dua hari saja. Toh selama ini memang begitu. But know? hehehe… untung rekan saya orangnya pengertian. Malah nambah job lagi buat saya😛

Lalu, apakah working from home mother itu hal yang mustahil? Saya rasa tidak juga, kalau saya punya ART yang membantu pekerjaan rumah tangga, saya rasa saya bisa mengatur waktu lebih baik lagi. Selama ini, yang bisa saya manfaatkan hanya waktu-waktu ditengah malam, saat suami dan Najmi sudah tidur.  Atau… saya punya asisten yang membantu mengerjakan pekerjaan saya, atau… suami handle pengasuhan Najmi saat malam setelah pulang dari kerja. Hehehe.. tapi kalau begini, capek semua orang se rumah😛

Lalu apakah saya akan berhenti bekerja dari rumah? Hm…. belum tahu, sejauh ini belum, mengingat uang DP rumah kami melayang buat biaya NICU Najmi selama seminggu di RS. Perlu waktu lagi untuk mengumpulkannya, hehehe. Namun bagaimana pun… Najmi adalah prioritas no.1, saya tetap akan menjadi madrasah utama bagi Najmi. Karena insyaAllah, saya dan suami sudah bertekad untuk meng-homeschooling-kan Najmi dan adik-adiknya. Semoga Allah mudahkan ^_^