Leaving Taiwan (??)

Tahun ini gawang NCU (kampus saya) kebobolan…. 13 orang mahasiswanya lulus dan pulang kampung. Tidak hanya di kampus saya… hampir di banyak kampus lainnya juga sudah pada beres dan pulang kampung. Rona bahagia dan lega… tentu saja menghiasi setiap wajah yang beranjak pergi kepangkuan ibu pertiwi.

Bagaimana dengan saya? Hohohoho…  Masih ada setahun jatah waktu saya di sini. Sedih? Iya…. sedih… kok cuma setahun sih? Maunya lebih…. wkwkwkwkwk…. Tapi nggak mau lebihnya dengan lanjut PhD, kekekeke….

Diantara semua teman-teman di sini (esp NCU) kayaknya adalah saya, yang paling betah berada di Taiwan dan sangat menikmatinya. “Iyalah… jalan-jalan mulu…” seseorang pernah berkomentar begitu. Haiyah… lo juga bisa kalo mau! “Tapi kan sibuk… penelitian sambil ambil kuliah…”

“Lah gw????”, wait.. itu bukan jawaban saya… itu jawaban teman lainnya yang juga menikmati hidupnya di Taiwan. Xixixi… Kelasnya BUANYAK…. penelitiannya kesandung kesana-kemari… Tapi bukan berarti menjadi alasan untuk tidak bisa menikmati hidup di Taiwan. Oh… c’mon… be wise… Lagian kalaupun saya nangkring kesana dan kemari… nggak hanya sekedar jalan2 saja toh… Biasanya sambil ada diskusi apa… kegiatan apa… konferensi apa…. camp apa… atau mendampingi tamu. Ini hanya masalah pintar-pintar memanfaatkan momen. Dan kesempatan ini terbuka untuk semua orang. So… jangan pake ngiri2 gitulah.. yang sampai “menyudutkan” saya, yang kesannya saya teh nggak sibuk sama yang namanya kuliah. Walau saya tidak terlihat “sibuk” bukan berati saya tidak serius toh? (malah curhat, wkwkwkwk). Lagian… semua itu pilihan…. Pilihan saya…. selama saya punya kesempatan untuk mengeksplor Taiwan, yah kenapa enggak, xixixi

Dan tentunya bukan hanya masalah “jalan-jalan” yang membuat saya betah di Taiwan. Yang lebih utama adalah, bagaimana upaya kita menjadikan diri kita sebagai bagian dari komunitas tempat kita bernaung. “Dima bumi di pijak… di sinan langik di junjuang…” (dimana bumi di pijak, di sana langit di junjung), itu kata bokap… sebelum berangkat ke tanah rantau. BERGAUL menjadi kata kunci lainnya…. agar kita benar-benar merasa feel like home. Cara termudah bagi saya adalah pergi ke mesjid, hehehe. Karena di sana kita akan menemukan komunitas muslim lainnya dan untuk “melebur” tidaklah susah. Karena kita adalah muslim… kita adalah saudara… dan itu yang saya rasakan… Saya merasa seperti di rumah saja… bersilaturrahmi dengan banyak saudara baru. Bukan berarti saya nggak rindu dengan keluarga di Indonesia… ya rindulah… tapi mau gimanapun… tetap sajakan mereka jauh dari saya? Soalnya hal ini juga sempat jadi bahan olok2an ke saya…. yang kesannya saya manusia tidak berhati, karena di saat yang lain “melas” akan rasa rindu terhadap keluarganya, saya malah “bersenang-senang” di sini. Haiyah… lalu apakah itu artinya saya tidak rindu keluarga saya? Berhentilah memandang segala sesuatu dari kacamata anda!! Cobalah memandang sesuatu dari kacamata orang lain. Bagi ibu saya…. dia akan sangat senang jika tahu saya menikmati hidup saya dari pada berkeluh kesah tentang inilah… tentang itulah…. Beliau juga tidak akan senang jika saya berlarut dalam duka (haiyah…) hanya karena saya rindu akan kampung halaman. Jadi… kalau saya menikmati hidup saya di sini, bukan karena saya melupakan keluarga saya nun jauh di sana. Justru bagi keluarga saya itu adalah hal yang aneh, ketika anda memilih untuk tidak melakukan sesuatu karena keluarga anda di Indonesia sana tidak bisa bersenang-senang bersama anda. Namanya juga dah jauh… Well… ini hanya masalah cara pandang…. hehehe… sekali lagi, itu masalah pilihan.. dan pilihan saya sudah jelas. Yang paling penting… apapun pilihan anda… jangan sampai anda menyesal….

Bergaul juga menjadi katalisator proses adaptasi di lingkungan baru… Dan akan berat untuk kembali ke tanah air kalau sudah dekat dengan saudara-saudara di sini. Xixixi…. kemarin contohnya…. Ali, seorang muslim Taiwan menghampiri saya di ruang kerja FOSMIT (salah satu organisasi perkerja indonesia di Taiwan). “Maryam sudah tidak di sini lagi… kami butuh guru buat ngajar anak-anak…”

Selama ini saya suka bantu-bantu Maryam buat ngajar iqra di mesjid, namun satu semester kemarin nggak lagi, karena jadwal ke mesjid yang bolong2 setiap hari minggunya. “Saya nggak bisa bahasa Cina…” Kekeke… ngeles paling standar, tapi emang nggak bisa kok… walau sudah level B dan dapet nilai tinggi (nilai kasihan ini mah… kayaknya si guru tersentuh dengan kesungguhan saya belajar, xixixi.. yang bela-belain datang walau saya kena flu berat), kemampuan bahasa Cina saya cuma buat nanya jalan dan bargain harga di pasar😛 “Nggak pa-pa… pake bahasa Arab aja semua…” Tsaah… apalagi make bahasa Arab semua… “Lagian 13 Agustus ini pulang ke Indo….”

“Hah.. ngapain?”

“Ramadhan…”

“Ramadhan di sini aja….” Kata Ali lagi, huehehehe….. “Yah gimana tiketnya dah ke beli…” Hohoho…. dan Ali malah minta saya ganti jadwal kepulangan. Lalu Ali bercerita akan butuhnya tenaga pengajar, karena benar-benar tidak ada orang lagi. Huks…. gimana nggak berat coba untuk meninggalkan semua ini??? Walaupun cuma ngajarin iqra… namun itu merupakan langkah awal terbentuknya generasi qur’ani di bumi formosa ini… Akhirnya saya sanggupi untuk mengajar setelah Idul Fitri… huah… nggak kebayang mesti ngajar sendiri…. I have that experienced before… and hampir nangis di buatnya, wkwkwkwk….  (btw percakapan saya dan Ali berjalan lancar bukan karena saya dah mahir berbahasa Cina yah… tapi karena ada Laoban yang jadi translator :P).

Back to topic….

Ketika saatnya tiba… mau atau tidak mau, saya memang harus meninggalkan Taiwan… namun sebelum itu semua terjadi, saya ingin meraup sebanyak-banyaknya pengalaman…. meninggalkan jejak sebanyak-banyaknya… jejak yang tidak hanya hilang ketika angin bertiup…. ataupun ketika di sapa hujan… namun jejak yang akan selalu tertinggal di hati setiap orang…..

MARI BERKONTRIBUSI TEMAN! SEKECIL APAPUN… KARENA DIRIMU BERARTI TIDAK HANYA BAGI DIRIMU NAMUN JUGA ORANG LAIN. JANGAN BUNUH POTENSI BERBAGI YANG ADA DALAM DIRI…. dan tentunya semua hanya karena DIA….

di sudut kamarku di Chungli, sebuah bukit kecil di Taiwan….

2 thoughts on “Leaving Taiwan (??)

  1. wah…pengalaman yag hampir sama denganku…mengajar iqra itu yang paling berkesan buat aku selama aku tinggal di taiwan..sayangnya kesempatan itu cuma sebentar aku jalanin dan pas udh balik indo ga ada lagi deh yang bisa diajarin..

    ayo yuher..pulang kampunggg..btw..ali itu yang waktu jalan2 ke yilan itu kan??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s