Belajar dari India : Sebuah Refleksi

Baru saja selesai membaca sebuah tulisan menarik garapan Tejaswini Niranjana, yang berjudul “Mobilizing India : Women, Music and Migration between India and Trinidad”. Tulisan ini merupakan salah satu bacaan wajib untuk sebuah kelas yang saya ambil semester ini. Ada dua hal yang membuat karya ini begitu menarik bagi saya, pertama kritikan yang disampaikan oleh Niranjana, seolah-olah menjadi kritik bagi tulisan yang pernah saya buat. Tentunya Niranjana tidak pernah membaca tulisan saya, lagi pula tulisan saya pun beredar terbatas, hanya dikalangan orang-orang yang ikut sebuah konferensi dengan saya. Itu juga kalau mereka niat membacanya😀 Yang kedua mengenai fenomena-fenomena yang dihadirkan Niranjana dalam tulisannya ini, yang membuat mata saya terbuka,,, sungguh Islam itu indah. Poin kedua inilah yang ingin saya share dalam coretan blog saya ini ^__^

Niranjana dalam karyanya ini membahas mengenai pekerja migran wanita India yang bermigrasi dari India ke Trinidad. Dengan gamblang dia memaparkan alasan-alasan bagi mereka untuk melakukan proses migrasi yang besifat permanen tersebut. Alasan utamanya adalah untuk memiliki sebuah KEBEBASAN. Mengapa? Karena di negara asalnya mereka tak ubahnya hanyalah sebuah produk, aset kekayaan milik keluarga yang akan diperjual belikan dalam sistem pernikahan, yang lazin disebut dowry (mahar). Bahkan Gayatri Spivak dalam kumpulan esai Cultural Politics nya yang bertajuk “In Other Worlds” tidak sungkan menggambarkan wanita di India tidak ubahnya seperti sapi dalam agama hindu. Sesuatu yang berharga, yang harus dilindungi karena mereka adalah sebuah product , objek simbolik dari sebuah pertukaran (Spivak, 105-7).

Upaya pencarian kebebasan oleh wanita India ini bukan hanya sekedar posisi mereka sebagai produk dalam rumah tangga, namun juga sebagai efek dari kekerasan yang acap kali mereka terima. Karena pihak keluarga suami telah “membeli” si wanita, maka mereka merasa berhak untuk melakukan apa saja terhadap wanita tersebut. Efek lebih lanjut, yakni tingginya angka perselingkuhan di kalangan wanita-wanita India, bahkan poliandri merupakan sesuatu hal yang wajar dalam kehidupan bermasyarakatnya. Dan permasalahan tidak berhenti sampai di sini, tingginya angka perselingkuhan, kehidupan poliandri yang wajar menyebabkan tingginya angka pembunuhan suami terhadap istri (sebagian kecil presentase merupakan pembunuhan Ayah terhadap anak wanitanya). Angka pembunuhan ini pun tidak tangung-tanggung, mencapai 74,7% (Niranjana, 69).

Melihat fenomena ini, serangkaian undang-undang di rilis oleh pemerintah India untuk memperbaiki “moral status of the woman”. Sebuah keputusan yang menyebabkan pendukung feminisme di barat sana berteriak-teriak, “mengapa selalu wanita yang menjadi korban?”. Hm… iya siy… kenapa wanita? Dan lagi, Islam sebagai solusi hadir dalam benak saya. Karena solusi yang di tawarkan dunia barat dengan memberikan kebebasan pada wanita dan mengatur UU perkawinan, belum begitu mencapai akar permasalahan. Mengapa? Jika mind-set yang ada di kepala pria-pria India masih belum berubah, sekuat apapun upaya wanita mencari kebebasan hanya akan berakhir dengan kesia-siaan saja. Dan, seberapa jauh UU Perkawinan bisa mengontrol praktek yang ada di masyarakat? Seperti untuk menghindari terjadinya poliandri, dikeluarkanlah UU yang mewajibkan setiap pasangan menikah untuk mendaftarkan diri, namun faktanya banyak pasangan yang menolak untuk mendaftarkan diri secara legal dan administratif sebagai pasangan suami-istri (Niranjana, 135).

Bagaimana solusi dari Islam?

a) Konsep Mahar

Mahar dalam Islam merupakan suatu pemberian yang wajib diberikan oleh suami kepada isteri dengan sebab pernikahan. Mahar adalah hak isteri yang diberikan oleh suami dengan hati yang tulus ikhlas tanpa mengharapkan balasan sebagai pernyataan kasih sayang dan tanggungjawab suami atas kesejahteraan rumah tangga. Bertujuan untuk menggembira dan menyenangkan hati isteri agar isteri merasa dihargai dan bersedia untuk menjalani kehidupan bersama suami. Dan yang paling penting untuk di tekan kan adalah, mahar di tetapkan atau ditentukan oleh calon mempelai wanita, bukan oleh pihak keluarga. Dalam menetapkan mahar pun, di anjurkan untuk tidak memberatkan calon suami, seperti hadist berikut : “Sebaik-baik mahar adalah yg paling ringan.” (HR. Abu Dawud no. 2117 dan selainnya. Dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa’ no. 1924).

Mahar adalah hak wanita, yang menjadi miliknya, yang akan dikembalikan kepada suami apabila terjadi perceraian nantinya. Mahar bukan hak ayah ataupun keluarga dari si wanita. Jadi sudah jelas, mahar dalam Islam telah memberikan kebebasan bagi wanita dan hak otonomi sepenuhnya berada di tangan wanita.

b. Konsep Kepemilikan dalam Islam

Dalam Islam, konsep kepemilikan sudah jelas dan nyata, bahwa semua adalah milik Allah. Apa yang kita punya saat ini hanyalah titipan saja. Bahkan seorang ibu, yang sudah mengandung anaknya selama 9 bulan lamanya, melahirkannya, membesarkannya… tetap saja harus menyadari bahwa anak tersebut hanya titipan dari-Nya. Bukan hak miliknya… Maka kata-kata seperti ini tidak akan muncul :

I kill my own wife. Why not? I kill no other man’s wife“, (Niranjana, 134, bold by me) itu merupakan kata-kata yang sering dilontarkan para suami yang telah membunuh istrinya. Astagfirullah… sadis amat siy Y_Y

3. Mulianya sebuah hubungan

Membaca serangkaian kisah dari tulisan Niranjana ini, saya semakin menyadari, bahwa Allah yang paling tahu akan umat-Nya, bahkan paling paham. Ya wajar… dia yang menciptakan. Dan sungguh indah, bagaimana Islam mengatur hubungan dengan sesama manusi, lingkungan dan dengan Tuhan. Terkhusus mengenai bagaimana kehidupan berumah tangga.

Diawali dengan ajakan yang sangat preventif, “Jangan sekali-kali mendekati zina”. Jangankan melakukan, mendekatinya saja kita sudah di wanti-wanti. Mengapa? Pertama untuk menjaga kemurnian seseorang, rumah tangga dan keturunannya. Kedua untuk saling menjaga perasaan pasangan. Ketiga agar kita menjadi bangsa yang beradab.

Kasus-kasus yang muncul dalam tulisan ini, semuanya berawal dari zina. Istri yang tidak senang dengan suaminya, mencari kesenangan dengan pria lain (sayang pemaparannya cuma satu pihak saja, seharusnya juga ada pemaparan kasus perselingkuhan oleh suami, mesti ada juga tho?). Suami yang merasa cemburu dan dikhianati berakhir dengan membunuh istrinya. Bisa dibayangkan kehidupan seperti apa ini? Ketika istri berselingkuh, dikatakan istri tersebut tidak bermoral, namun ketika suami membunuh mereka menyebutnya “possesive individualism” (Spivak, 216). Jika saja kita benar-benar bisa melihat jauh ke depan, tidak hanya sekedar memperturuti hawa nafsu, jelas sudah semua yang di tetapkan Allah, adalah untuk kebaikan umat-Nya.

hanya sebuah refleksi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s