Segores Duka Akhir Tahun

Tahun baru saja berganti dari 2010 ke 2011. Ujung pergantian tahun yang begitu banyak evaluasi dan hikmah yang terakumulasi dalam memori. Terus terang, pergantian tahun ini saya lalui dengan begitu banyak kekecewaan… yang bahkan saya melaluinya dengan air mata yang tidak dapat saya bendung dihadapan teman saya. Malu! Karena saya tidak pernah menangis dihadapan orang lain, namun lega setidaknya sesuatu yang mendesak hendak keluar itu bisa mengalir, tanpa saya coba untuk menghentikannya.

Banyak sekali rapor merah saya di tahun 2010, dan saya tidak tahu bagaimana cara terbaik untuk menyikapinya. Terkadang dipuncaknya…. saya hanya bisa pasrah dan benar-benar menanamkan di dalam hati ini adalah yang terbaik dari-Nya. Tapi… itu susah sekali!

Terkadang kekecewaan itu tertuju kepada orang lain, dan saya tidak punya cara untuk menetralisir rasa itu. Ada keinginan untuk “menyalah2kan” orang lain, tindakan yang ya… sangat tidak dewasa sekali. Hingga akhirnya, saya hanya bisa menyalahkan diri sendiri. Suatu tindakan yang membuat saya merasa begitu kecil… dan sebegitu tidak berharganya sebagai manusia. Kata-kata “belajar ikhlas itu susah” berputar-putar di kepala saya. Ya… mengapa saya harus kecewa? Mengapa saya harus bersedih? Jika semua telah saya ikhlaskan untuk-Nya… untuk  DIA?

Hah… saya hanyalah manusia biasa, yang masih susah untuk berperang dengan hawa nafsu. Saya tahu… sampai kapan pun saya tidak akan pernah menjadi manusia sempurna di mata saya… di mata orang tua saya… di mata orang-orang disekitar saya… Dan saya pun tidak pernah bercita-cita untuk menjadi manusia sempurna. Karena dengan ketidak sempurnaan saya, saya bisa merasakan cinta kasih orang-orang disekitar saya, uluran tangan untuk berbagi kekuatan disaat saya benar-benar rapuh. Saya menyadari kalau saya tidak sendiri, dan ada mereka orang-orang yang saya kasihi dan juga peduli dengan saya yang akan melengkapi lubang-lubang ketidaksempurnaan itu. But… again… proses untuk menyadari hal itu tidaklah mudah.

“Please… senyum donk!”

Itu kalimat yang diucapkan teman saya, beberapa menit setelah pergantian tahun itu terjadi. But… I CAN’T… saya terkadang kesal dengan diri saya yang tidak bisa “berpura-pura” dihadapan orang lain. Saya terlalu egois untuk menjadi seorang yang ekspresif dengan mengekspresikan perasaan saya. Saya benar-benar orang yang tidak bisa tersenyum ketika saya benar-benar kecewa (apalagi terluka, hai-hai-hai :P), jika dipaksa terus kelanjutannya biasanya :

1. Saya akan memarahi orang yang memaksa saya untuk tersenyum;

2. Menangis sejadi-jadinya; hehehe….

dan yang saya lakukan malam itu tentunya memarahi orang tersebut😛

Hm… bagaimanapun… harus tetap semangat!

Belajar dari kesalahan masa lalu!

Terus memompa diri agar menjadi lebih baik lagi!

Saat menuliskan ini saya sedang tidak memiliki optimisme tersebut… namun perlahan tapi pasti… saya pasti akan bangkit kembali!!!!

selamat datang tantangan baru… saya tidak takut!

1 Januari 2011

4 thoughts on “Segores Duka Akhir Tahun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s