Tidak Cukup Sekedar Bahasa Kalbu

Satu ujian alhamdulillah hari ini selesai… ujian mata kuliah bahasa Cina. Hm… kuliah yang disatu sisi jadi “hiburan” namun disisi lain menjadi “hantu” yang kerap kali hadir ke dalam mimpi buruk. Hehehe…

Satu pelajaran terpenting yang saya peroleh dari mata kuliah ini. Sebagai orang yang “menumpang” di negara orang, ‘sombong’ sekali rasanya jika kita tidak berusaha untuk memperlajari bahasa setempat. Masak kita sebagai pendatang, lalu tuan rumah diharapkan mempelajari bahasa kita agar bisa berkomunikasi dengan kita? Well, setiap orang punya pilihan masing-masing pun prioritasnya. Saya pribadi merasa sangat rugi sekali rasanya jika bertahun-tahun tinggal di Taiwan tapi tidak bisa bercakap-cakap dalam bahasa Cina/mandarin.

Efek negatif yang saya rasakan, hubungan saya jadi kurang dekat dengan penduduk setempat, karena keterbatasan bahasa. Ustad Mardani yang tempo hari singgah ke Taiwan juga dititipi pesan ini oleh salah seorang member CMA (Chinese Muslim Association), bahwa mahasiswa Indonesia yang ada di Taiwan rata-rata kemampuan berbahasa Cina nya cukup mengecewakan. Tentunya beraneka latar belakang menjadi penyebab hal ini.

Saya pun merasakan, ketika harus dihadapi dengan beban kuliah dan penelitian yang tidak bisa dibilang tidak menyita waktu, saya pun harus menyediakan sedikit waktu untuk mempelajari bahasa ini. Dilema?

AMBAK… saya ingat singkatan tersebut dalam buku quantum learning yang saya baca ketika SMA dulu. Disana dinyatakan…kita harus mengeksplorasi “Apa Manfaatnya BAgi Ku” terhadap sesuatu hal, baru kemudian kesadaran dalam diri kita muncul. Oh iya… saya butuh mempelajari subjek tersebut!

Apa manfaatnya bagi saya mempelajari bahasa Cina?

1. Saya berdomisili di Taiwan, tentu ini akan mempermudah kehidupan dan mobilitas saya selama di Taiwan;

2. Bahasa Cina merupakan salah satu bahasa resmi PBB, jadi dalam dunia kerja nanti pun saya tidak akan dirugikan jika saya mempelajari bahasa Cina;

3. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina (Taiwan termasuk didalamnya nggak yah?), ungkap sebuah hadist. Tentunya satu paket dengan mempelajari bahasa Cina nya donk?

4. Manfaat yang sangat terasa bagi saya, mempelajari bahasa Cina melatih otak saya untuk menangkap sebuah bentuk dan membiarkannya bermain-main dalam imajinasi saya. Ketika saya sedang mencoba menghafal beberapa ayat suci Al Quran, metode saya menghafal karakter Cina jadi terbawa-bawa. Setiap rangkaian ayat demi ayat tergambar di otak saya, biasanya tidak begitu.

5. Masih banyak lagiiii… hehehe akan sangat panjang sekali jika diuraikan satu persatu di sini.

Yang pasti…. dengan memahami sebuah bahasa, saya bisa lebih memahami orang yang menggunakan bahasa tersebut. Contohnya bagaimana saya memahami Nicholas, seorang teman di kelas Cina.

Selama di kelas, saya tidak pernah berkomunikasi dengan dia. Karena menurut saya dia orangnya “dingin” dan asosial. Dengan yang lain saya santai saja berkomunikasi, tapi tidak dengan dia. Ketemu di jalan cuek saja… duduk suka sebelahan bahkan saya suka minjemin buku ke dia, tapi tetap tidak ada komunikasi diantara kami. Hingga suatu saat… kami dijadikan satu kelompok oleh Laoshi. Tugas kami adalah membuat sebuah dialog dengan keyword yang telah diberikan.

Hasilnya? Hahaha… ternyata Nicholas tipe orang Perancis sejati. Jika ingin berkomunikasi dengannya… haruslah dengan dua pilihan bahasa saja. Perancis atau Cina! Setiap kali saya berujar dengan bahasa Inggris, dia selalu teriak-teriak manggil Laoshi… ” 老師她說什麽? 我聼不懂。。。“ (Bu Guru… dia bilang apa? saya tidak mengerti..).

Huh…. sebel bin kesel! Dalam hati saya berujar, “belagu banget ni bocah!” Sejak saat itu, imej Nicholas dalam penilaian saya adalah yang jelek-jelek saja. Yang orangnya sombonglah… belagulah… dan sebagainya! Saya pun bertekad, tidak akan mau lagi ada hubungan apapun dengan dia! (emang selama ini ada hubungan apa? kekeke).

Hingga takdir berkata lain…. diujian akhir, lagi-lagi kami satu kelompok!!! Oh T-I-D-A-K!!

Hancur…hancur… hati ku…. Tidak terbayang bagaimana hancurnya kelompok kami nanti! Akhirnya saya berinisiatif untuk meminta alamat emailnya saja. Kita akan berkomunikasi via email saja…. Kan kalau on line tidak usah khawatir… ada google translate. Kekekeke…. Dan untuk memotong diskusi diantara kami, saya berinisiatif untuk merancang drama kami dan hanya meminta dia mengoreksi grammarnya. Secara dia jagonya lima kali lipat dari saya, dan biar saya terlihat do something gitu.

Email pertama dikirim… tidak ada balasan. Nyampe di kelas dia cuma bilang, emailnya sudah sampai dan dia sudah baca, tapi belum sempat bales. Huuuh… dasar… Lama…lama… tidak ada balasan juga Y_Y Nih anak… hingga akhirnya nge-email lagi yang tetap saja tidak dibalas! Untungnya… beberapa hari sebelum ujian masuk juga emailnya, yang ternyata… dia mengirim naskah kami ke Laoshi untuk dikoreksi. Ho… bilang donk! Biar saya tidak salah paham. Tapi dia mungkin juga mikir…. “gw bilang pake bahasa Perancis or bahasa Cina lo kaga bakal ngerti kan? Ya mending tidak usah dibilang sekalian aja klo gitu.” Kekeke😛

Hingga hari ini… hari ujian itu datang. Nicholas sudah ada di kelas ketika saya masuk, hanya kami berdua. Tidak seperti biasa, dia kali ini menyambut dengan senyuman dan duduk di meja sebelah saya. “Drama bikinan kamu bagus…” ujarnya sesaat setelah saya duduk, tentunya pake bahasa Cina.

“真的嗎?“ (yang bener?), satu-satunya respon yang bisa saya jawab dengan bahasa Cina.

“是啊“balasnya lagi plus satu senyum lagi. Hm… orangnya ternyata tidak sedingin dan se-asosial yang dibayangkan. Menjelang teman-teman yang lain masuk, dia menulis gede-gede dipapan tulis, “Teman-teman semua, semangat ujiannya!”. Belum selesai dia menuliskan, Laoshi masuk ke kelas, Laoshi memuji tindakannya dan dia cuma menunduk malu.

Ujian kali ini terbagi dua, satu jam pertama berupa ujian listening, tata bahasa, dan mengarang indah! Dan satu jam berikutnya ujian membaca dan penampilan drama. Masing-masing group kebagian waktu 10 menit, saya dan Nicholas mendapat urutan ke dua. Sementara group satu ujian, murid yang lain diminta  untuk menunggu diluar.

8 derajat celcius… saya inget banget suhu sore itu yang saya cek sebelum berangkat ke kelas. Ditambah hujan yang tidak lebat namun rapat. Kami semua menggigil kedinginan dalam penantian yang mendebarkan. Nicholas dengan kreatifnya mencek semua kelas yang ada disekitar ruang kelas kami. “Di sini kosong!” dia membuka pintu sebuah kelas dan menyuruh kami semua masuk ke dalam. Well… lagi… dia tidak sebelagu yang ada di otak saya. Dengan setia dia mencek jam di dinding kelas, dan mengecek keluar group pertama sudah selesai atau belum. “Giliran kita…” ujarnya setelah beberapa saat mengecek keluar.

Sesampainya di kelas dan setelah melewati ujian membaca, dia menata ruangan untuk penampilan drama kami. DVD-DVD yang saya bawa (ceritanya saya jadi tukang rental DVD, hehehe) disusunnya dengan rapi. Hingga tada….. ujian berakhir dengan sangat lancar sekali! Bahkan Laoshi pun memuji naskah kami, katanya kreatif….. hehehe…

Hm… pelajarannya… keterbatasan bahasa telah membuat saya buta akan sosok seseorang yang sebenarnya. So… harus lebih semangat lagi belajarnya! Masih ada satu semester lagi! Biar tidak salah paham lagi dengan Nicholas-Nicholas berikutnya.  Semangat!🙂🙂🙂

2 thoughts on “Tidak Cukup Sekedar Bahasa Kalbu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s