Toleransi Di Taiwan

Entalah ini judul yang tepat atau tidak, yang pasti dalam tulisan ini saya ingin sekilas bercerita tentang potret kehidupan orang-orang yang saya temui setiap hari, orang Taiwan.

Kesan saya terhadap orang Taiwan adalah mereka baik… sangat baik malah. Apalagi kalau membantu, masyaAllah… begitu tulus dan tidak pernah setengah-setengah. Walau mereka jarang tersenyum, namun jika sudah kenal hampir semuanya merupakan pribadi yang mengasyikkan. Banyak kisah tentang mereka yang akan saya ulas dilain kesempatan. Kini… saya ingin membahas salah satu karakter mereka, yakni cuek.

Orang Taiwan tipe manusia yang cuek banget… dan tidak suka terlibat urusan orang lain. Bahkan mau bergaya seperti apapun “bebas” tidak ada yang akan mengkritik apalagi memarahi. (Tapi suka ngerasa aneh lihat orang berjilbab, piye tho :P). Disekolah juga tidak ada aturan ketat mengenai pakaian (masih pakai seragam sih), warna rambut, model rambut bahkan pemilihan gender. Suka-suka anda lah.

Mereka juga terkadang individualis, namun bukan berarti nggak suka bantu yah. Hm… mungkin ya karena tidak suka ikut campur urusan orang lain tersebut. Kalau orang Indonesia yang dalam perjalanan 1-2 jam via kendaraan umum biasanya suka dapat kenalan baru, hal tersebut sangat langka sekali terjadi di Taiwan, khususnya di kota-kota besar (soalnya pernah punya pengalaman pergi ke kampung2 gitu… orang2nya masih cair seperti di Indonesia kok). Dalam perjalanan yang cukup lama tersebut, biasanya mereka memilih untuk tidur. Mungkin karena telah letih beraktivitas.

Salah satu yang terkadang suka bikin greget adalah kecuekan mereka di dalam bus atau kereta. Terkadang ada orang yang mengokupasi dua tempat duduk, satu untuk dirinya, satu untuk tasnya. Dan mereka tidak akan peduli jika masih ada orang-orang yang tidak kebagian tempat duduk. Bagi mereka yang tidak kebagian tempat duduk, karena orang di sini tidak suka ikut campur dan mungkin juga tidak suka cari masalah, biasanya mereka cuek saja dan menikmati untuk berdiri (walau dalam hati mungkin gondok juga).

Kebetulan saya pernah menjadi orang yang tidak kebagian tempat duduk, padahal disalah satu sisi ada seorang penumpang dengan tas didudukan dikursi sebelahnya. Penumpang cukup penuh malam itu, karena akhir minggu dan rata-rata orang-orang baru pulang kampung. Saya pun kondisinya kurang fit setelah seharian beraktivitas. Sedikit was-was saya coba mendekati orang tersebut dan menanyakan apakah ada orang yang akan menempati kursi tersebut. Pertanyaan basa-basi aja siy… biar dia ngeh gitu.  Dia jawab tidak, namun tidak melakukan apa-apa, seperti: memindahkan tasnya . Hingga akhirnya saya berkata “Bisa tolong pindahkan tas anda? Saya mau duduk disitu.” Sedikit merengut, penumpang tersebut memindahkan tasnya dan saya duduk dikursi tersebut. Aiyo… saya tidak tahu apa yang ada dipikiran tu orang dan saya tidak peduli. Sebagai penumpang itu adalah hak saya, karena saya membayar tiket, lain halnya kalau tu orang membeli dua tiket, satu untuknya dan satu untuk tasnya. Dan penumpang lain..sorry ye.. salah sendiri nggak berani ngomong😛

Kasus lain yang cukup “mengena” ketika saat itu saya naik kereta api lokal bersama teman-teman. Kebetulan memang akan ada sebuah event, jadilah kereta penuh sekali saat itu. Saya merasakan kembali sensasi busway (esp Senen, Harmoni dan Kampung Melayu :P) yang pengap dan berdesak-desakan. Bedanya kalau di Jakarta ini adalah fenomena setiap hari, di Taiwan mungkin hanya dua kali setahun. Saat akan naik kereta, posisi saya pas sekali didekat pintu, dan pintu akan segera ditutup. Orang-orang didepan saya, cuma berdiri, tak mau bergeser sedikit pun, padahal di dalam masih ada space untuk berdiri. Orang-orang Taiwan lainnya diam saja dengan kondisi tersebut, tidak bertindak untuk melakukan apapun. Yang penting mereka sudah “aman”. Karena kasihan melihat saya, akhirnya salah seorang teman turun tangan. Orang-orang yang tidak bergeming dimintanya untuk bergeser kedalam. Awalnya mereka cuek saja, tapi karena teman saya meninggikan nadanya dan menggunakan kata-kata yang cukup tegas, dengan kesal mereka akhirnya berpindah juga. Ah… cape deeeh…

Salah Satunya mungkin seperti ini, seharusnya bisa satu atau dua orang lagi duduk dideretan tersebut

Dan kasus teranyar terjadi tadi sore… ketika saya pulang dari Taipei menuju Zhongli. Karena mendekati tahun baru Cina, angka mobilisasi semakin tinggi karena orang-orang mau pulang kampung. Bus ke Zhongli yang biasanya sepi penumpang, kali ini hampir penuh saat akan berangkat dan menaikkan beberapa orang di jalan. Awalnya saya dan penumpang bus lainnya tidak ngeh apa yang terjadi, hingga bus berhenti dipinggir jalan dan pak sopir naik ke atas (posisi supir di bawah, penumpang di atas). Dia menghampiri seorang ibu dan meminta ibu tersebut memindahkan tas kreseknya dari kursi di sebelahnya (cuma tas kresek mungil saudara-saudara! Bukan tas besar yang berat dan makan tempat). Si Ibu itu keberatan, dan Pak sopir jadi “memarahinya”. Karena atas kearogansiannya itu, seorang penumpang tidak kebagian tempat duduk. Awalnya sipenumpang sudah minta izin untuk duduk dikursi yang memang seharusnya untuk dia itu, namun si ibu menolak, karena kursi itu untuk tas kreseknya. Karena tidak mau cari masalah, jadilah si penumpang memutuskan untuk duduk di tangga saja, yang tentunya dilarang oleh supir. Karena jika dilihat oleh polisi bus tersebut akan ditilang karena dituduh membawa penumpang melebihi kuota (tolong jangan dibandingkan dengan bus di Indonesia :P). Selain… hak si penumpang tentunya mendapatkan tempat yang layak dan nyaman sesuai dengan yang sudah dibayarkannya. Setelah “diceramahi” oleh pak supir barulah si ibu tersebut memindahkan tas kreseknya dan sipenumpang malang akhirnya mendapatkan tempat duduk. Weleh-weleh deh beibeh…😛

*di Taiwan hanya bus dalam kota yang membolehkan penumpang berdiri karena tidak kebagian tempat duduk, namun untuk bus antar kota semua penumpang harus duduk.

** foto diambil oleh Non Bunge

5 thoughts on “Toleransi Di Taiwan

  1. Share pengalaman yang sedikit aneh juga, pernah suatu kali saya bersama pak supir taksi melintas di jalan yang ada kecelakaan motor, terlihat pengendara dan rekannya kesulitan berdiri, namun tidak ada yang mencoba menolong. Saya agak heran karena di sepanjang jalan padahal ada yang berdiri dan hanya lihat aja kayak lagi nonton balap yang salah satu racernya jatuh…hehe saya juga jadi bingung euy.

    Tapi yang mantabs kalau kita udah kenal dekat ada yang sangat tidak cuek mbak, seperti teman saya sampe ditungguin di rumah sakit pas salah jatoh maen bola (tangan terkilir)…hehe.

    • wah pengalaman yang bikin salah tingkah, jadi bingung nggak tau mesti ngapain😀
      Yoha itu sisi paradoknya, ketika sudah kenal mereka akan jadi orang yang sangat baik dan perhatian sekali ^__^

    • Mr. K(ahlil), kalau soal lalu-lintas, Taiwan punya peraturan khusus. Jika terjadi kecelakaan, area di seputar TKP harus steril dari orang2-yang-tidak-berkepentingan. Mengapa? Supaya polisi (yang pasti akan segera tiba) dapat mengamati TKP yang belum terjamah. Jadi, orang lain yang berada di sekitar TKP biasanya lebih memilih bersikap demikian, tidak menolong. Begitu [*kata Pak Samsul :D].

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s