Tong Sampah Nyaring Bunyinya

Di kampus saya -sebenarnya- ada banyak mahasiswa asal Indonesia. Namun karena sistem yang ditetapkan oleh kampus, kami menjadi “terpisah”. Ada dua jenis mahasiswa asing di kampus saya -dan juga Taiwan secara keseluruhan- yakni Internasional Student (IS) dan Chinese Overseas Student (COS). COS ditujukan kepada orang-orang warga negara manapun yang berdarah/keturunan Cina. Jadi mahasiswa Indonesia di kampus dan di Taiwan terbagi atas dua kubu, Mahasiswa Internasional asal Indonesia dan Chinese Overseas Student asal Indonesia. Karena sistem yang berbeda, proses masuk mereka pun berbeda-beda. Dan karena sudah dibeda-bedakan ini, kami jadi seolah-olah berbeda, padahal sama-sama orang Indonesia, dengan semangat ke-Indonesia-an yang sama.

Sebuah event di kampus secara tidak langsung mempertemukan kami, dan kami jadi saling mengenal satu sama lain. Mungkin selama ini sering berpapasan di jalan namun tidak ngeh, khususnya oleh saya. Karena raut muka mereka sangat mirip sekali dengan orang Taiwan. Mereka pun, juga biasanya tidak mau atau malu menyapa duluan dengan kami mahasiswa internasional asal Indonesia, yang jelas-jelas mukanya beda. Hehehehe😛 Selama saya berada di sini, saya baru satu kali disapa oleh teman overseas Chinese. Kebetulan saja gedung kami bersebelahan dan sering bertemu jam istirahat siang. Bibit -bukan nama sebenarnya :P- dengan gaya cerianya yang khas menyapa saya dari atas sepedanya. Sejak itu, kami saling bertegur sapa jika bertemu.

Nah… sejak event dikampus yang “menyatukan” kami dan seringnya frekuensi saya bertemu Bibit, sekat yang tidak pernah ada tersebut perlahan hilang satu persatu. Bersama dua orang temannya yang lain -Cantik dan Ganteng (masih bukan nama sebenarnya)- kami sering berpapasan di terminal bus, menunggu bus terakhir yang membawa kami kembali ke kampus. Bus terakhir perlu rasanya ditekankan, karena memang ketemunya selalu pas nunggu bus terakhir (ketahuan deh manusia malam semua :P).

Percakapan kami mengalir begitu saja dan merupakan sambungan dari percakapan dipenantian bus sebelumnya. Saya sangat senang, karena itu menunjukkan mereka ada ketertarikan dengan saya, dan bahkan mengingat dengan baik jurusan saya, sudah berapa lama di Taiwan dan percakapan terakhir membahas apa. Hehehe… Saya cukup terkejut juga, karena dengan teman-teman overseas sebelumnya, kami tidak mempunyai percakapan dengan suasana yang begitu akrab. Yang membuat saya sangat senang, mereka memanggil saya “KAK” bukan “MBAK”, jadi mereka benar-benar serasa seperti adik-adik saya.

Semalam merupakan pertemuan kami yang kesekian kalinya. Cantik dengan begitu bersemangat menanyai tentang riset saya bahkan Ganteng yang sebelumnya cuma senyum-senyum, dipertemuan malam itu malah ikutan berdiskusi dengan hangat. Dalam hati saya tumbuh rasa-rasa penyesalan, mereka ini juga adik-adik saya, namun saya tidak pernah memberikan perhatian saya kepada mereka. Mereka tak ubahnya saya yang dulu, ketika pertama datang ke Taiwan dan tidak tahu apa-apa tentang Taiwan. Begitu lugu… dan polos… Mereka masih semangat bertanya ini-itu sampai kami masuk ke dalam bus. Di dalam bus, forum kami masih berlanjut, saya dan Bibit yang duduk di depan Cantik dan Ganteng sampai harus memutar posisi duduk demi kenyamanan diskusi kami.

Perlahan rasa ingin tahu saya akan kehidupan mereka pun menjalar dengan hebat. Satu per satu mereka berbagi kisah dan lagi saya terhenyak… kenapa saya tidak bisa menjadi “seseorang” bagi mereka. Minimal… seseorang yang bisa berujar “Tetap semangat ya adik-adik…!” Apa yang mereka alami, tidak seberapa dibanding saya. Mereka yang baru saja tamat SMA merantau ke negara orang dan memasuki kelas internasional (ternyata ada buat S1) tapi…. kelasnya bahasa Cina semua.

“Kalian bukannya sudah pada jago bahasa Cina?” potong saya saat Bibit mewakili teman-temannya menceritakan kesulitan mereka dalam belajar.

“Iya Kak… kalau cuma buat percakapan oke lah… Kita jago semua. Tapi kalau dalam kelas, ada banyak istilah yang tidak kita pahami. Mana dosennya suka pakai pribahasa lagi kalau mengajar. Seperti di Indonesia gitu kak… ‘tong sampah nyaring bunyinya'”

“Ho…” saya manggut-manggut menerima penjelasan Bibit dan mikir… ada ya di Indonesia pribahasa itu.

“Bit, maksud kamu ‘tong kosong nyaring bunyi nya?'”

“Hehehe.. Iya Kak.. itu maksudnya” Sontak saja kami semua tertawa, namun saya miris juga. Entah mengapa saya jadi tertarik mengadakan penelitian terhadap mahasiswa OC yang bersekolah di Taiwan, apakah kemampuan bahasa Indonesia dan Bahasa Ingrisnya mengalami penurunan?

Karena terkadang, pemilihan kata dari teman-teman OC agak kurang tepat bagi saya. Walau sebenarnya pemilihan kata yang tidak tepat juga banyak terjadi oleh orang Indonesia secara keseluruhan. Namun tingkat “kejanggalannya” teman-teman OC agak tinggi levelnya😛

Setelah bercerita panjang lebar, saya saran kan ke mereka untuk menginformasikan ke adik-adik atau junior mereka untuk mendaftar di dua jalur COS dan IS, karena ada kok teman COS yang keterima di IS. Dan Bibit menjawab “Oh bisa ya Kak. Saya dulu juga kirim dua lamaran Kak. Tapi yang satu rusak kena air.”

“Rusak kena air?”

“Iya Kak.. karena saya mengirimnya pakai perahu.”

Teng-tong… ada yang tau perusahaan jasa mana yang menyediakan layanan pengiriman dokumen pakai perahu?

“Kok pakai perahu?” tanya saya dengan lugunya. Gambar seorang petugas diatas perahu dengan tumpukan dokumen menari-nari di imajinasi saya.

“Biar murah Kak.” jawab Bibit. Penasaran saya korek terus, hingga saya ngeh… yang dimaksud Bibit adalah pengiriman barang pakai kapal! Hehehehe…. Tuh… ada yang tertarik untuk meneliti hal ini?😛

Tak terasa… 30 menit perjalanan sampai juga, mengantar kami ke asrama masing-masing. Sepanjang perjalanan menuju asrama mereka masih antusias bertanya ini dan itu. Hm.. tidak ada kata terlambat bukan? Setidaknya untuk berujar : “Adik-adikku…. tetap semangat!”🙂

 

 

 

 

4 thoughts on “Tong Sampah Nyaring Bunyinya

  1. Ahahaha..AGREE😀. Anak-anak COS di NCYU juga begitu kok, Rinc. To be exact, orang2 keturunan Tionghoa yang pernah kutemui, banyak yang gitu. Well, kurasa kejanggalan2 bahasa mereka muncul karena Bahasa Indonesia bukan merupakan mother language di keluarga mereka. Jadi, ya, ga bisa disalahkan juga. Mungkin itu malah jadi “signature” mereka kali ya =p.

    • Hahahaha.. hm… bisa jadi ^__^
      Tapi kamu sempat berbicara dengan Pak Makoto kan?
      Beliau juga mother language nya bukan Bahasa Indonesia, namun kamu buktikan sendiri kefasihannya😀
      But ya.. mungkin itu memang “signature” mereka ^__^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s