Live in Reality! (part one)

Aha…. setelah dipikir-pikir, hidup saya selama di Taiwan cukup menyedihkan *in some points*. Tinggal di sebuah ruangan yang lazim disebut kamar, walau ada penghuni lainnya, but actually I am alone. Di tahun pertama dan kedua masih lumayan, rumet saya orangnya asyik diajak ngomong dan kami bisa menjadi dekat satu sama lain. Yang sekarang? Hm… ada beberapa orang yang sekamar dengan saya, but it means nothing. Kami hanya bertemu saat akan saling beristirahat, dan melalui hari tanpa komunikasi. Jadilah kehidupan saya terkadang cukup membosankan.

Bangun tidur, mengotak-atik laptop, entah apa yang saya kerjakan. Terkadang saya berolah raga sejenak, lalu melanjutkan aktivitas diperpustakaan atau masuk kelas jika sedang ada kelas. Siangnya pulang, istirahat dan makan lalu kembali ke perpus lagi. Perpus satu-satunya pelarian karena saya tidak punya lab, adapun ruang belajar jurusan, kubikal-kubikalnya sudah di tag oleh para senior yang entah kapan akan lulus, dan anak baru (padahal sudah dua tahun lebih) cuma kebagian meja bundar, untuk dipakai secara keroyokan. Yeah… dari pada begitu mending ke perpus😛 Sorenya saya balik lagi ke kamar, istirahat sampai magrib menjelang. Ba’da Isya kalau lagi rajin saya balik ke perpus lagi… kalau enggak ya dikamar. Kadang nonton, kadang skype-an, dan tentunya fesbukan. Kekeke… See? How boring my life is?

Terkadang saya memvariasikan dengan beberapa kegiatan, seperti merenda, makan malam dengan teman or ikut kegiatan A-B-C-D bla-bla-bla… But.. its still bored! Makanya, saya tidak pernah melewatkan kesempatan pergi ke mesjid setiap jumat dan minggu… I have a life there… berkomunikasi dengan orang secara langsung dan nyata!

Hingga tawaran itu datang… a challenge to experience the real life of Taiwanese! Yeah…. teman saya menawarkan saya menginap dirumahnya, nggak tanggung-tanggung selama 4 hari (malah ibunya menyarankan sebulan :P). Kebetulan Senin kemarin memang ada hari libur nasional, jadi teman saya punya waktu luang untuk berleha-leha dengan saya. Tentunya saya nggak pake pikir panjang untuk bilang “YA!”. Ini bukan kunjungan perdana saya ke rumah sang teman, namun merupakan untuk pertamakalinya menginap di sana.

Hm… saya tidak memiliki rasa sungkan atau gimana gitu untuk menerima tawaran tersebut (dasar nggak tahu malu! Kekeke), karena saya sudah menganggap dia sebagai saudara pun kakak dan adiknya. Kami sudah sering jalan berempat, so…. minimal sudah saling kenal. Pun dengan ibunya, saya tidak sungkan untuk memanggilnya Mami (she asked me to call her with that name). Setiap bertemu Mami usai shalat Jum’at saya selalu menyalaminya dan menciumi punggung tangannya, sama seperti saya menghormati orang tua saya. Papa pun dengan PD saya panggil dengan sebutan Baba (sksd banget nggak sih siguweh???). Saya selalu cerita ke rumah (keluarga di Bukittinggi), bahwa mereka adalah keluarga saya di sini. Jadi orang rumah jangan terlalu khawatir ^^

Dan bagaimana pengalaman saya menjalani kehidupan asli keluarga Taiwan? Here are some of the stories…

Hari Pertama : Jumat, 25 Februari 2011

Berhubung siang saya ada meeting dengan Ibu Prof, saya baru bisa datang kerumah sahabat saya ba’da magrib. Dijemput dengan motornya, kami berlalu kerumahnya yang berada dibelakang mesjid. Ada Mami dirumah, yang menyambut saya dengan heboh. Berkali-kali nama saya dipanggil dari arah dapur. Mami memang sedang memasak di dapur. Tanpa ba-bi-bu langsung saya hampiri Mami ke dapur. Sahabat saya ijin untuk pergi mandi, karena dia juga baru pulang kerja, dan tinggallah saya di dapur bersama Mami. Petaka! Hahaha…. karena mau-tidak mau saya harus mempraktekkan bahasa Cina saya yang ala kadarnya. Mami sedang memasak satu wajan besar cabe, katanya ini cabe ala Indonesia. Saya belum percaya jika saya belum mencobanya, jadi aja saya iya-iya aja. Sebagai anak baik, hohoho… jadilah saya bertanya apa yang bisa saya bantu. Dan malam itu saya kebagian mengisi air minum dan ngaduk-ngaduk bubur. Kekeke… kebetulan Mami juga tengah memasak bubur beras. Hm… setelah saya cicipi.. bubur ini seperti proses pembuatan tape ketan hitam, namun dikonsumsi sebelum menjadi tape dan memang nggak make ragi.

Mami memasak bubur sebanyak satu gentong gede! Haiyah… xixixi… dan setiap ditambah gula, saya yang disuruh mencicipi rasanya, sudah pas atau belum. Hm… I am not really like this bubur, karena basicly saya memang nggak suka makanan yang manis-manis selain olahan coklat! hohoho… Beres memasak bubur, Mami menyuruh saya mencicipi cabai yang dimasaknya. Mami yang bener aja! Huahaha… namun saya tidak bisa menolak, saya colek colekkan cabe yang disuguhkan Mami, mencicipinya daaaaaan m.a.n.ta.b! Rasanya oke punya… benar-benar sambal Indonesia, malah saya bisa bilang rasa sambel Minang! Rasanya sama dengan yang dirumah saya, semua warung Indo kalah sambelnya! kekeke…. So, ketika disuruh untuk makan malam, saya tidak pakai malu-malu tapi mau. Langsung saja saya hajar masakan Mami yang sedap tiada terkira….

Usai makan, saya kira saya sudah bisa beringsut ke lantai tiga, kamar sahabat saya. Baru saja saya membereskan tas di ruang tamu dan bersiap naik, Mami memanggil dari luar.

“Lina… gen Mami qu… Rina, ayo pergi sama Mami

Akhirnya, saya keluar dan mendapatkan Mami tengah membawa satu rantang makanan yang berisi bubur.

“Women yao qu na li? Kita kemana Mom?

“Wo de peng you jia. Kerumah teman saya.” Nggak pake lama, akhirnya saya mengiringi langkah Mami menghampiri rumah seorang tetangga. Muslim juga, I know that aunty, sering ketemu juga di mesjid. Sedikit berbasa-basi, Mami pulang dan mengisi rantangnya untuk diantar ke rumah tetangga yang lain. Subhanallah…. Mami keren banget! She knows how to be a good neighbour based on Islamic teaching.  Padahal, Mami baru pulang kerja. Mami bekerja dari jam delapan pagi sampai delapan malam, dan masih sempat-sempatnya membuatkan bubur untuk tetangga. “Cara untuk menjaga silaturrahmi…” begitu kata Mami…

Speechless… tidak tau mesti berkomentar bagaimana. Namun terus terang saya begitu terharu akan ketulusan Mami. Mami bercerita panjang lebar, saya tidak begitu paham maksudnya, namun yang pasti dia berbicara tentang rizki. Karena berulang-ulang kata tersebut diucapkan Mami…. Mungkin Mami berbicara… walau sedikit, rizki itu harus dibagi-bagi. Hehehe… ^_^

Hm…. first impression yang begitu menggoda. Cerita mengharu-biru lainnya…. tunggu part dua yah! ^__^

foto di colong disini

2 thoughts on “Live in Reality! (part one)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s