[Parenting Note]: Mirror Stage

Kemulian utama seorang wanita dalam Islam terletak pada fungsi dan peranannya di struktur terkecil sebuah peradaban bernama keluarga. Bagaimana keberhasilan seorang suami, tergantung dari dukungan sang istri. Bagaimana kesuksesan seorang anak, tergantung dari bagaimana ibunya mendidiknya. Bahkan… pendidikan seorang anak telah dimulai semenjak berada dalam kandungan.

Seperti sebuah hadist yang begitu sering kita dengar :

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, suci bersih. Maka orang tuanyalah yg menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi” (HR Imam Hakim)

Dan salah satu kunci utama keberhasilan dalam mendidik anak adalah dengan menjadi role model yang baik bagi si anak. Anak-anak, apalagi anak kecil, sangat senang mengopi orang tuanya (mirror stage). Sebuah contoh yang saya alami sendiri (bukan sebagai orang tua tentunya,kekeke), yang memberi keyakinan bagi saya, jika saya ingin memiliki anak-anak yang baik dan sholeh/sholehah… maka kesholeh/ah-an itu harus dimuali dari diri saya dulu! Saya harus memulai kebiasaan-kebiasaan baik, yang nantinya akan dicontoh oleh anak-anak saya. Dan proses transfer ilmu akan lebih mudah kedepannya. (secara teori begitu).

Contoh tersebut saya alami ketika saya menginap dirumah teman saya. Beliau memiliki seorang anak perempuan berusia empat tahun. Pagi itu sembari menikmati sarapan pagi, saya bercengkrama dengan si adik kecil, bersama seorang teman yang tengah mengoprek-oprek facebook. Untuk memancing ketertarikan si adik, teman saya menampilkan foto yang ada si adiknya. Dan untuk membuka percakapan, kami menanyakan hal-hal terkait foto tersebut. Mulai dari bajunya yang bagus, beli dimana, siapa yang dandanin dan sebagainya. Hohohoho… Honetsly tidak mudah untuk bisa dengan cepat dekat dengan anak kecil. Pfuuf….

Untungnya si adik tipe es. Tipe yang dingin namun cepat mencair ketika diberi kehangatan. Huahahaha… Dengan lancar dia bercerita dan dengan muka sedih berceletuk, “Iya…tapi baju yang itu tidak ada jilbabnya….”

“Tidak ada jilbabnya?”

“Iya… soalnya yang buat nenek. Dan nenek nggak kasih jilbab buat baju yang itu…”

See?? Apa yang ada dalam pikiran anda ketika seorang anak perempuan kecil bersedih hati melihat fotonya yang tidak berjilbab? Usianya baru 4 tahun… Mungkin dia belum mengerti konsep halal-haram, wajib-sunnah.  Dia juga tidak mengerti apa itu aurat. Bahkan apa itu jilbab saja dia tidak paham, apalagi fungsinya sebagai penutup aurat perempuan. Namun dia sudah memiliki pemahaman, bahwa seorang muslimah itu harus berjilbab. Yang ada dipikran saya adalah..”Bagaimana cara mengajarinya?”. Karena penasaran saya langsung menanyakan kepada ibunya. Jawabannya sederhana… anak belajar dari apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Dicontohkan dengan mengajarkan bahasa. Kita tidak pernahkah mengajarkan anak bahasa sehari-hari? Tapi bagaimana mereka bisa?

Ya… mereka dengan kejeniussannya mengeksplorasi apa yang ada disekitarnya. Belajar sendiri dan memahami dari mimik, intonasi dan apa yang ditampilkan oleh orang-orang disekelilingnya. So… poin pertama yang harus dicatat… jadilah role model yang baik untuk anak-anak kita ^__^. Dan untuk bisa menjadi role model yang baik tidak bisa dengan sekejap mata saja, namun harus dimulai dengan menjadikan hal-hal baik sebagai kebiasaan. Itu artinya…. harus dimulai dari sekarang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s