What’s In a Name? (jutek version :P)

Kayaknya Shakespeare terlalu melow dan berputus asa, ketika menggunakan kalimat tersebut, yeah… apalah arti sebuah nama?

Eits… jangan salah mas! Nama adalah doa! Selain itu, nama juga merupakan “signifies” yang membentuk identitas sesuatu. Contoh… ketika seseorang menyebut Nasi Goreng, maka kita sudah bisa membayangkan apa yang dimaksud orang tersebut. Dan jika ditambah Nasi Goreng Padang, nah kita pun bisa bertransformasi dari nasi goreng yang satu ke nasi goreng yang satunya. Bagaimana jika penamaan nasi goreng tidak pernah ada? Masak mesennya “Bu saya pesen nasi yang ada kecapnya, ada bawang merah dan bawang putihnya, trus digoreng ya bu? Pake telur kayaknya lebih mantep deh bu, apalagi sayur dan tomatnya banya. Oh iya kalo g salah ada cabe dan mericanya juga”. Kebayang wasting time nya? Diturunkan lagi, bagaimana kita bisa bilang kecap, bawang merah, digoreng… jika penamaan terhadap hal-gal tersebut tidak ada? Nah lo…

Jadi apa arti sebuah nama? Sangat berarti! Bahkan Adam pun, ketika masih di surga diajarkan nama-nama mahluk dan benda (CMIIW). Dan apa jadinya komunikasi manusia jika semua yang ada dihadapan mereka, semua yang mereka rasakan, semua yang mereka dengar hanya sesuatu yang bersifat abstrak?

Dan bagi manusia sendiri, nama merupakan sesuatu yang sangat sensitif. Sensitif? Ya… karena bisa memancing kemarahan seseorang, jika orang lain melupakan namanya. Xixixi… Selain nama juga merupakan identifikasi terhadap si individu tersebut.

Kisah unik terjadi di Taiwan, dimana setiap orang disini rata-rata memiliki dua nama. nama Cina dan nama mereka dalam bahasa Inggris. Bahkan untuk muslim, terkadang memiliki tiga nama (nama Cina, nama Inggris dan nama Arab :P). Nama Cina merupakan nama yang diberikan oleh orang tua, nama Inggris biasanya yang memberikan guru les bahasa Inggrisnya, dan nama Arab biasanya yang ngasih Imam mesjid. So jangan heran, kalau nama Inggris dan nama Arab orang Taiwan muter-muter di sana aja😛 Kadang… kalau sudah dewasa dan bisa memutuskan sendiri, mereka mengganti sendiri nama Inggris ataupun nama Arabnya. Well, terkadang saya suka mikir sih, bagaimana pengaruh nama-nama asing ini terhadap pembentukan identitas mereka? Contoh… teman muslim A dan B. Teman muslim A ketika bergaul dengan teman-teman asingnya, lebih cenderung menggunakan nama Arabnya ketimbang nama Inggrisnya, berkebalikan dengan teman B. Nah… apakah teman A ingin identitas muslimnya lebih di tonjolakan dan teman B justru tidak mau keislamannya menjadi representatif dan pengidentifikasian dirinya? Atau… nama Inggris terdengar lebih keren daripada nama Arab? Wow… kajian menarik untuk mengeksplor seberapa jauh remaja muslim Taiwan proud to be a muslim .😀

Hehehe…. lagi-lagi saya melenceng jauh😛 Padahal tujuan utama postingan ini adalah… terkait dengan arti sebuah nama yang sensitif tadi itu. Kejadiannya kemarin, ketika saya main ke kantor jurusan. Saya ingin mem-book ruangan, dan Tiffany, petugas yang biasanya bantu saya jawab, “Pesen ke Jenny ya.” Well… saya tidak tahu yang namanya Jenny siapa, namun di ruang itu hanya ada dua orang, dan orang yang satunya duduk di meja yang bertuliskan “Jenny”. Segera saja saya menghampiri, dan dengan cepat Tiffany menyegat, “No… qian mian… (Bukan… yang di depan)”. Ho.. saya berlalu ke meja resepsionis, ada dua kemungkinan, yang duduk itu bukan Jenny, tapi dia duduk di meja Jenny. Atau… di ruang itu ada dua orang Jenny, Jenny yang duduk di meja Jenny dan Jenny yang jadi resepsionis. (as I mentioned before, nama Inggris orang2 di sini muter2 di beberapa nama aja).

Namun meja resepsionis kosong, jadilah saya diminta untuk oprek-oprek jadwal sendiri. Setelah menemukan ruangan yang pas, dan karena di resepsionis tidak ada orang, jadilah saya kembali ke Tiffany. “Booked to Jenny“, gitu lagi katanya. Karena bingung, otomatis saja mulut saya berujar “This one? Jenny, this one?” tanya saya lugu dan menunjuk kepada seseorang yang duudk dimeja bertuliskan nama Jenny. Tiffany tertawa ngakak, entah apa yang lucu. “Yeah…. Jenny this one…” ulangnya. Jenny this one langsung pasang muka masam. BT banget kayaknya karena eksistensi dirinya dipandang sebelah mata oleh saya. (Padahal bukan gitu… hiks.. T-T). Selesai booked tempat saya ucapkan terima kasih ke Jenny, dia menjawab namun dengan muka datar. See… nama itu sangat sensitif!😛

Lalu saya kembali ke meja Tiffany, menyelesaikan beberapa urusan, giliran pulang, saya hampiri meja Jenny. “Thank you Jenny….” ujar saya, seraya menekankan pada namanya. Masih dengan muka datar, Jenny cuma menjawab singkat “Bai-bai..”.

So… sekali lagi Shakespeare… nama itu sangat berarti!😛

2 thoughts on “What’s In a Name? (jutek version :P)

  1. Ckckckc jangan heran juga klo minggu depan namanya akan ganti lagi jadi cindy, cassey, steffany atau yg lain … Jadi mungkin buat mereka nama itu sekedar label macam kecap, terasi atau yg lain heheheh

  2. xixixixi…
    hahaha bener banget.. saya punya temen namanya Lucky.
    Gitu saya kenalin ke temen saya, namanya dah ganti jadi Vera, hehehe:P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s