Sebuah Kontempelasi Di Akhir Minggu

Dalam sebuah perjalanan panjang, bersama seorang sahabat saya. Dia menanyakan banyak hal tentang apa saja yang saya suka dan tidak suka. Disatu sisi, tentunya ini akan berhubungan lebih lanjut untuk level persahabatan kami… dia ingin tahu dan paham saya lebih dalam lagi. Sehingga… segala pergesekan dan perbedaan dapat diminimalisir. Masalahnya adalah… saya tidak punya kriteria dan standar untuk segala hal yang saya suka ataupun tidak suka. Kalau suka ya suka… kalau tidak suka ya tidak suka. Abstrak, hehehe….

Dia mencoba meluaskan topik perstandaran ini dengan tidak membahas secara spesifik pada merek. Contoh… kalau baju sukanya yang model apa? Kalau rumah sukanya rumah model negara mana? Dan saya menjawab dengan jawaban yang kayaknya akan bikin BT semua penanya di dunia : “Saya tidak pernah memikirkan hal itu. Baju, ibu saya yang selalu membelikan. Saya tidak pernah punya ketertarikan dengan model dan trend tertentu. Rumah pun begitu, saya punya design sendiri tentang rumah yang saya inginkan, dan itu tidak merefers pada negara tertentu. Ataupun jenis design tertentu, saya hanya mengembangkan imajinasi berdasarkan yang saya suka, yang standarnya standar saya.”

Teman saya jadi kayak kehabisan kata-kata, hehehe. Akhirnya saya yang bertanya, “Kalau buku, kamu suka yang genre nya seperti apa?”

“Buku psikologi, khususnya buku ‘how to – how to'”, jawab si teman antusias. Dan saya justru menjawab, “Saya justru paling tidak suka membaca buku ‘how to-how to’ tersebut.”

“Kenapa?”

Yah.. Kenapa? Karena menurut saya buku ‘how to-how to’ menjadikan kita tidak menjadi diri kita sendiri. Kita dibuat tidak PD dan khawatir dengan lingkungan kita, dan terkadang… jadi berharap terlalu banyak.

Yang saya alami, sebenarnya buku ‘how to-how to’ tersebut adalah buku favorit saya… jaman SMA. Hehehe… ketika orang-orang disekitar saya heboh kerajingan bukunya Dale Carnegie dan James Stewart sewaktu kuliah S1 dulu, bagi saya, semua buku tersebut telah saya lahap ketika saya masih SMA.

Tidak hanya membaca, namun juga menerapkannya. Saya menikmatinya -dulu-, mungkin karena saya masih lugu. Hehehe… Setelah menjalani dunia nyata…. seperti masuk ke dunia kerja…. orang-orang tidak akan memperhatikan orang lain, apalagi ‘how to behave to other’. Apalagi dikehidupan saya saat ini di negara yang memang lingkungannya individualis. Orang-orang tidak akan peduli dengan sekitarnya, then why should I?

“I think I am more selfish ritenow…”

“You are not…” jawab si teman.

“No… I am more selfish….”, jawab saya, keukeuh. Tapi saya memang merasa seperti itu… Banyak hal yang terkadang saya jawab, “not my business”.  Saya bahkan sekarang jarang bertanya bagaimana perkembangan kehidupan orang-orang disekitar saya, karena pada ujungnya hanya akan bergulir sederetan keluhan yang ingin menunjukkan betapa menderitanya mereka dan di sisi lain, mereka tidak peduli jika saya juga punya keluhan atau lebih menderita. So… dari pada saya hanya menjadi tong sampah, lebih baik tidak bertanya sama sekali kan?

Tentunya ini tidak main pukul rata. Dalam artian untuk orang-orang yang masih care dan peduli sama saya, saya pun juga masih care dan peduli sama mereka. Makanya saya bilang kalau saya “more selfish”, karena saya sudah main “pilih-pilih”, hehehe….

Entahlah… untuk saat ini, itu yang saya nikmati. Karena saya bukan malaikat, saya manusia yang punya sisi baik dan sisi buruk. Saya hanya ingin semaksimal mungkin meminimalisir gesekan-gesekan sosial dengan orang-orang yang berinteraksi dengan saya. Dan hal lainnya, saya jadi tau siapa yang benar-benar teman saya… dan siapa yang hanya bermuka manis saja ^__^

Seberapa keraspun saya berusaha…. saya tidak akan pernah bisa membahagiakan semua orang… so yang utama… luruskan niat dan lebih hargai lagi yang sudah saya punya… orang-orang yang menyayangi dan menghargai saya ^_^

dedicated to all of my friends who have tried to understand me, thank you… Before I am afraid that I won’t have friends, but now I can say “alhamdulillah” that I have u all. Thank you… Thank you for accepting me as me…

I want to enjoy my own life, then I can act more and more to my surrounding.

8 thoughts on “Sebuah Kontempelasi Di Akhir Minggu

    • That’s good.. bcoz u are what u are think😀
      Dan agar tidak sekedar jadi pemikiran saja, mari direalisasikan,
      bahwa kamu adalah org yang baik.. xixixixi
      Ayo semangat nesis! *loh-loh-loh*😛

      • aih, diingatkan soal itu.. uhuk-uhuk..

        Orang baik tidak sama dengan orang rajin Mbak..

        Orang rajin –> mengerjakan tesisi

        Orang baik mengerjakan yang lain😛 *entah apa itu, geje*

    • xixixi….
      Wah klo semua orang mengikuti buku how-to, yang menyeragamkan semua orang…
      there will be no Wirya in this world. Betapa garingnya jika hal itu terjadi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s