b.a.j

Senyumnya menyapa, sejenak ku kucek-kucek mata, meyakinkan diri. Benarkah ini dia??

“*……%¥* ?” ku eja namanya, lagi dia tersenyum.

“Saya tidak sedang berhalusinasikan?” senyumnya semakin lebar, “Its me!!” ujarnya menekankan.

Sosok di depan ku sedikitpun tidak berubah, selain tampak lebih chubby, namun manis bisik teman yang duduk disebelahku. Pakaiannya memang sedikit berubah, walau sebenarnya masih sama dengan dulu. Baju kaus putih dan celana santai 3/4 kotak-kotak, bedanya kini ada jubah putih tipis melapisi pakaian tersebut.

“Bagaimana Madinah?” serbuku antusias. Sejak enam bulan yang lalu dia memang berdomisili di sana, mempersiapkan diri untuk selanjutnya menjadi Imam di mesjid kami, di daerah Zhong Li. Sudah kebiasaan bagi muslim di Taiwan, mengirimkan pemuda pilihannya ke Timur Tengah untuk mendalami Islam, kemudian menjadi Imam di mesjid. Sayangnya, sedikit sekali pemuda Muslim Taiwan yang tertarik dengan panggilan dakwah ini.

Dengan lancar dia menceritakan kehidupannya di sana. W.o.w terus terang surprise… karena sebelumnya kami selalu berkomunikasi dengan setengah bahasa Cina dan setengah bahasa Inggris, namun kini, dengan lancar bahasa Ingrisnya mengalir. Aku menyimak dengan seksama, sedikitpun tidak berupaya untuk menginterupsi. Hingga akhirnya dia berhenti sendiri, karena sudah kehabisan amunisi.

Tak lama berselang, dia pun ijin pamit, karena sederetan teman Indonesia sudah menggerubungi kami. Dia merasa kiku, dan memilih mengundurkan diri.

“I will be here for two months to go. I’ll see you on the Masjid…” ujarnya sebelum berpisah.

“Harus itu.” jawabku lantang, dan melepas kepergiannya.

***

-9 bulan sebelumnya-

“Ayo saya bantu.” suaranya mengalir, dan tanpa pikir panjang lagi mengambil alih tas tentengan dari tanganku.

“Tidak usah.” jawabku sungkan, namun reaksi yang kuberikan tidak sesuai dengan kalimat yang ku ucapkan. Tidak ada perlawanan berarti, ketika tas seberat 5 kilo itu berpindah tangan.

“Tidak apa-apa…” jawabnya lagi. Sebagai wujud terima kasih ku, perjalanan dengan berjalan kaki selama 20 menit tersebut ku hiasai dengan berbagai pertanyaan ataupun cerita ini-itu. Mencoba seakrab mungkin. Setiap pertanyaanku selalu dijawab dengan pendek, sambil sesekali dia menyeka keringat yang mengucur deras. Aku jadi semakin tidak enak, memandangi tas ku yang dengan sukarela di gotongnya.

“Kita naik taksi saja… aku yang bayar…” tawarku.

“Tanggung… sebentar lagi sampai…” Benar saja… beberapa menit kemudian kami sampai ke tempat tujuan kami.

“Terima kasih ya…” ujarku tulus, sungguh aku benar-benar berterima kasih.

“Terima kasih sudah memberi kesempatan beramal.” balasnya kemudian ditambah dengan sebuah senyuman. Sejuk. Dia pun berlalu, meninggalkan kesan pertama yang begitu dalam…

4 thoughts on “b.a.j

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s