[Cerpen] Rugi Tiga Kali

copas dari sini: http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/08/25/rugi-tiga-kali/

Waktu benar-benar cepat berlalu, tak terasa ramadhan akan berakhir dalam hitungan hari. Haura merapikan berkas-berkas jurnal yang akan di baca hari ini dan bersiap untuk melangkahkan kaki ke perpustakaan. Sepi… tidak ada heboh ramadhan seperti layaknya di Indonesia.

Sepanjang jalan, di siang yang panas terik, tampak gadis-gadis berbusana mini menikmati minuman dinginnya. Haura menelan ludah, ingin mencicipi juga. Sebenarnya dia sedang halangan hari ini, jadi tidak apa-apa jika dia turut makan dan minum juga. Namun entah mengapa, dia merasa “tidak sopan” untuk makan dan minum di area terbuka di bulan Ramadhan. Padahal, komunitas yang dilaluinya tidak seorangpun yang berpuasa. Tapi perasaan malu itu tetap ada.

Perpustakaan sudah mulai ramai, karena libur musim panas akan segera berlalu. Haura menuju lantai lima, dan duduk di pojokan dekat jendela, posisi favoritnya. Untunglah, belum ada orang lain yang mengokupasinya. Haura mulai sibuk dengan artikel yang harus dibereskannya. Sesekali dia jeda sekitar 10 menit sembari mengulang hafalan al-qur’an atau hanya sekedar mendengarkan bacaan al-qur’an dari MP3 nya, kemudian lanjut lagi dengan bacaannya.

“Mbak…tolong cek emailnya.” Sebuah pesan singkat mampir ke HP-nya. Sedikit malas, Haura beringsut ke lantai satu, yang menyediakan komputer gratis sepaket dengan internetnya. Dibacanya email hanya dari orang yang meng-sms.

“Yah… mesti ke mesjid deh…” gumamnya kemudian. Haura memang berencana tidak akan ke mesjid hari itu, karena tidak ada hal signifikan yang bisa dilakukannya di tempat mulia itu. Namun dia harus berangkat, karena Pak Budi, si pengirim pesan, memintanya menyampaikan beberapa informasi ke pihak mesjid terkait penyaluran dana Zakat Fitrah yang terkumpul dari orang Indonesia di Taiwan.

Di raihnya HP mungilnya, dan mengirimkan pesan ke sahabatnya Ruky, yang tempo hari mengajak ketemuan di mesjid namun di tolak karena dia memang tidak bisa datang ke sana. Kali ini, dia ingin mengklarifikasi, bahwa ternyata dia bisa.

***

Haura berlari cepat, jurnal-jurnal masih berserakan di meja. Waktu yang ia punya hanya 5 menit, untuk berlari ke gerbang utama kampus dan menyetop bus untuk pergi ke mesjid, agar sampai di waktu yang pas saat berbuka. Tentu bukan makanan berbuka yang dia kejar, namun jeda waktu antara makan berat sesudah berbuka dengan jadwal Isya, satu-satunya waktu yang bisa dia manfaatkan untuk bertemu dengan pihak mesjid.

Cepat Haura menyambar tas nya, memastikan kartu bus ada di dalamnya dan segera berlalu ke tempat pemberhentian pos. Benar saja, bus sudah nangkring di sana. Sekuat tenaga Haura berlari. Bus melaju pelan, Haura sedikit kehilangan harapan, namun ia terus berlari dari arah depan bus, untunglah, sebelum berbelok Pak Sopir melihat sosok Haura yang berlari dengan kepayahan dan dengan baik hati memberhentikan bus nya.

“Xie-xie*… xie-xie….” ujar Haura, berterima kasih sebanyak-banyaknya. Pak sopir cuma pasang muka cool dan meminta Haura secepatnya naik ke atas bus.

Perjalanan selama 50 menit, dengan satu kali ganti bus terasa begitu cepat, karena Haura melewatinya dengan memejamkan mata, mengistirahatkan matanya sejenak. Sedikit ragu, Haura memasuki mesjid, ternyata benar, orang-orang sudah berbuka. Dihampirinya satu meja, yang isinya orang Indonesia semua. Biasanya Haura lebih memilih untuk bergabung dengan meja yang isinya bukan orang Indonesia. Semua yang ada di sana menyambutnya dengan sumbringah, kecuali satu orang. Ya… satu orang. Mukanya masam, auranya tidak enak di pandang. Haura santai saja, karena orang itu memang selalu memasang muka seperti itu. Sayangnya Haura tidak ada pilihan, satu-satunya kursi kosong hanya ada di sebelah orang tersebut.

Suasana makan berlalu seperti biasa, penuh dengan cerita dari orang-orang yang ada di meja. Haura mendengarkan saja, dan menikmati makanan yang ada di depannya. Sesekali Haura menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Semua yang ada khidmat menghabiskan makanan yang tersedia, hingga licin tandas. Usai makan, semua orang mulai beraktifitas, sambil menunggu datangnya Isya.

Sebagian besar mahasiswa dan pekerja Indonesia melebur di bagian cuci piring, Haura biasanya memilih untuk mengajarkan anak-anak membaca al-qur’an. Ada dua alasan dia tidak mau ikut cuci piring, pertama, sudah ada orang yang di gaji pihak mesjid untuk cuci piring jadi tidak ikut pun dia merasa tidak apa-apa; kedua, dia harus memperlihatkan auratnya ketika dia harus mencuci piring. Mau tidak mau, agar tidak basah, dia harus menyingsingkan lengan bajunya ketika mencuci piring, dan itu di tempat umum. Menutup aurat hukumnya wajib, membantu mencuci piring tidak wajib hukumnya, makanya dia memilih aktivitas lain, yaitu mengajarkan anak-anak membaca al-qur’an.

Haura tidak ingin kehilangan banyak waktu, segera saja di temuinya pihak mesjid dan menyampaikan pesan dari Pak Budi. Kebetulan sekali, orang yang ditemuinya adalah pihak yang bertanggung jawab mengenai penyaluran zakat, cepat, urusan bisa di tuntaskan. Kemudian, Haura mengintip ke lantai dua, tidak ada anak-anak berkumpul di sana, karena dia memang mengabarkan tidak bisa datang selama beberapa hari kemudian. Di raba-rabanya HP dalam tas mungilnya untuk menghubungi Ruky. Tidak ada…. Dicarinya sekali lagi, tidak ada. Ah… mesti tertinggal di perpus!

Haura semakin gelisah menunggu Ruky yang tak kunjung datang, dan memikirkan nasib HP nya, apakah benar-benar tertinggal di perpus atau…? Jika tertinggal di perpus apakah masih aman atau…? Jam menunjukkan hampir pukul delapan malam, dan perpus akan tutup jam 9 malam. Tidak ada pilihan lain…. Haura harus segera pulang. Haura ingin berpamitan ke teman-teman yang sedang sibuk mencuci, namun si orang beraura tidak enak dari tadi sudah melayangkan tatapan tajam ke arahnya. Haura tau apa yang ada dipikiran orang itu, maka dia memilih untuk segera pulang saja.

***

Benar saja, HP nya tertinggal di perpustakaan. Untunglah tidak ada yang berinisiatif “menyelamatkannya”. Miss call dari Ruky ada sebanyak delapan kali. Ternyata dia menunggu di toko milik ibunya. Tidak enak, Haura mencoba menghubungi Ruky, tidak diangkat.

“Hm… mungkin masih sibuk di toko.” desis Haura dan mulai merapikan jurnal-jurnal yang berserakan di meja. Bel perpus sudah berbunyi sebanyak dua kali, artinya, dalam waktu dekat perpus akan di kunci. Usai berberes di perpustakaan, Haura tidak segera pulang ke asrama. Namun mampir dulu ke toko depan membeli beberapa sayur dan buah. Kebetulan di toko depan ada seorang penjaga toko dari Indonesia. Haura suka mampir ke sana, untuk sekedar bertegur sapa saja. Seperti malam itu… si Mbak sibuk bercerita. Haura mendengarkan dengan seksama,toh dia tidak sedang ada tugas yang membuatnya harus segera balik ke asrama. Setelah si mbak puas bercerita, barulah Haura memutuskan pulang. Serangkaian agenda mulai dirancangnya, agar malam terakhir ramadhan tidak berakhir tanpa makna.

***

Kamar Haura sedikit berantakan, namun dia sedang tidak bersemangat untuk merapikan. Dia justru beralih ke meja belajar, menyalakan laptop dan mengirimkan email ke Pak Budi untuk memberitahukan hasil keputusan pihak mesjid. Dan sebuah pesan masuk, dari si orang beraura tidak enak. Hal yang sudah bisa di duga sebelumnya. Bentuk protesnya, mengapa Haura tidak mau ikut membantu mencuci piring.

Haura tersenyum getir, hal sepele seperti itu ternyata bisa menjadi hal besar. Haura sudah berkali-kali menjelaskan alasannya, namun orang tersebut tidak mau mengerti. Namun Haura lebih tidak mengerti lagi…. jika orang tersebut tidak ikhlas dengan apa yang dia lakukan… kenapa dia masih menyiksa diri? Ketika dia memutuskan untuk tidak melakukan, tidak akan ada orang yang marah kepadanya, karena dia memang tidak di bayar untuk itu. Jika dia melakukan karena merasa sungkan… ya sudah dijalani saja, bukannya justru protes kenapa yang lain tidak ikut “menderita” seperti dia? Bukankah dia yang jadi merugi karena hal tersebut?

Di satu sisi, energinya habis terpakai untuk beraktifitas. Di sisi lain, hubungannya buruk dengan orang lain karena otaknya dipenuhi dengan pikiran-pikiran jelek terhadap orang lain. Dan yang lebih merugi…. pahala-pahalanya hangus terbakar sia-sia… karena dia sudah tidak ikhlas!

“Haaah…” Haura menarik nafas panjang. Dia pun sedang tidak ingin merusak sisa malam terakhirnya hanya karena urusan kecil seperti itu. Dialihkannya pandangan ke buku “Muhammad The Inspiring Romance”, buku keren yang membahas persiapan saat akan dan setelah menikah. Dengan meniatkan membaca buku tersebut sebagai persiapan ketika dia harus menggenapkan setengah diennya nanti, Haura berharap hal itu bisa menjadi catatan amalnya jika ternyata Malam Lailatul Qadar berlalu di hari itu.

trillilit…

sebuah pesan masuk, dari teman di Indonesia. Haura tersenyum membacanya, ingin di forwardkannya ke si orang beraura tidak enak, namun urung. Tentunya sekarang bukan waktu yang tepat. Sekali lagi… dibacanya pesan singkat tersebut perlahan, dan meresapi maknanya.

“Your help to others may go unneeded & unnoticed. Still be helpful. BECAUSE, it’s between you and ALLAH, it’s never between you and others.”

***

* xie-xie = terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s