Menikah : Sebuah Pernik Kehidupan

Hem… sama sekali tidak ada niatan untuk menuliskan hal ini.

Namun… setelah banyak cerita yang masuk akhir-akhir ini, dengan hikmah yang sama… saya jadi ingin berbagi… dengan siapapun yang terjebak pada tulisan ini.

Entahlah… kisah-kisah teman-teman seolah menjadi penguat bagi saya. Pun jadi sarana pembuka mata, bahwa Allah punya caranya sendiri dalam menyayangi umatnya. Sesuatu yang terjadi pada kita, baik ataupun buruk… adalah tergantung dari bagaimana kita menyikapinya ^-^

***

Ketika ada yang bertanya kepada saya,

“Cita-citanya apa?”

“Jadi ibu rumah tangga dan istri yang sholihah.”

Hahaha… ya… itu adalah cita-cita saya, sejak saya kecil dulu. Saya tidak pernah bercita-cita menjadi dokter… menjadi ahli hukum… menjadi pakar ekonomi atau presiden sekali pun. Cita-cita saya hanya ingin menjadi IRT, just it.

Sampai banyak yang pada protes… kalau cuma mau jadi IRT, kenapa harus sekolah tinggi-tinggi? Hallo.. lu kira gampang apa jadi IRT? 

Dan ya… setiap perjalanan menuju cita-cita tentunya bukanlah hal yang mudah dan gampang. Selalu ada banyak onak dan duri di sepanjang jalannya. Karena memang tidak mudah…. mewujudkan sesuatu yang ada dipikiran menjadi sesuatu yang nyata. Butuh sebuah kekuatan Maha Dahsyat dari pemilik segala ketetapan untuk merealisasikannya.

***

Awal 2007, beberapa bulan sebelum kelulusan sarjana.

Teman-teman yang lulus dan akan wisuda bareng saya sudah mulai sibuk kesana kemari, hunting pekerjaan. Saya masih anteng-anteng saja. Karena target berikut saya bukan bekerja, namun menikah.

Faktanya? Pertengahan Agustus  saya resmi jadi warga ibukota, bekerja dan berangkat ke Taiwan pada pertengahan 2008. Menikah? Jadi cita-cita yang masih harus saya perjuangkan lagi tampaknya.

Pertengahan 2011

Lagi, saat mendebarkan dalam hidup saya datang. Beberapa bulan lagi saya akan menamatkan kuliah master saya. Teman-teman sudah mulai mengingatkan agar saya sudah mulai mencari kerja agar ketika pulang nanti tidak menjadi pengangguran, atau mulai apply S3. Advisor saya pun menyarankan hal yang sama. Bahkan beliau memperkenalkan saya dengan seorang profesor di Australia sana, yang juga punya anak didik orang Indonesia dengan riset topik yang sama dengan saya. Saat ini saya sudah diminta untuk membantu-bantu riset mereka. Saya tidak menanggapinya dengan antusias. Sungguh… karena memang bukan itu yang saat ini saya inginkan.

Dan ya… jalan menuju cita-cita saya masih sangat panjang tampaknya.

***

“Gagal lagi…” begitu ujar seorang teman, tentang ikhtiar kakak-nya dalam mewujudkan setengah dien-nya. Saya tersenyum, dan mencoba menggali lebih banyak lagi, kenapa?

Di mata saya… kakaknya seorang wanita yang sholihah, cantik, bahkan ber-body ideal (tak bisa di pungkiri, pria mencari hal ini juga :D), memiliki keluarga yang terpandang dan dia pun seorang yang berpendidikan. Saat ini sedang berjuang mendapatkan gelar masternya. Kalau merujuk ke hadist Nabi, dia sudah memenuhi kriteria tersebut. Tapi kenapa masih ditolak juga? Tidak cocok? Bukan jodohnya? Dia pantas mendapatkan yang lebih baik? wallahualam…

***

“Nggak jadi mbak…” ini berita lain, dari teman yang lain. Sang sahabat yang dengan begitu semangat menginjakkan kaki ke tanah air setelah menuntaskan program S2-nya dan yakin bisa mewujudkan harapannya untuk menjadi pendamping seorang pria yang telah sejak lama ingin mengkhitbahnya. Kandas… karena susahnya mendapatkan restu orangtuanya.

Ya… menikah memang bukan perkara gampang. Mungkin Allah sengaja mendesignnya demikian, sehingga ketika memilikinya nanti, kita benar-benar akan merawat dan menjaganya? Entahlah…

***

Sorry but I have no feeling.” Sebuah jawaban lain, dalam mengakhiri sebuah proses menuju gerbang suci itu. Saya bisa memahami hal tersebut, karena saya pun pernah mengalami hal yang sama. Saya pun pernah menolak seseorang dengan alasan tersebut, hehehe (but I did not say it as such straight way). Dan saya memang tidak bisa membayangkan bagaimana sebuah rumah tangga bisa terbingkai tanpa ada ketertarikan dari salah seorang pasangannya. Baru ngelihat muka pasangannya aja udah males, apalagi.. apalagi yah…. Hehehe. (well.. it happen in my case… jangan di generalisir :P)

Walau saya tetap mikir siy, someone could have a better answer rather than that “telak” answer. But ya… mungkin itu juga jawaban terbaik, dari pada yang disampaikan kekurangan salah seorang pihak, yang bisa menimbulkan rasa kurang enak. Sehingga berefek buruk pada hubungan selanjutnya.

***

Apapun itu…

Bagaimanapun kisahnya…

Kesimpulannya cuma satu…. Allah kasih kesempatan untuk memperbaiki diri, untuk menjadi lebih baik lagi. Hingga saat “amanah” tersebut benar-benar diberikan ke tangan kita, kita bisa memaksimalkan potensi yang telah di asah dan dipersiapkan selama ini. Begitu?😀

“Rabb, selaraskan niat kami dgn rencana-Mu, luruskan hasrat kami dgn kehendak-Mu, mudahkan urusan kami dengan ridha-Mu” (Bayu Gawtama)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s