Utamakan Kekurangan, Bukan Kelebihan

Kisah teman dan orang-orang sekitar dalam menemukan pasangan hidupnya, selalu menjadi cerita yang menarik untuk saya simak. Raut muka mereka yang malu-malu, walau sudah bertahun-tahun kisah itu berlalu, hadirkan perasaan tersendiri bagi saya. Yang pastinya, perasaan senang… Ya… hati saya selalu berbunga-bunga mendengarkan roman yang bukan picisan ini. Terkadang sambil membayangkan, kalau saya nanti gimana yaah.. hohoho😛

Ada banyak cerita… bahkan kisah Ibu dan Bapak saya tidak kalah unik, yang sering hadirkan kebanggaan tersendiri pada ayah saya ^_^. Atau kisah teman yang penuh perjuangan dengan segala lika-likunya, dan dengan kompak berkata ke saya, “Percayalah… jodoh itu memang nggak bakal kemana,” dan diakhiri dengan senyum manis mereka secara berbarengan.

Setiap dalam perjalanan, bersama teman yang sudah menikah, pertanyaan bagaimana proses mereka selalu menjadi pertanyaan andalan saya. Mungkin bagi beberapa orang hal ini tidak sopan, namun bagi saya, justru hal ini membongkar sekat-sekat yang ada di antara kami. Karena kebahagian yang selalu saya dapatkan, pun yang bercerita, raut muka senang yang ditunjukan. Walau mungkin kisah yang diceritakan penuh tragedi, seperti bertengkar pada malam pertama resmi sebagai pasangan suami istri. Hehehe…

Dan hebatnya, semua kisah itu, walau cuma diceritakan satu kali, melekat dengan sempurna dalam memori saya🙂. Baik yang menceritakan pihak pertama maupun kedua ataupun ketiga *halah*.

Berikut salah satu kisah yang cukup memberikan kesan mendalam bagi saya. Tentang bagaimana teman saya sampai ke posisi mulia itu.

“Semua berlangsung cepat… sangat cepat…” begitu kalimat pembukanya. Tak perlu rasanya saya ceritakan secara detail di sini, hehehe. Saya mau langsung to the point aja, ke strength point yang membuat proposalnya diterima.

“Saat bertemu, yang saya ceritakan semua kekurangan saya.”

Hem… ya… seketika yang muncul dalam pikiran saya…”wow.. so inspiring.”.

Gimana enggak… sering kali, dalam proses menuju jenjang “tersebut” biasanya yang ditonjolkan adalah kelebihan-kelebihan. Mencoba mencitrakan yang terbaik dari diri kita.

Padahal… dalam mencari pasangan hidup, yang kita butuhkan adalah orang yang bisa menerima kita apa adanya, iya nggak sih? So… langkah yang diambil oleh teman saya ini saya rasa layak di tiru, hehehe. Mengawali dengan kekurangan-kekurangan yang ada dalam diri, bukan sebaliknya.

Tentunya poin utamanya adalah menampilkan diri apa adanya, namun tak ada salahnya dimulai dengan kekurangan-kekurangan, yang barangkali, partner yang dihadapi bisa melengkapi kekurangan-kekurangan tersebut. Hm… ya.. who knows🙂 Seperti kata pepatah bule…”My weakness, my strength”, dan teman saya telah membuktikannya🙂

~Siguweh yang lagi bikin catatan introspeksi diri🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s