Allah Knows…

You see we all have a path to choose
Through the valleys and hills we go
With the ups and the downs, never fret never frown
Allah knows
Allah knows

Image

Untuk kedua kalinya… saya menjadi penyebab air mata kesedihan meluncur dari mata teduh itu. Pertama ketika saya “perang dingin” dengan Ayah, saat beliau tak mau juga berhenti merokok. Saya dan ayah sama-sama orang yang tak banyak kata ketika emosi menguasai kami. Jadilah saya berpindah ke kamar, dan “BRAAK…” pintu kamar yang menjadi sasarannya. Mungkin saat itu mood ayah juga sedang tidak bagus, beliau jadi marah sejadi-jadinya dengan aksi saya tersebut. Ibu menangis… karena tidak menginginkan hawa tidak enak di rumah kami. Sejak kejadian itu, setiap ayah akan merokok, beliau akan pergi ke teras rumah. Atau ketika saya pulang mendapati ayah sudah berada di ruang tamu dengan sebatang rokok di tangannya, otomatis saja saya pergi menjauh. Entah ke kamar… entah ke dapur… ya intinya menjauh.

Dan… air mata itu kembali jatuh… dan lagi-lagi karena saya! Sungguh ya Allah… saya tidak ingin menjadi anak durhaka. I love her… lebih dari apapun yang ada di dunia ini.

Seumur hidup saya, ibu tidak pernah menentang semua keputusan saya. Sejak saya SMA, I decide everything for my self. Dan selama itu pula, Ibu, Ayah, dan keluarga besar tidak pernah menentangnya. Mungkin karena apa yang saya ambil adalah keputusan yang juga baik dalam pandangan mereka. Walau memiliki kebebasan yang begitu luas, terkadang ada beberapa hal yang mereka inginkan dari saya untuk “begini” dan “begitu”. Seperti keinginan saya untuk melanjutkan S3, tidak ada restu dari mereka. Saya pun tidak memaksakan diri untuk itu. Demi mereka… demi cinta yang saya miliki untuk mereka… saya lepaskan kesempatan yang sudah ada di tangan dan bertarung dalam ketidakpastian. Luntang-lantung, apply sana-sini, mencoba peruntungan di dunia kerja. Entah karena saya yang tidak berminat, hingga hari ini baru tiga lowongan yang saya kirimkan surat lamaran. And honestly… saya tidak ada ketertarikan untuk mencari lebih banyak lagi. Hanya berharap… semoga satu di antaranya ada yang jebol… saya bisa bekerja… dan orang tua saya senang. Walau… ya.. walau saya merasa hidup saya mendadak suram. Tak berwarna… Demi mereka… tidak apa.

Namun… ternyata tidak berhenti sampai di situ saja. Ketika keinginan saya… lagi-lagi tidak sejalan dengan Ibu. Dan entah mengapa… kali ini saya tidak siap untuk “mengalah”. Saya sudah bertekad untuk memperjuangkannya… namun apakah saya sanggup… jika yang harus saya hadapi adalah orang yang paling saya sayangi di dunia ini?

Allah… you know the best for me… and please.. guide me!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s