“Zhenmeyang”, “How”, “Bagaimana?”

Ada banyak hal dan banyak cara yang membuat saya kagum dengan teman-teman saya. Mungkin prestasinya… bisa jadi amal hariannya… yang pasti… hal-hal yang tidak bisa saya lakukan dan mereka bisa. Nggak pakai pikir panjang… kata “wow” akan mengalir begitu saja.

Sebut saja Kembang, nama sebenarnya dalam versi berbeda. Sahabat saya sejak jaman S1 dulu. Bertahun-tahun kami tinggal serumah… selama itu pula melakukan kegiatan bersama. Riak dan duri persahabatan kami hadapi, manis dan penuh kesan persaudaraan kami jalani. Berbagai konflik menyapa, dalam proses saling memahami satu sama lain. Namun hingga kini… persahabatan ini tidak sedikit pun berubah… justru semakin menambah butiran-butiran syukur.

Lama kami tidak pernah bertemu… hampir 4 tahun. Ya.. sejak saya tamat kuliah dan berhijrah ke Taiwan. Hingga dalam mahligai indah pernikahan sahabat kami, kami bertemu kembali. Singkat memang pertemuan itu, tidak bisa menuntaskan semua rasa yang ada. Semua kerinduan yang tersimpan dan menumpuk bertahun-tahun. Namun pertemuan yang sekejap itu, mampu menambah satu poin kebanggan saya terhadapnya, yang membuat saya iri… sangat iri.

Poin pertama yang membuat saya iri adalah kesabaran yang begitu besar di milikinya. Ya.. hanya orang sabar yang bisa menjadi teman saya selama bertahun-tahun *hahaha :P* dan… poin berikutnya… berawal dari pertanyaan saya, apa saja aktivitas sejak selesai kuliah.

Saya cukup terkejut dengan jawabannya, yang bertahan di Bogor, daerah kelahirannya. Seorang kembang yang penuh cita-cita… yang ingin mewujudkan keinginannya… ya.. kami yang dulu sama-sama merintisnya… kini memilih untuk mengembangkan diri dengan kesempatan yang ada.

“Kenapa?” ya.. kenapa? pertanyaan itu meluncur… karena kekuatan tekad yang dimilikinya… saya tahu dia bisa berbuat LEBIH dari yang dicapainya sekarang.

“Karena orang tua…”

Deg… saya terdiam… busway yang kami tunggu datang, diantara desak-desakan penumpang saya hanya bisa berujar pelan, “andai gw bisa kayak lo.”

***

“Passion”… setiap orang memiliki passion sendiri dalam hidupnya, yang membuat mereka bisa melakukan apa saja, demi mencapai kepuasan hidup.

Apa passion anda?

Passion saya belajar… hei.. jangan tertawa.. ya.. passion saya adalah belajar!

Makanya saya sangat menikmati masa-masa S2 saya, karena saya benar-benar mengalami masa belajar yang sesungguhnya. Saat harus menamatkan kuliah saya, saya sedih… karena harus mengakhiri masa-masa indah. Banyak orang yang setress dengan kuliahnya, saya? Saya terus terang menikmati… permasalahan saya waktu kuliah malah bukan masalah belajar… tapi masalah organisasi😛 Bukan berarti belajar itu mudah ya… saya ulangi.. saya menikmati prosesnya🙂

Oh benar, belajar tidak harus disekolah. Namun dengan belajar disekolah kita bisa rileks menyandang gelar pengangguran😛 Karena ketika ditanya kerjaannya apa, bisa jawab :PELAJAR😀

Saya juga bukan orang yang suka belajar tanpa guru. Saya pernah mencoba dua-duanya.. dan bagi saya pribadi, hasilnya beda banget antara belajar dengan guru vs belajar tanpa guru. Dan semua itu juga tidak mensyaratkan sekolah untuk mendapatkannya, namun dengan sekolah.. you’ll get it for sure.

Karena passion yang saya miliki inilah… saya ingin terus.. dan terus belajar. Honestly.. saya tidak peduli dengan gelar. Mau S1 kek.. S2 kek.. S3kek.. S krim sekalian… tidak ada artinya bagi saya! Saya menghargai orang-orang yang belajar hingga tingkat setinggi-tingginya.. yang saya hargai passion nya… bukan gelar yang semakin menambah nama panjangnya… apalag arti gelar sepanjang ekor monyet itu klo g ada sumbangsihnya??

Sayangnya.. tidak semua orang bisa memahami passion saya ini. Apalagi untuk negara bernama Indonesia.

“Siapa yang mau nikah sama kamu nanti?”

“Udah dulu belajarnya… nikah dulu…”

itu kata-kata yang terus dan terus mampir ke telinga saya. Baik dari orang terdekat sampai orang yang tidak dikenal sama sekali.

“Apa kolerasinya? Apa yang ditakutkan pri dengan wanita berpendidikan -katakanlah- tinggi?”

Apakah dengan pendidikannya wanita tidak akan jadi wanita sholehah? Akan menjadi seorang pembangkang? Tidak bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik? Menurunkan derajat cintanya terhadap keluarga?

Dan sayangnya lagi… pemikiran serupa juga hinggap di alam sadar orang tua saya. Makanya… tidak heran, saya bisa kagum sekagumnya dengan Kembang yang bisa mengorbankan passionnya demi orang tuanya, disaat saya masih berkecamuk dengan pikiran saya… mana yang harus saya pilih…

Pilihan orang tua…

atau passion saya…

***

Andai dengan mudah saja bagi saya… untuk menuruti keinginan orang tua.. tentu semua akan mudah… bukankah… ridho orang tua ridho Allah??

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s