Bahasa Asing Untuk Anak?

Ini bukan tentang mengajarkan anak bahasa asing secara dini, bukan, namun bagaimana mengajarkan anak bahasa asing, sesuai kemampuannya.

Karena dibeberapa literatur yang saya baca, mengajarkan bahasa asing pada anak secara dini tidak dianjurkan, apalagi jika tujuannya hanya untuk gengsi orang tua. *dully noted* Bagi saya sendiri, mengajarkan anak bahasa asing sama sekali tidak ada kaitannya dengan gengsi, namun lebih pada pembekalannya. Pertanyaannya, bahasa apa yang akan jadi prioritas? Kapan mulai di ajar?

Saya pribadi pernah belajar 6 bahasa :

1. Bahasa Jepang : Belajarnya sewaktu SMA, sayangnya saya tidak fokus :p Ini juga krn “pengaruh” buruk teman-teman waktu itu :p But basicly, mempelajari bahasa Jepang tidak sulit menurut saya.

2. Bahasa Inggris : Mulai belajar waktu SMP, dan saya serius sekali mempelajarinya, secara otodidak. Saat itu saya berkeyakinan, Bahasa Inggris merupakan bekal yang penting bagi saya, dan memang terbukti. Untungnya waktu SMA guru Bahasa Inggris saya hebat, grammar saya d train d sini dan terus berkembang (bc belajar) sampai sekarang dengan proses yang sama : otodidak.

3. Bahasa Arab : Mulai belajar waktu SD n I know nothing about it! Saya ingat, NEM saya 4 untuk mata pelajaran ini. Nggak ngerti dah penyebabnya apa :p Gitu kuliah sempat ambil matkul bhs Arab 2 semester, tapi krn dosennya tidak serius mengajar, sj jd ikut2an tidak serius belajar :p Dan sekarang mulai serius lagi belajarnya, bismillah, harus sampai bisa sekarang!

4. Bahasa Korea : Bahasa Korea menurut saya juga mudah, tinggal mau ngafalin kosa-kata aja. Kebetulan sempat les 3 bulan, krn berencana lanjut S2 k Korea, hehehe. Namun krn akhirnya lanjut ke negara lain yg otomatis belajar bahasa lain, kemampuan bahasa Korea saya tidak terasah. Pengen sih mengasahnya lagi, tahun depan mungkin ya🙂

5. Bahasa Jerman : Belajar bahasa ini waktu kuliah S1 dulu. No specific reason, hanya karena ada teman belajarnya aja di kosan. Belajarnya juga bermodal buku yang dipelajari scr otodidak. Nggak susah-susah amat sih dan sayangnya nggak berlanjut belajarnya. Tapi dikit2 ada gunanya juga, buat belajar psikoanalisis :p

6. Bahasa Cina : nah, ini termasuk bahasa yang saya sukai. Sebenarnya nggak susah, tapi tantangannya banyak memang, terutama pronounciationnya. Saya sempat ambil kelas untuk bljr bhs Cina, tapi kemampuan mendengar saya lebih bagus drpd kemampuan berbicara. Karena sy melanjutkan belajarny scr otodidak, jd cenderung pasif, kurang ada kesempatan praktek. Karena…walau saya tau katanya namun salah nadanya, bisa beda artinya. InsyaAllah akan terus mengasah kemampuan di sini juga.

Nah, kembali kepertanyaan awal tadi, bahasa mana yang akan jd prioritas? Kapan mulai diajarkan?

Menurut pemikiran saya pribadi, yang akan jadi prioritas saya untuk diajarkan ke anak-anak :

A. Bahasa Arab : ini harus jadi prioritas utama, karena ini adalah bahasanya penghuni surga🙂 Kemampuan bahasa Arab juga akan memudahkan anak dalam menghafal Al Quran. Kebetulan lagi, saya pernah beberapa kali berkunjung ke luar negeri. Dalam kunjungan saya, saya kerapkali tidak bisa berkomunikasi dengan muslim lokal, karena kendala bahasa. Nah, coba setiap muslim di dunia menguasai bahasa Arab, whereever you are, you can communicate each other🙂 Minimal…bisa berkomunikasi dengan Imam mesjid setempat.

B. Bahasa Inggris : karena sudah jadi kebutuhan secara global.

C. Dan lain-lain. Dll? Ya… Sesuai kebutuhan, penjelasan lebih lanjut, baca terus sampai habis…😀

Nah sekarang kepertanyaan, kapan memulainya? Ini saya masih belum memiliki gambaran fix, tapi mungkin bisa dimulai pas kelas 5 SD. Kenapa? Karena ‘awareness’ anak-anak sudah mulai tumbuh pada saat itu. Dan dimulai dengan Bahasa Arab. Untuk Bahasa Inggris, nanti saja dimulainya, sewaktu SMP. Jadi dari masa 5SD-SMA, anak diarahkan untuk menguasai dua bahasa ini.

Bagaimana dengan bahasa lainnya? Menurut saya, sebagai orang tua, sebaiknya jangan terlalu ambisius. Semua pasti ingin punya anak seperti Muhammad al Fatih, yang menguasai lebih dari 5 bahasa dalam usia 16 tahun. Kalau peluang itu ada, saya dan setiap orang tua pasti akan memaksimalkannya. Kalau ternyata tidak, pola seperti ini sudah cukup menurut saya. Lanjut ya…

Nah setelah SMA, anak diberi kebebasan untuk mempelajari bahasa yang ingin dikuasai. Kalau saya sih akan mengarahkan untuk mengambil bahasa yang sesuai dengan jurusan yang diambilnya sewaktu kuliah. Contoh… Kalau ambil kuliah hukum, mungkin bisa mendalami bahasa Belanda. Kalau ambil kuliah politik, mungkin bisa ambil bahasa Perancis. Kalau ambil kuliah psikologi, mungkin bisa ambil bahasa Jerman. Kalau kuliah geodesi, mungkin bisa ambil bahasa Afrika, hehehe *kidding*. Anything based on her/his interest and passion.

Nah, menurut saya begitu, bagaimana menurut anda?

2 thoughts on “Bahasa Asing Untuk Anak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s