I just… can not…

Beberapa hari yang lalu pemberitaan di Indonesia heboh dengan berita kematian Uje. Yang paling membuat saya kaget adalah Uje meninggal karena kecelakaan tunggal dengan MoGe-nya. Kenapa harus hal itu yang membuat saya kaget? Karena terakhir saya ketemu Uje, tahun 2012 di Taiwan berkaitan dengan MoGe tersebut. Ya… waktu itu saya ‘kesal’ karena keinginannya untuk hunting-hunting MoGe. Well… tidak perlu saya jelaskan apa dan bagaimananya, yang pasti itu murni permasalahan saya pribadi, yang mungkin kurang pengertian sebagai manusia.

Nah, terkait hal tersebut, yang paling saya kritisi adalah kelebayan media dalam pemberitaan kematian Uje ini. Fokus saya pada tindakan tidak berperikemanusiaan insan media yang mengeksploitasi kesedihan keluarga Uje. Parah banget dah pokoknya. Kebetulan waktu itu saya tengah menonton TV dengan seorang teman saya, dan berhubung sebagai wanita, kami berempati dengan mencoba memposisikan diri pada posisi keluarga Uje.

“Bisa lu bayangkan, tiba-tiba lu dikabari keluarga terdekat lu ada yang meninggal?”

Glek… saya terdiam, saya tidak bisa membayangkannya.

“Apalagi kita jauh dari mereka, what will you do?”, teman saya melanjutkan pertanyaannya. Tiba-tiba saja wajah-wajah orang yang saya cintai hilir mudik di benak saya. Rasanya ingin segera pulang saat itu juga.

No! I cannot imagine it!!” entahlah… saya menjadi panik dan histeris. Saya tidak akan siap dengan pemberitaan seperti itu. No!

I know… cepat atau lambat semua itu akan terjadi. Hanya saja… hanya saja…. aaahhh… saya tidak bisa dan tidak mau membayangkannya. Semoga saja, ketika saya berada di posisi itu, saya dalam keadaan ikhlas se ikhlas-ikhlas-nya. Harus sih… >_<

Baru beberapa hari diskusi kami terjadi, tadi pagi saya dapat kabar nenek seorang teman saya yang lain meninggal dunia. Tiba-tiba saja pikiran saya penuh dengan bayang-bayang nenek saya. Saya tidak bisa bayangkan jika hal itu terjadi pada saya. Saya tidak bisa membayangkan pulang ke rumah yang tidak ada nenek saya…. rumah saya pasti akan sangat sepi… bunga-bunga di depan rumah kami siapa yang akan merawatnya? Siapa yang akan mendengar cerita-cerita saya? Siapa yang akan menemani saya jalan pagi? Siapa yang akan tertawa dengan kebodohan-kebodohan saya? Siapa yang akan sangat-sangat mengerti saya sampai tahu sebuah baju tidak pernah saya pakai lagi karena luka begitu dalam yang pernah ditinggalkannya? Saya tidak bisa!!😦

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s