Akhiri Secara Betina

Busyeet… apaan tuh? Hehehe…

Ide ini bermula dari percakapan dengan suami, tentang trauma. Waktu itu suami berbagi tentang rahasia hidupnya, hingga spontan saya merespon “Aa banyak trauma masa kecilnya dih”. Tidak mau ‘diterjang’ begitu saja, dengan diplomatis suami menjawab,” Sayang pasti juga. Setiap orang kan punya traumanya masing-masing”.

Ah yang benerrr??? Bener saudara-saudara… saya trauma menghampiri tempat yang rutin saya kunjungi beberapa bulan terakhir. Trauma dengan kata-kata yang “berbau” tempat itu. Bikin histeria, panik dan pengen hilang ditelan bumi. *apacoba*

Tapi benar… itulah yang saya rasakan. Hingga beberapa kali permintaan untuk datang tidak satupun yang saya aminkan. Ada banyak hantu di sana? Tidak tau juga, karena saya tidak punya indra keenam. Orang-orangnya tidak menyenangkan? Semua baik-baik saja, kecuali satu orang. Heu… Satu orang yang bikin malas setengah hidup. Berkali-kali suami menawarkan diri, untuk menemani mengunjungi tempat yang dimaksud dan pamit dengan baik-baik, tapi suliiiiiiit bagi diri ini berkata,”iya”. Entahlah…  Seperti udah ada tumpukan-tumpukan pengalaman buruk yang membuat diri ini lunglai, ketika harus menghadapinya.

Sempat sakit selama seminggu, karena stres mikirinnya. Maka suami support agar saya “kabur”, namun baik-baik. Dan beberapa hari ini tepar lagi, kayaknya sih karena kepikiran lagi. Ingin mengakhirinya secara jantan  eh betina, tapiiiii masih butuh suntikan kekuatan lebih banyak lagi. *apaseh*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s