The Born of The Star named Najmi Tsaqib Karimah

MasyaAllah, tidak terasa waktu bergulir begitu cepat. Najmi, putri kami tercinta sudah menginjak usia enam bulan. Bilangan yang terlalu sedikit memang, namun sudah mampu hadirkan berjuta kebahagiaan. Hari demi hari dia tumbuh dan berkembang, membuat diri ini semakin menyadari betapa semua begitu kecil dan mudah bagi-Nya. Ya… Najmi adalah bintang kecil yang mengajari kami arti keajaiban.

Sembilan bulan… waktu yang begitu singkat dan sering kali kita abaikan. Haaah… jadi pengen flash-back bagaimana Najmi hadir menyinari kami.

— deng-deng-deng…

img1403134515113

Pagi itu, Rabu, 16 Juni 2014 saya bangun seperti biasa. Ini bangun yang kedua setelah subuh tidur lagi *hem*. Tiba-tiba saya ingin buang air kecil, namun suami sedang di kamar mandi. Tidak tahan, saya berlari ke belakang, menggedor-gedor pintu kamar mandi dan meminta suami untuk keluar. Suami masih bersabun saat membuka pintu, tidak sempat melangkah ke kamar mandi, brrrrbrrr…. si urin mengalir tak terkendali. Buru-buru saya membersihkan diri, dan keluar lagi. Belum berapa lama, saya ingin pipis lagi, dan keluar sebelum sampai ke kamar mandi.

“Air ketuban kah?”, Tanya saya ke suami, tapi beliau jawab, bukan. Saya sempat baca beberapa artikel, semakin besar usia kandungan, seorang ibu akan sering pipis dan terkadang tidak terkendali, karena kantung kemih yang tertekan oleh bayi.

Saya amati airnya, bening, tidak berbau, tidak berlendir dan juga tidak ada flek. Jadi, saya masih beranggapan itu air seni. Saya hubungi beberapa senior yang sudah pernah melahirkan, mereka bilang itu air seni. Baiklah…

***

Saya ingat sekali, peristiwa itu terjadi jam 9 pagi. Saya duduk di ruang tamu sembari menyiapkan bahan kuliah hari itu. Ya… masih ada kuliah, dan usia kandungan baru saja memasuki 36w. Saya merasa baik-baik saja, jadi saya mantab untuk pergi mengajar, kelas terakhir semester itu. Tapi pipis saya tidak berhenti-henti, walau hanya sedikit-sedikit. Saya gunakan pembalut, untuk menampungnya agar tidak leber kemana-mana. Hingga jam 11, saya siap berangkat, namun… hati saya berbisik lain. Saya tetap harus berangkat, tapi… ke RUMAH SAKIT! Saya hubungi suami yang ada di kantor, dan beliau bilang tunggu sampai dia pulang. Kami akan ke RS bersama-sama. Dari hasil konsultasi dengan rekan-rekannya yang sudah berpengalaman punya istri melahirkan, positif.. itu AIR KETUBAN.

Suami pulang diantar rekan kerjanya, tanpa ba-bi-bu kami caw ke RS. Seorang rekan saya menyarankan dokter atau bidan saja yang dipanggil ke rumah, karena saya seharusnya tidak banyak bergerak. Semakin banyak bergerak, semakin banyak air yang keluar. Namun akhirnya, kami memutuskan ke RS saja.

Sampai ke RS kami langsung di rujuk ke ruang bersalin.

“Tapi mbak… ini kami mau cek saja, air yang keluar hanya air seni atau air ketuban.” suami menjelaskan, saya menunggu dengan deg-deg-an, mendengar kata ruang bersalin, gimanaaaa gitu.

“Iya… ceknya di sana.”

Jadilah, kami disambut seorang bidan. Belum apa-apa sudah ditanya mau ambil kelas berapa? Dokternya siapa? Haddoooh… mbok saya di cek dulu -_- Alhamdulillah, ada kamar kosong dan kami segera diinapkan di sana.

“Bu, saya mau cek dulu, ini yang keluar air ketuban atau bukan?”

“Air nya berlendir nggak?”

“Enggak.”

“Ada flek?”

“Enggak”

“Dari jam berapa?”

“Jam Sembilan.” , si Bidan melirik jamnya yang sudah menunjukkan jam 2 siang, “Bukan air ketuban itu mah.”

Gggrrrr… kesel juga sama si ibu, kenapa saya nggak diperiksa! Nantikan ketahuan kalau itu air ketuban atau bukan. Belum apa-apa juga yang ditanya mau ambil kelas berapa, cash atau BPJS, fyuuuh.

Akhirnya, saya masuk ruang bersalin. Sedikit begidik, saya berbisik ke suami saya,”Kita kan mau cek doank.”

“Iya sabar…”

Dokter yang ditunggu tak kunjung datang, akhirnya sang bidan yang ambil tindakan. Setelah di cek, “ini mah air ketuban!”, dan setelah di cek dalam, “sudah bukaan tiga.” Lanjut si bidan. Heh… bukaan tiga? Saya sama sekali tidak merasakan kontraksi dan sejenisnya.

“Bu, jadi lahiran sekarang?”

“Iyalah…”. Lagi saya lirik suami saya, rasanya… belum siap untuk melahirkan hari itu… Bukannya masih satu bulan lagi dek? Saya elus-elus si dedek di dalam perut. Bu Bidan mengecek jantung bayi saya, “Lemah banget. Belum makan ya?”

Heh… baru ingat, saya belum makan dari pagi.

“Ya ampun.. ibu hamil, makannya harus dijaga.” Celoteh Bu Bidan lagi dan meminta seorang suster membawakan segelas teh manis hangat. Alhamdulillah, setelah di support dengan teh manis hangat, detak jantung si dedek langsung berdetak kencang, grafiknya baguuuussss.

“Hm… kalau kayak gini kayaknya sesar deh. Berat Badan berapa?”

“Sekian…”

“Apalagi berat badannya sekian, sesar ini mah. Saya siapkan prosedurnya ya.”

Hah? Sesar? Belum apa-apa kok dah langsung bilang sesar sih Bu. Hiiikkksss…. Really need my doctor to be there!

Akhirnya jam 3 sore dokter jaga datang dan langsung berkomunikasi dengan dokter saya yang kebutulan memang tidak dinas di RS tersebut pada hari itu. Setelah komunikasi tersebut, dokter jaga menghampiri saya, “Ini pecah ketubannya sudah lama, takutnya nanti keburu habis airnya, kasihan bayi di dalamnya. Juga sudah bukaan tiga, tapi tidak ada kontraksi, di induksi ya?”

Bu dokter muda nan cantik itu menginformasikan keadaan saya. Saya iya-iya aja, yang penting diikhtiarkan untuk bisa lahiran normal. Di benak saya masih bergulir banyak pemikiran… saya akan lahiran hari ini? Kok rasanya belum siap lahir dan batin… ini bukan mimpi kan?

Jam 4 sore saya diinduksi. Tidak tau jam berapa, perut saya eh… lebih tepatnya tulang belakang saya rasanya sakiiittt…. Tidak bisa dijelaskanlah sakitnya pegimane…. Dan hanya ada saya dan suami saya di sana. Suami saya ikutan panik, “Aa panggil dokter saja? Ya… panggil dokter saja?”

“Nggak usah… masih belum kayaknya.” Ini efek kebanyakan baca blog cerita melahirkan orang. Katanya… kalau masih sadar, belum cakar-cakar suami, itu artinya belum mau melahirkan. Hehehe… Saya waktu itu masih sadar, masih bisa becanda sama suami, belum nyakar-nyakar, jadi saya asumsikan… belum saatnya.

“Aa… panggilkan susternya, saya mau ke kamar mandi.”

“Ngapain?”

“Mau BAB…”, ini juga karena tips seseorang, sebelum melahirkan sebaiknya BAB dulu, hihihi. Dan karena berasa pengen BAB banget, saya minta diantar ke BAB. Taunya??? Setelah di cek sama susternya, “Udah ibu miring aja… ini dah lengkap bukaannya, dah mau lahir anaknya.”

Hah? Saya kan belum nyakar suami saya… saya kan belum gigit suami saya… kok dah mau lahiran?

Benar saja, dokter jaga datang dan dokter saya belum datang karena saya terlalu cepat pembukaannya. Saya dimminta miring dan mendekap salah satu kaki saya. Sumpaaahhh… dengan perut segede itu, susaaaaah tau di suruh mendekap kaki T,T Daan…. Saya belum belajar tehnik mengeden T.T Baru baca-baca di artikel aja, tapi latihannya beluuuum…..

Lama rasanya… tapi proses mengeluarkan si bayi mungil itu belum sukses juga. Kata pertugas medisnya saya pemalas dan nggak mau ngeden maksimal. Jadinya, bayi yang sudah nongol keplanya masuk lagi. Fyyyuuuuhhhh…. Untungnya ada 2 pasien UGD yang juga mau melahirkan, akhirnya dokter jaga ke UGD dulu dan suster plus suster magang yang jumlahnya seabrek-abrek itu keluar dari kamar saya. Hah mereka bikin saya stress saja! Ada yang menekan perut saya sambil menelpon saat saya berjuang melahirkan anak saya, apa-apan itu??? Akhirnya, hanya ada saya, suami saya dan si dedek di dalam perut. Saya usap-usap si dedek, dan bilang kalau kami BISA. Suami juga terus-terusan menyemangati. Hanya ada kami… rasanya private sekali. Sebelum pergi dokter sudah berpesan, kalau terasa kontraksi ngeden sekuat-kuatnya. Perlahan namun pasti, setiap rasa sakit itu datang, saya mengeden sekuat hati sembari menyemangati diri sendiri dan si dedek, dan suami mengawasi.

“Iya..ya.. dikit lagi..dikit lagi.. sudah..sudah keluar… sudah keluar…” dengan panik, suami memanggil suster, suster juga kaget lalu memanggil dokter daaan…. Dalam hitungan detik saja, bayi mungil itu menyapa seluruh alam semesta dengan tangisnya… Fabiaayyialairabbikumatukadzziban?

Rabu, 16 Juni 2014 pukul 21.00… Bintang itu lahir kemuka bumi.

Ya… NAJMI TSAQIB KARIMAH (Bintang mulia yang terang benderang)

2 thoughts on “The Born of The Star named Najmi Tsaqib Karimah

  1. Mbakk merinding ak bacanya..
    Jd pengen cakar cakar rumah sakitnya. Hahahah
    Cerita lahiran kita beda.. Tp seru ya mbakkk pengalamannya.

    Wkt iti ak konttaksi sampe semingguan,, hihi..
    Tapi momen dalam kamar bersalin iti emang amazinggg banget ya…

    Welkom hum najmi chan

    Smg jd anak yang sholehah… Sama Fisa chan menjadi pembela agama Islam aamiinn.. Menjadi cahaya di kegelapan..

    • Iya.. setiap kelahiran punya kisahnya sendiri😀

      no words can explain, hehehe

      aamiin… aamiin… insyaAllah Najmi dan Fisa akan jadi mujahidah tangguh di bumi Allah ini ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s