MP-ASI

Alhamdulillah… terlewati juga perjuangan ASIX Najmi dengan segala tantangannya. Hehehe. Tantangan? Ya… tantangan terberat adalah bisikan keluarga untuk kasih makan Najmi sebelum usianya 6 bulan.

Beruntung kami jauh dari orang tua, sehingga intervensi tersebut bisa diminimalisir. Bukannya nggak patuh sama ortu, tapi memang ada beberapa hal terkait pengasuhan anak yang tidak sama lagi, saat dulu dan sekarang. Salah satunya tentang MPASI.

Sudah lama ortu menyuruh pulang, bahkan meminta melahirkan di kampung halaman. Namun demi… ya demi… menghindari perselisihan ini-itu, kami memutuskan untuk tetap di Jakarta. Tidak saya pungkiri, kehadiran ortu merupakan support besar -sangat besar malah- bagi saya yang belum pernah jadi ortu ini. Namun, perbedaan cara asuh, akan jadi masalah dan membuat stres ke depan nanti. Hal2 seperti bedong, gurita, jamu, bedak bayi. Hal yang terlihat sepele, namun bisa menimbulkan perang saudara, he3.

Seperti Najmi yang sempat kuning di awal kelahirannya, karena ABO incompatibility, langsung pada bilang “kurang sinar matahari tuh… bla..bla..bla… karena nggak mau minum jamu tuh… bla..bla..bla…”. Padahal jelas2 penyebabnya bukan itu -_- Malah saya bersyukur tidak minum jamu, karena itu justru akan memperburuk kondisi Najmi *kata nakes yang merawat anak saya.

Maka, kami sepakat, Najmi akan pulang kampung kalau usianya minimal 6 bulan. Kenapa? Untuk meminimalisir terjadinya MPASI dini. Contohnya saja, Najmi secara diam-diam diberi kopi oleh ibu saya. Karena saat disampaikan bahwa anak bayi harus diberi kopi agar tidak step, saya menyampaikan itu hanya mitos dan menjelaskan hal2 apa saja pemicu step, jadilah Najmi diberi kopi secara diam-diam. Hiikss… sejak saat itu, Najmi setiap pagi tidak pernah saya lepas ke ibu saya. Kalaupun ibu saya gendong, selalu saya awasi T,T. Bahkan untuk kepulangan kami, saya atur jadwal agar 2 minggu pertama, masa menu tunggal, masih di rumah. Kalau sudah pulkam, dijamin cuma kebagian bubur pisang saja. Karena, menurut nenek dan ibu saya, cukup itu saja.

Memasuki minggu ketiga, saya ngeyel dan memberikan Najmi menu komplit. Dan biar pada tenang, setiap pagi sarapan bubur pisang. Ya… anggap saja win-win solution :p Ternyata masalah tidak berhenti sampai di situ, hiks…

Masalah gula dan garam pun jadi pemicu perdebatan sengit T,T. Saya sudah menjelaskan mengapa Najmi tidak perlu gula dan garam, karena kebutuhannya sudah terpenuhi melalui ASI dan makanan yang di makan. Tapi tetap saja, bagi mereka itu tidak cukup. Walau sudah mengeluarkan data dari artikel2 yang saya baca, tetap saja ortu nggak mau ambil pusing, karena menurut mereka, mereka lebih berpengalaman. Hiks…

Dow… mana makanan di kampung itu manis banget n asin banget…😦 Kalau sudah begini, aman n nyaman rasanya tinggal di rumah sendiri. Hiikkksssss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s