There is So-called a Working From Home Mom?

sssttt… do not be sarcastic, because I pointed that question for me! Yes… ME!

Sudah lama sekali yaah laman blog ini tidak tersentuh😀 Sibuk euy… sibuk sama si kecil *halah* But seriously, menghabiskan waktu bersama Najmi, 24 jam terasa kurang. Banyak pekerjaan yang terbengkalai, baanyaaaak banget, hihihi. So, boro-boro nulis blog, rumah rapi jali and makanan buat keluarga selalu tersedia 3 kali sehari saja rasanya sudah alhamdulillah banget😀 Apalagi sejak Najmi MP-ASI, nambah deh load kerjaan. Maklum, anak pertama , skills belum terasah dan emak masih excited sana sini utak-atik resep MP-ASI. Fotonya sih udah dikoleksi, rencananya mau di share ke blog ini, tapi… ya gitu deh😉

Kembali ke topik yang saya tuliskan di atas, beberapa waktu yang lalu kan lagi rame tuh diskusi tentang idelnya wanita itu 100% jadi ibu rumah tangga atau jadi ibu pekerja? Sampai pada sinis2-an dan dan nggak sampai cakar-cakaran sih. Hm… sebenarnya mana sih yang lebih baik? Everyone has their own choice and take the risks, ya kan?

Saya pribadi dari dulu sudah bertekad, ketika nanti berumah tangga saya akan jadi ibu rumah tangga, dalam artian career is not my priority and take the risk to leave it. Tapi bukan berarti saya tidak bekerja (lah piye?). Saya berusaha seminimal mungkin untuk produktif walau berada dirumah. Karena menurut saya, saya benar-benar akan membangun karir saya ketika anak saya yang bontot sudah SMP nantinya. Udah berapa tuh umur saya? Terlalu tuwir nggak ya? Ah enggak ^_^ Oleh karenanya juga, saya saat ini semaksimal mungkin membangun jaringan yang akan menopang karir masa tua saya nanti *halah* Apa saja itu? Jadi konsultan, freelance researcher, part-time lecturer, translator bahkan ghost writer. Eh… why not?🙂

Nah… lanjut ke tingkat berikutnya, “apakah bisa bekerja dari rumah?”. Dulu ketika masih single, saya jawab bisa. Setelah menikah? Yaa… bisa sih, tapi…. Mari sedikit saya berikan gambaran tentang apa yang terjadi dengan saya.

Sejak Najmi lahir hingga usianya 6 bulan, saya berhenti total bekerja. Fokus saya hanya rumah dan Najmi. Mengapa? Kebetulan -seperti pernah saya tulis sebelumnya- Najmi saat newborn pernah masuk RS karena jaudience. Tinggiiii…. tinggiii banget😦 over 25 lah.. Nah, bayi dengan riwayat sakit seperti Najmi riskan memiliki masalah dengan tumbuh kembangnya. Saya bahkan sampai jadi emak-emak parno, kok Najmi belum angkat kepala… kok Najmi belum tengkurep… kok dia..kok dia..kok dia… hah… banyaklah pokoknya.

Tapi saya nggak mau berputus asa tanpa ikhtiar, setiap hari saya pantau tumbuh kembangnya. Berbekal buku, artikel (bahkan jurnal) dan video-video di youtube saya amati perkembangan Najmi. Pagi sampai malam adalah jadwal saya menstimulasi Najmi dengan segala perkembangannya baik motorik kasar maupun halus sembari mengerjakan pekerjaan rumah tentunya, dini hari saat suami dan Najmi terlelap saya manfaatkan untuk baca bahan-bahan yang sudah saya kumpulkan dan menyusun rangkaian ‘belajar’ harian Najmi. Setiap milestones saya cari berbagai cara untuk menstimulasinya. Setiap bulan rutin berkonsultasi ke DSA (sekalian jadwal vaksin), walau ada yang berkomentar negatif karena Najmi mau vaksin aja mesti ke dokter. Hello… you are not in our shoes! Sudahlah.. manusia nggak mampu kek gitu bukan untuk digubris, hehehe. Kami juga rutin mengkonsultasikan keadaannya ke dokter THT dan Tumbang anak. Alhamdulillah…. semua menyatakan Najmi baik-baik saja, walau untuk motorik kasar milestonenya mesti diujung-ujung usia, hehehe. Seperti tengkurap baru bisa usia 4 bulan, guling-guling usia 5 bulan,  duduk usia 8 bulan, merayap usia 9 bulan, dan sekarang 10 bulan masih latihan berdiri, semua masih dikoridor usianya. Kalau masalah motorik halus dan kemampuan sosial bisa jauh di atas kemampuan motorik kasar. Dia sudah bisa panggil “Ndaa..” saat usia 3 bulan dan baru bisa panggil ayah usia 10 bulan. Agak nyesel juga kenapa nggak minta dipanggil mama-papa saja, karena sejak usia 4 bulan Najmi udah fasih berucap mama-papa, hehehe. Tapi kayaknya semua bayi emang jago berucap mama-papa.

Karena keadaan Najmi yang menggembirakan ini, memasuki usia 7 bulan saya berani mulai bekerja secara part-time. Lagi pula saat itu kondisi ekonomi memang sedang “diuji”. Hasilnya? hohohoho…

Really, working from home is out of my expectation. Secara fisik, iya… Ibu selalu berada di sisi anak, namun seutuhnya… bisa saya bilang tidak. Saya berasa dikejar-kejar oleh pekerjaan, pekerjaan rumah menanti untuk diselesaikan, anak yang butuh perhatian (belum lagi bapaknya), huh-hah-huh-hah…. Konsentrasi pecah kemana-mana, apalagi pada dasarnya saya bukan multi-tasking woman. Baru megang ini, anak nangis… baru megang itu, saatnya anak makan, mau menyelesaikan yang ini, saatnya anak tidur, mau menyelesaikan yang itu, hari udah malam saja. huhuhu…

Dari apa yang pernah saya jalani (bekerja di kantor dan di rumah), bekerja di kantor jauh lebih baik daripada di rumah (secara kualitas kerja yaa…). Karena ketika di kantor, kita dipaksa untuk fokus dengan pekerjaan, beda dengan di rumah. Walau di kantor bisa saja pikiran pecah kemana-mana, namun kita tidak di desak oleh keadaan untuk menghentikan pekerjaan yang sedang dilakukan untuk beralih kepekerjaan yang lebih penting dan mendesak sifatnya, ex: anak BAB😛 .

Seperti beberapa waktu yang lalu, saya diminta untuk menyelesaikan sebuah jurnal. Hari itu hari minggu, dan ketika saya tanya kapan dikumpulkan rekan saya menjawab, “selasa”. Artinya… saya hanya punya waktu dua hari. Akhirnya jurnal terkait bisa saya kirimkan pada hari selasa, namun hari selasa dua minggu kemudian, hehehe. I am no longer a under-pressure worker😛 Kalau posisi saya di kantor (atau single, hehehe), saya yakin bisa menuntaskannya selama dua hari saja. Toh selama ini memang begitu. But know? hehehe… untung rekan saya orangnya pengertian. Malah nambah job lagi buat saya😛

Lalu, apakah working from home mother itu hal yang mustahil? Saya rasa tidak juga, kalau saya punya ART yang membantu pekerjaan rumah tangga, saya rasa saya bisa mengatur waktu lebih baik lagi. Selama ini, yang bisa saya manfaatkan hanya waktu-waktu ditengah malam, saat suami dan Najmi sudah tidur.  Atau… saya punya asisten yang membantu mengerjakan pekerjaan saya, atau… suami handle pengasuhan Najmi saat malam setelah pulang dari kerja. Hehehe.. tapi kalau begini, capek semua orang se rumah😛

Lalu apakah saya akan berhenti bekerja dari rumah? Hm…. belum tahu, sejauh ini belum, mengingat uang DP rumah kami melayang buat biaya NICU Najmi selama seminggu di RS. Perlu waktu lagi untuk mengumpulkannya, hehehe. Namun bagaimana pun… Najmi adalah prioritas no.1, saya tetap akan menjadi madrasah utama bagi Najmi. Karena insyaAllah, saya dan suami sudah bertekad untuk meng-homeschooling-kan Najmi dan adik-adiknya. Semoga Allah mudahkan ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s