Menghadapi GTM (Part 1)

GTM a.k.a  gerakan tutup mulut tampak sebagai momok yang ditakuti oleh ibu-ibu, terkhusus ibu baru seperti saya *hem*. Dan bisa dipastikan, hampir setiap bayi pasti akan melewati fase ini. Karena  ketakutan n kepastian peluang terjadi yang besar, jauh sebelum MP-ASI saya sudah mencoba membekali diri. Tanya sana-sini, baca sana-sini dan Alhamdulillah… hingga 11 bulan usia Najmi (yeay… hari ini 11 bulan euy), Najmi belum pernah mengalami GTM yang berarti. Pernah sih pernah… tapi nggak sampai bikin emak pusing tujuh keliling lah. Klo emosi mah iyaa #eh😛

Bagaimana saja trik yang saya lakukan dalam menghadapi GTM Najmi? Saya coba uraikan di sini yah, barangkali bisa jadi inspirasi bagi ibu baru lainnya😉

***

Najmi pada dasarnya anak yang doyan makan. Walau badannya kecil dan mungil, kalau makan mah, hap-hap-hap… lahaaap pisan. Apalagi kalau lihat gaya makannya sekarang, kaki di angkat satu dengan mulut penuh terisi makanan, duuuh… bikin gemeeezzzz J  Saya pun tidak pernah terobsesi dengan berat badan karena GEMUK BUKAN JAMINAN SEHAT, yang penting berat badannya berada dikurva yang seharusnya, tinggi badan dan lingkar kepala juga. Anaknya aktif dan kecerdasan verbalnya, MasyaAllah… bikin kami (dan tetangga) suka terkaget-kaget ^_^

img1429972557457

Nah… kembali ke laptop, dari bekal bertanya, membaca dan mempraktekkan, beberapa upaya berikut sukses dalam memerangi GTM. Yakni:

  1. Awali MP-ASI dengan benar

Ya, awal yang benar merupakan kunci sukses MP-ASi tanpa penderitaan karena anak GTM mulu.  Apa saja itu?

  1. Mulailah MP-ASI saat anak berusia 180 hari (atau 6 bulan), walau sudah melihat tanda-tanda kesiapan anak untuk MP-ASI seperti sudah bisa duduk sendiri, memasukkan benda ke-dalam mulut, JANGAN memulai MP-ASI jika usianya belum 6 bulan (kecuali ada indikasi medis terkait kebutuhan untuk booster BB anak. Ini pun harus dengan rekomendasi dokter). Karena organ bayi belum siap untuk mencerna makanan selain ASI. Hal ini bisa menyebabkan berbagai problema pencernaan yang berimbas pada GTM nantinya.
  2. Tentukan metode sesuai dengan kemampuan anak. Ada banyak metode MP-ASI, yang saya dalami hanya metode WHO dan BLW. Silahkan dipelajari lebih lanjut dan diterapkan sesuai dengan kemampuan bayi. Kenapa sesuai dengan kemampuan bayi? Karena memang terkadang ibu dan anak belum tentu selalu sinkron. Saya contohnya, saya pribadi ingin menerapkan metode BLW pada Najmi, namun usia 6 bulan, Najmi belum yahuud duduknya, sehingga hal ini tidak memungkinkan. Baru bisa saya terapkan saat Najmi usia 8 bulan dan benar-benar berjalan di usianya yang ke-10 bulan. Ada teman saya yang ingin menerapkan metode WHO dengan cara aktif-responsif, namun anaknya tidak suka bubur dan tidak suka disuapi. Kalau makan sendiri lahap dengan diberi finger food. Naah kalau sudah begini keadaannya, kenapa tidak BLW saja? Ya kan?
  3. Terapkan pemberian menu tunggal selama 2 minggu. Ini bagian yang sangat penting terkait dengan GTM bahkan kalau bisa buat diari makanan. Makanan apa yang disukai anak, mana yang kurang disukai, mana yang tidak disukai. Mana yang pencetus alergi dan mana yang bukan. Mana yang membuat sembelit, mana yang bukan. Semua ini akan jadi bekal penting bagi kita, saat anak GTM nantinya.
  4. NO gula dan garam sebelum usia 1 tahun

Lidah bayi tidak sama dengan lidah orang dewasa, lidahnya masih murni dan belum terkontaminasi oleh rasa. Jadi biarkan mereka meng-eksplor rasa asli makanan. Selain pemberian gula dan garam justru akan memperberat kerja ginjal dan pankreas bayi. Pemberian gula juga meningkatkan resiko diabetes di masa yang akan datang. Lagi pula kebutuhan bayi akan gula dan garam sudah tercukupi dari makanan yang mereka konsumsi.

Pengalaman rekan-rekan saya yang memberikan gula dan garam pada MP-ASI anaknya, pasti sering sekali mengalami GTM anaknya. Jika sudah telanjur, apa yang harus dilakukan? Secara perlahan kurangi komposisi-nya hingga tidak menggunakan gula dan garam sama sekali. Walau di lidah kita terasa hambar, di lidah bayi tidak kok moms… Rempah-rempah yang banyak di Indonesia juga bisa kita tambahkan untuk menambah cita rasa makanan.

  1. Homemade food

Mengapa homemade? Karena dengan homemade food terjaga kandungan gizinya, kebersihannya dan sesuai dengan citarasa anak. Saya pernah mencoba masakan bayi sehat yang di jual dekat rumah. Terus terang saya kecewa, kenapa?

  1. Tekstur nasi tim nya tidak sesuai dengan tekstur yang disukai Najmi, terlalu lembek dan lengket (nah… dengan memasak sendiri kita bisa menyesuaikan tekstur dengan usia anak dan yang disukai anak. Kalau membeli pilihannya kalau tidak bubur ya tim, dengan standar yang tidak bervariasi)
  2. ASIN… ya.. walau dibilang tidak pakai garam, tapi terasa asiinnn…
  3. . kebetulan saya membeli 2 puding dan rasanya SANGAT MANIS, alhasil saya dan bibi nya Najmi yang menghabiskan. *rejeki emak n bibi nya J

Apalagi jika sembarangan memberikan anak makanan dipinggir jalan yang sudah pasti bergaram, gula, dan MSG pula >_< Yuuk… katanya sayang anak. Membuat makanan bayi tidak rempong dan tidak wasting time kok😉 Banyak rekan saya yang working moms bisa menyediakan homemade food bagi anaknya. Dan juga, kalau bayi sudah terkena makanan luar ini, biasanya mereka jadi tidak suka makanan yang dibuat di rumah.

  1. Perkenalkan dengan berbagai macam rasa sejak dini. Jangan hanya diperkenalkan dengan yang manis-manis saja, hal ini membuat anak jadi picky-eaters. Kalau saya merujuk pada standar WHO, dimana sejak usia 6 bulan 2 minggu, Najmi sudah saya buatkan bubur dengan menu 4 bintang (ada karbohidrat, vitamin, mineral dan lemak).

Hm… lebih kurang itu ya, catatan penting saya untuk meminimalisir perang melawan GTM.

img1430978113272

Dan kalau sudah terjadi, apa saja solusinya? Berikut pengalaman saya dengan Najmi, yang sifatnya sangat subjektif sekali dan bisa saja berbeda penanganannya dengan bayi lain. But at least, mungkin bisa jadi bahan referensi ^_^. Apa saja itu?

  1. Kenali apa penyebab GTM pada bayi. Bisa jadi karena sakit, demam, sariawan, sedang tumbuh gigi, bosan dengan menu yang itu-itu saja, sedang ingin naik tekstur dan sebagainya.

       a. Sakit atau Demam

Jika sakit, bayi biasanya suka makanan yang lembut dan lunak, nah turunkan tekstur makanan agar anak mudah mencernanya. Najmi kalau lagi sakit atau demam suka makanan yang hangat dan mudah dicerna. Menu andalan saya adalah sop tomat. Cara membuatnya simple dan ini mampu menggugah selera makannya. Bagaimana cara membuatnya?

  • Rebus tomat,wortel dan jagung  bersama keprekan bawang putih dan setangkai seledri, merebusnya dengan air kaldu (sesuai stok yang ada di rumah. Oh iya, saya selalu membuat stok kaldu di rumah ada kaldu ayam, daging, ikan dan udang. Kaldu2 ini sangat membantu menaikkan cita rasa makanan). Blender halus, namun bawang putih dan seledrinya tidak ikut di blender. Sajikan hangat… biasnya habis nih sama si Najmi. Kalau sedang tidak sakit saya tambahkan kuning telur, tapi karena sakit pengennya yang light saja, jadi tanpa telur lebih nikmat

b. Sedang Tumbuh Gigi

Kalau sedang tumbuh gigi, anak biasanya males di kasih makan ini dan itu. Biasanya saya trik nya hampir sama dengan saat sakit, yakni dengan menurunkan tekstur. Namun makanan dingin biasanya lebih disukai saat sedang tumbuh gigi ini. Trik yang selalu berhasil yakni membuat pudding sayuran, posicle aneka buah (alpukat favoritnya) dan es krim sehat berbahan dasar pisang.  Kalau sudah dikasih menu dingin-dingin itu.. GTM lewat! Yang ada malah minta nambah ^_^ Berikut saya share resep es krim pisang sehat tanpa gula. Ini menjadi pilihan saya karena bisa divariasikan sehingga kebutuhan gizi anak tetap bisa dipenuhi dengan menu 4 bintang.

  • Potong kecil-kecil pisang ambon dan taruh di kulkas semalaman. Keesokan harinya, blender dengan tambahan buah yang disukai (Najmi sukanya anggur dan stroberi) dan plain yoghurt. Masukan ke dalam freezer selama 2 jam, lalu di blender lagi, jadi deh es krim sehat, penuh gizi, tanpa gula yang disukai anak-anak ^_^

c. Bosan dengan menu yang itu-itu saja

Sama dengan kita, anak juga pasti bosan kalau menu yang disajikan itu-itu saja. Saya, semaksimal mungkin menyajikan menu yang berbeda untuk Najmi setiap harinya. Bahkan kalau GTM nya lagi bangkit, Najmi harus makan dengan 3 menu yang berbeda setiap harinya.

Nah… disinilah food diary berperan, kita bisa menganalisa apa yang disukai dan tidak disukai oleh anak.  Kalau Najmi, yang disukainya:

  • Sweet for breakfast, yops karena awal MP-ASI di rumah (Bukittinggi), setiap sarapan Najmi mesti di kasih sarapan bubur pisang. Alhasil, ni bocah maniak gitu sama pisang J Kalau lagi GTM, cukup kasih sarapan pisang+oatmeal+keju, dijamin habis ^_^
  • Perkedel kentang dan nugget Tuna si penyelamat. Kalau lagi GTM, Najmi jadi saya banyakin ngemil, dan hidangan yang hampir tidak pernah ditolaknya adalah perkedel kentang dan nugget tuna (nugget tempe juga sih), dicemil gitu aja, sekali makan bisa 2-3 potong. Agar kaya nutrisi, perkedel dan nuggetnya saya tambahkan sayur-mayur, telur dan keju. Stok nugget selalu ada di kulkas (homemade ya moms), saat-saat genting seperti GTM or emak lagi malas masak tinggal di olahJ
  • Macaroni schotel, anak GTM bisa jadi karena bosan makan nasi, dan macaroni adalah pilihan pengganti bagi saya. Buatnya gampang, menu 4 bintang masuk dan anaknya suka. Sekali makan bisa langsung 2 cup, siapa yang enggak senang coba ^_^ Udah gitu rebutan lagi sama bapaknya (bapaknya juga doyan euy :P)
  • Menu pengganti lainnya yang disukai Najmi: Ubi rebus! J dan gluten free banana bread (tuh kan… pisang lagi😀 )

e. Ingin naik tekstur

Ingin naik tekstur juga bisa jadi pemicu anak GTM. Bagaimana cara mengetahui dan solusinya? Kalau pada Najmi, biasanya dia semangat makan, namun setelah 2-3 suap dilepeh-lepeh. Setelah saya coba naikkan tekstur, eh… malah lahap makannya. Tapi perhatikan juga ya kesiapan anak, kalau anak jadi sembelit, mungkin anak belum siap untuk naik tekstur.

  1. Kondisikan anak dan bangun awareness bahwa ia sedang makan.

Untuk hal ini saya rasa high chair penting untuk membantu proses makan dan menanamkan kesadaran anak bahwa ini waktunya makan. Kalau saya pilih booster seat, karena mejanya bisa di bongkar-pasang dan di cuci. Najmi doyan numpahin makanan soalnya dan suka makan makanan yang ada di atas meja, bukan yang di atas piring. High chair dan booster seat ini nggak mesti beli ya, bisa sewa saja. Kalau tidak ada? Ya tidak apa-apa, seadanya saja, yang penting anak dikondisikan, matikan TV dan hal lain yang mengganggu konsentrasi anak daaan JANGAN AJAK ANAK MAKAN SAMBIL JALAN-JALAN. Kesalahan fatal para orang tua, suka membawa anak makan sambil jalan-jalan. Iya makanan anak habis, tapi tidak tumbuh kesadaran bahwa ia sedang makan, yang ada dalam pikiran anak justru bahwa mereka sedang bermain.  Dan ini akan menyulitkan orang tua saat usia anak semakin besar.

  1. Buat suasana yang menyenangkan

Banyak cara yang bisa dilakukan, misalkan dengan membuat makanan yang unik, lucu dan colourfull (oke kita malas, tapi kalau anak lagi GTM bolehlah sekali-kali ngalah sama anak ^_^). Sediakan tempat makan yang menarik dan beraneka warna (tidak perlu yang mahal kok) dan buat anak paham bahwa itu adalah peralatan makannya, sehingga bisa memulai awal makan yang menyenangkan. Biasanya, saat saya sedang menyiapkan makanan, Najmi akan mengikuti saya ke dapur. Karena dia sudah hafal peralatan makannya, ketika saya memegangnya dan berjalan ke arah booster seatnya, dia sudah teriak-teriak kegirangan. Bantu anak meningkatkan mood-nya, dengan bersekspresi senang dan berlari-lari kecil menuju seat nya. Najmi biasanya akan mengikuti saya dengan kencang sembari teriak-teriak “mamam-mamam-mamam”.

  1.  Makan Bersama Anak

Kami sekeluarga sedapat mungkin selalu makan bersama, dan ini sangat membantu anak saat GTM. Apalagi Najmi sekarang menunya sudah sama dengan kami sekeluarga, jadi dia lebih bersemangat saat makan ditemani Ayah dan Bundanya. Ya… sejak usia 10 bulan Najmi sudah makan nasi lembek (serumah jadi makan nasi lembek deh :P). Masak sudah jauh lebih ringan kini, apa yang kami masak, itu pula yang disajikan untuk Najmi. Hanya saja, sebelum masakan diberi garam, kami pisahkan dulu untuk Najmi.

5. Berikan porsi kecil namun sering dan bervariasi.

Iya sih.. yang ini agak rempong, tapi anak GTM kan nggak tiap hari ^_^

Lebih kurang itu pengalaman kami dengan GTM, semoga bisa sedikit memberikan gambaran bagi para new moms. Mengapa part 1? Karena pengalaman saya baru sampai usia 11 bulan. Usia  1,5 – 3 tahun katanya lebih dahsyat lagi tantangannya. Nanti kalau sudah melewati fase itu saya tuliskan part 2 nya🙂

One thought on “Menghadapi GTM (Part 1)

  1. Pingback: Menghadapi GTM (Part 2) | The Notes of Interminable Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s