Menghadapi GTM (Part 2)

Menyambung tulisan sebelumnya di sini, tentang bagaimana mengadapi anak tutup mulut alias GTM alias kaga mau makan. Bulan ini Najmi memasuki usianya yang ke 17 bulan (oh.. that fast…), alhamdulillah saya belum pernah menghadapi GTM yang berarti. Paling dia nolak makan siang, lalu malamnya makan dengan kalap. Atau makan malam rada malas-malasa, giliran bangun tidur yang dicari langsung makanan. So… I am not so worry about her. Dan terus terang, saya sangat bahagia dengan pencapaian ini. Karena katanya, memasuki usia 1 tahun itu usia kritis yang membuat banyak Emak di dunia ini frustasi karena GTM si baby imut. Dan… teman-teman saya banyak yang mengalami ini. Bahkan, seorang kerabat dekat, anaknya sudah berbulan-bulan GTM. OMG…. kebayang stresnya. Saya kalau Najmi lagi males-malesan makan aja sudah stres, bagaimana dia yang anaknya berbulan-bulan malas makan? Sampai anaknya menderita muntaber, kekurangan zat besi (hingga harus di terapi beberapa bulan) dan pada akhirnya nyerah ke minyak ikan (oh no mommies… ). Ya… di Indonesia bayi klo nggak ndut kan nggak lucu. Jadi emak nyekokin minyak ikan tiap hari agar si baby tetap terlihat chubby. Poor baby….

Dari pengalaman curhatan teman-teman dan membandingkan dengan apa yang saya (dan emak2 anak mau makan) lainnya, berikut poin berharga yang harus benar-benar dipahami dalam memberikan investasi.

a. Mulai MPASI tepat waktu, saat anak berusia 180 hari (atau 6 bulan). Nggak kurang… nggak lebih. Rekan2 saya yang memberikan MPASI dini pada anaknya, cenderung memiliki anak yang bermaslah makannya.

b. NO GULGAR penting banget ini moms… Karena gula dan garam akan merusak citarasa/sensor di lidah anak. Mereka anya mengenal dua rasa, kalau nggak manis ya asin dan cenderung akan menyukai salah satunya saja (biasanya sih manis ya). Apalagi kalau pakai MSG.. NOOO…. BIG NOOO….

Ortu saya termasuk yang keukeuh untuk kasi sedikit gula dan garam ke masakan Najmi, saat dia berusia dibawah 1 tahun. Saya dengan keukeuh menolak. Melihat bagaimana Najmi makan saat ini, mereka takjub… karena anak seusia Najmi biasanya susah makannya. begitu saya jelaskan hal tsb karena dengan menunda pemberian gula dan garam, mereka jadi manggut-manggut. Sepertinya adik Najmi nanti tidak akan mengalami perjuangan sengit terhadap gulgar ini, hehehe.

3. Disiplin dalam pemberian makan. Ya, dsiplin ini perlu, mulai dari jadwal pemberian makan dan caranya. Banyak ibu-ibu muda yang menurutnya sayang anak, saat anak tidak mau makan mengajaknya makan sambil jalan-jalan keluar. NO! Ini akan jadi bumerang besar kedepannya bagi ibu dan anak. Anak akan terbiasa makan sambil bermain dan susah dikondisikan untuk makan. Banyak ibu memutuskan untuk “berkorban” asalkan anaknya mau makan. Padahal ini kesalahan dan merugikan ibu dan anak kedepannya.

Sediakan kursi khusus untuk anak (sy pakai toddler seat), ada yang bilang mahal. Padahal menurut saya tidak loh… harganya 400 rb an, bisa dipakai sampai usia 4 tahun (dalam artian perbulan cuma keluar 9 rbu kok) dan bisa diwariskan juga buat adik-adiknya. So.. sepertinya tidak mahal yaa… Dan dibandingkan manfaatnya… saya rasa ini investasi yang pantas. Jika memang benar-benar tidak bisa, at least kondisikan anak pada lokasi yang tetap sehingga mereka punya memori dan membangun kesadaran bahwa ini, waktunya makan.

4. Jangan paksa anak untuk makan. Banyak ortu yang memaksa anaknya untuk makan, saya pun pernah melakukan kesalahan itu. Habis bagaimana… gemes yaa liat anak nggak mau makan. Kita udah capek-capek masak eh… di lepeh-lepeh. Apalagi Najmi tipe anak berbadan kecil, orang yang belum pernah lihat dia makan mesti bilang dia malas makan dan emaknya nggak telaten kasih makan. fyyuuuh…. macam situ sudah bener saja ngurus anak T-T Jadi kalau ingat ini, emak jadi berambisi bikin gemuk Najmi, hehehe. Untungnya saya cepat sadar atas kekhilafan saya. Biarkan anjing menggonggong…. kafilah tetap berlalu. Jangan paksa anak… karena kalau sudah lapar dia akan makan sendiri. Dari pada kita paksa makan dan seterusnya anak trauma makan dan benar-benar tutup mulut? Saya melihat sendiri kejadian ini di depan mata saya, bagaimana peristiwa makan adalah sebuah drama bagi ibu dan anak. Sudah lebih dari tiga bulan berlangsung, dan entah kapan drama tersebut berakhir. Masalahnya sepele… si ibu memaksa anak makan dan suka membohongi anak saat memberi makan. Akibatnya? Anak 100% tutup mulut. Hingga sekarang si anak kalau makan di emut (silahkan search tentang anak yang makannya di emut, sebagian besar masalah ini di picu beban psikologis yang berawal dari pemaksaan makan) dan jarang habis makannya.

5. Berikan kepercayaan pada anak. Dengan alasan tidak mau rumah kotor dan berantakan, banyak ibu yang tidak mempercayakan proses makan kepada si anak. Padahal, anak memasuki usia 1 tahun sangat ingin mencoba dan melakukan banyak hal sendiri, termasuk makan. Kenapa tidak biarkan mereka mencobanya sendiri? Ini akan menjadi sensasi tersendiri bagi mereka dan disisi lain, mereka jadi semangat makan. Najmi mulai saya kasih kesempatan makan sendiri sejak usia 8 bulan, karena pada usia ini dia baru bisa duduk sendiri dengan kokoh. Tapi ini masih saya suapkan makan, Najmi hanya saya beri finger food buat latihan. Memasuki usia 10 bulan, Najmi saya beri kesempatan makan sendiri pakai tangan, nanti kalau tidak habis sisanya saya suapkan. Usia 12 bulan Najmi sudah bisa makan sendiri donk🙂 Tidak perlu lagi disuapi. Usia 15 bulan, mulai saya ajarkan pakai sendok dan sekarang… sudah mahir makan pakai sendok ^_^. Najmi sudah mandiri untuk urusan makan, tidak perlu ditunggui apalagi dipaksa-paksa untuk makan, juga tidak ada adegan kejar-kejaran.

Awalnya, kemadirian Najmi bisa makan sendiri di usia 1 tahun ini merupakan hal yang biasa bagi saya. Karena banyak teman-teman saya yang mandiri seperti itu anaknya. Hingga suatu hari, seorang teman dengan bahagia bercerita di FB tentang anaknya yang berusia 3 tahun akhirnya sudah bisa makan sendiri. Di Indonesia, disuapi sampai usia TK itu hal yang biasa. Jadi Najmi bisa makan mandiri di usia 1 tahun adalah sebuah prestasi! Najmi hebat!!🙂 Sekarang lagi latihan mandi sendiri ^_^

6. Be creative, Moms…  mau tidak mau… demi nutrisi anak, seorang ibu harus kreatif. Mulai dari mengolah menu hingga keurusan plating. Namanya anak-anak, benda-benda yang lucu dan warna-warni akan menarik perhatian mereka. Maka… tidak ada salahnya Ibu mencoba untuk berkreasi dalam penyajian makanannya. Yang sederhana saja, namun menarik. Apalagi fasilitas sudah banyak saat ini, media referensi juga berjibun dimana-mana. Jangan malas Mommies! Karena makanan adalah nutrisi penting bagi anak kita, investasi jangka panjang!

Kembali ke kisah teman yang anaknya GTM parah hingga berbulan-bulan tersebut, terus terang saya penasaran mengapa anaknya tidak mau makan? Selain karena makan sering di paksa, tidak disiplin… hal lainnya adala menu makannya monoton! Siang itu, saat kami bertemu, di piring si anak hanya ada nasi putih dan tau goreng. Apa? Saya yang dewasa saja tidak tertarik untuk memakannya, apalagi anak kecil. Nasi dan tahu tersebut hanya di kotek-kotek oleh ibunya, namun tidak ada yang berhasil masuk ke mulut si anak. Anehnya, saat Najmi sedang makan pakai ayam goreng, anaknya mau ikut makan. Padahal sebelumnya tidak pernah suka ayam (kata ibunya. masak sih? jangan2 itu hanya anggapan ibunya). Buktinya… anaknya lahap banget makan pakai ayam.

Setelah menganalisa si anak selama beberapa hari *hahaha macam detektif saja :P* , saya cobakan sebuah trik yang banyak saya baca di artikel-artikel keseatan tentang menangani anak GTM. Yakni… menyajikan makanan yang menarik. Saat itu saya sedang menyiapkan sarapan buat Najmi, saya buat dua satu untuk Najmi, satu untuk si anak. Menunya sederhana saja, oatmeal+pisang+keju+coklat. Namun saya sajikan dengan bentuk paman kribo (ada mata dan mulut dr keju, lalu parutan keju dijadikan rambut kribonya). Alhasil? Si anak makan dengan lahap!! Habis.. sarapannya. Siangnya, karena masih penasaran dan barangkali peristiwa sarapan tadi hanya faktor kebetulan, saya buatkan nasi goreng teddy berselimut. Apa yang terjadi? Si anak yang sedang menyusu meninggalkan susu nya dan beralih ke nasi goreng yang saya buat. Dia makan sendiri dan hebatnya… makanan itu habis dalam waktu cepat! Padahal biasanya kalau makan suka lama dan di emut, ini tidak sama sekali🙂 Senangnyaaa….

So Mommies, selain 6 poin di atas, hal utama yg harus dikuasai adalah pemahaman terhadap anak. Apa yang mereka sukai… cara pemberian makanan seperti apa yang menyenangkan bagi mereka… dan buatlah suasana makan yang menyenangkan.

Semoga membantu yaa🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s